Search blog.co.uk

  • Mengejar Cita-Cita (11)

    Kebun Strawberry

    DEMAM bola memang melanda. Anak-anak bikin kejuaraan bola antar komisariat, antar kos-kosan. Tim kos-kosanku sempat menang di lapangan kampus UNS Kentingan di final. Kami pulang membawa kambing sebagai hadiah juara. Meskipun posisiku sebagai pemain cadangan di pertandingan itu, tak peduli, ada foto dan kaos timku yang masih kusimpan hingga sekarang. Kostumku biru nomor 11. Sebagai penggemar bola sejati, seringkali kami menonton pertandingan Pelita Solo di Stadion Manahan. Jangan dibayangkan stadion ini seperti stadion Old Traford di Manchester United, Santiago Barnabeu di Madrid atau La Bombonera milik Boca Junior, Stadion ini bergemuruh saat Pelita Solo memasukkan gol di gawang Persebaya sore itu. Hujan gerimis tak kami pedulikan, perjuangan masuk stadion tanpa karcis memang layak membuat kami ‘bangga’, meskipun kami sering digebuk petugas jaga.

    Acara Latihan Kader pun selalu berbekal bola. Acara yang biasa digelar di kampung ini memang harus menerapkan disiplin, meskipun tidak disiplin-disiplin amat. Yang pasti setiap subuh harus bangun, sholat subuh, kultum sedikit, trus jalan-jalan dan bal-balan, sebelum akhirnya masuk lagi di kelas.

    “Oke.. ada yang ingin mendiskusikan materi kita,” tanyaku pada forum Latihan Kader.

    “Sebetulnya apa perlunya kita membahas masalah ini. Bagi saya tidak terlalu penting kita membahas masalah konstitusi. Konstitusi ini sebenarnya fleksibel saja, menyesuaikan kehendak politik setiap saat.
    Menurut saya, kita bisa berdiskusi masalah lain, masalah sejarah misalnya …” kata Amir, anak peserta LK, “atau masalah keperempuanan” sahut Tika.

    Sari Wulandari yang ‘kranjingan’ kalau bicara masalah keperempuanan, yang sekarang sedang menjadi pembicara dalam sesion diskusi pagi itu, segera mengiyakan. Dalam diskusi keperempuanan ini, nampaknya Sari banyak bereferensi dari kesertaannya di Latihan Kader Perempuan Kohati beberapa minggu sebelumnya. Ada beberapa materi menarik di acara Latihan Kader Perempuan Kohati seperti; hakikat penciptaan perempuan, kedudukan perempuan dalam Islam, ketauladanan dan tanggung jawab muslimah dalam masyarakat, dan lain-lain termasuk urgensi fiqhunnisa’ dalam ajaran Islam.

    Di acara Latihan Kader ini, aku yang hadir di forum itu sebagai senior course melongo saja ketika Sari banyak menerangkan masalah keperempuanan. Peserta latihan juga begitu. Ini hanya beberapa dialog yang sempat aku ingat.

    “Al-Qur’an menempatkan perempuan pada posisi azwajan. Artinya pasangan, mitra sejajar, setara. Maksudnya setara dengan pasangannya, yaitu kaum laki-laki. Perempuan menjadi faktor penentu, sekali lagi penentu, dalam menciptakan sakinah atau kebahagiaan,” Sari menyampaikannya mimik dengan serius, “mewujudkan rahmah, melalui mawaddah kasih sayang. Citra perempuan sempurna pada posisi sentral IBU. Tahu maksudnya? IBU adalah Ikutan Bagi Umat, unit inti dalam keluarga besar. Di Minangkabau disebut bundo kanduang, maka perempuan adalah “tiang negeri”. Penghormatan termulia didapati pada ungkapan, “sorga terletak di bawah telapak kaki ibu”.

    Tanpa jeda, Sari melanjutkan penjelasannya. Tangannya ikut ‘bicara’. Saat itu kami semua duduk lesehan, mengambil suasana lain setelah beberapa sesion sebelumnya duduk di kursi dan mendengarkan pembicara sambil mengantuk. Rata-rata peserta latihan yang perempuan duduk bersimpuh. Berbeda dengan Sari yang duduk bersila sambil menjelaskan kepada peserta. Ia nampak anggun dengan jilbabnya, sementara celana jeans-nya tetap mendukungnya untuk bebas bergerak. Ia nampak betul-betul seperti “perempuan jantan” siang itu.

    “Perkembangannya, globalisasi membawa perubahan budaya yang melahirkan ketimpangan ekonomi dan kesempatan yang sangat menyolok didalam fasilitas, pendidikan, lapangan kerja, hiburan, penyiaran media, antara kota dan kampung. Pergesekan keras dan tuntutan ekonomi menyita perhatian utama seorang wanita tidak mampu “mengangkat wajah” jika tidak memiliki pekerjaan di luar rumah. Perempuan sekarang tidak mesti bergelimang di dapur, sumur dan kasur, tetapi didorong keluar dari rotasi ini, dan mesti masuk ke dalam lingkaran kantor, mandor dan kontraktor….”

    “Wanita ditempatkan pada posisi yang amat mulia oleh Rasul. Tetapi, apa nyatanya, sepanjang sejarah manusia, budaya selalu menempatkan perempuan pada posisi marjinal. Masih banyak terjadi kekerasan pada kita,” Tika, yang sedari tadi ingin menyela, tak sabar memotong arus diskusi.

    “Pada kita? Pada kalian kaliii,” sahut Amir berusaha mencairkan suasana.
    “Ssst… ini serius, dalam diskusi ini kalian adalah musuh kami,” ujar Tika.

    “Kekerasan terhadap perempuan telah terjadi selama ribuan tahun, dilegitimasi oleh berbagai lembaga mapan, dikuatkan oleh tradisi-tradisi dan tafsir agama yang salah, ini diperparah lagi oleh dilanggengkan oleh kekuasaan baik struktural maupun kultural,” Sari kembali mengambil alih, “budaya patriarkhi, dimana perempuan ditempatkan sebagai subordinate dan laki-laki sebagai ordinat, laki-laki yang superior dan perempuan  inferior. Sebetulnya terdapat beberapa kasus yang bisa dikategorikan kekerasan seksual, namun tidak banyak yang dapat mengakomodirnya, pemerintah biasanya kualahan dalam hal ini.”

    Sari juga kemudian mengutip QS An-Nahl ayat 72 dan Ar-Ruum ayat 21.1 Diskusi panjang ini akhirnya terbatas waktu dan diakhiri dengan beberapa pertanyaan yang muncul dari Iwan dan Amir. Apa sebetulnya yang perempuan mau?

    “Kami hanya meminta apa yang menjadi hak kami dalam ajaran agama ini. Seutuhnya. Tanpa dibatasi oleh apapun terutama budaya yang seringkali membelenggu kami,” sahut Tika.

    “Oke… Lalu, apa pendapatmu dengan polygami?” sahut Iwan.

    “Jangan sombong!! Polygami tidak bisa dilakukan dalam kondisi normal. Perempuan tidak perlu dipandang tidak berdaya sehingga mudah untuk di-polygami. Keadilan akan sulit ditegakkan dalam konsisi normal apalagi dalam kondisi tidak normal. Bagi kami keadilan jauh lebih penting daripada polygami itu. Ingat, keadilan lebih penting daripada polygami itu.” jawab Sari.

    “Iya… dalam kondisi normal saja, kami kaum perempuan sulit mendapatkan keadilan. Apalagi dalam kondisi dimadu seperti itu. Bagi kami sebenarnya yang perlu dibicarakan disini adalah keadilannya bukan polygami-nya.” Tika nampaknya mulai kritis.

    Diskusi bersambung saat adzan dhuhur terdengar di Tawangmangu.2 Kota kecil ini berada dibukit yang dingin, banyak kebun strawberry ditanam disini. Pada saat materi lapangan, peserta latihan yang dibebaskan untuk terjun berdiskusi dengan masyarakat setempat, kami gunakan untuk jalan-jalan ke kebun strawberry ini.

    “Heemm… kecut,” aku mencicipi strawberry yang memerah. Sari juga mulai mulai akrab dengan petani strawbery disitu, mungkin ia hendak memborongnya sebagai oleh-oleh pulang ke Solo nanti.

    “Iya.. kecut, seperti bau keringatmu.”

    “Jangan salah. Bau keringatku ini yang membuat wanita tertarik,” sahutku.
    “Ha haha.. Coba kamu jelaskan apa maksudnya!”

    “Survei membuktikan, banyak wanita mengaku menyukai pria yang wangi. Tapi ingat, pilihlah wewangian yang segar dan maskulin, karena jenis wewangian feminin kadang malah tidak disukai. Yang jelas, catat ini, wanita tidak menyukai pria yang bau badan. Cuma masalahnya, bau badan inilah satu-satunya parfum alami yang ada pada pria. Jadi mau tidak mau kamu akan menyukai aroma kecutku.. eh aroma strawberry di tubuhku.”

    “Haha.. eh aku kasih tahu ya. Perempuan itu biasanya berubah-ubah.
    Pertama-tama dia mencari pasangan yang bisa dijadikan tempat bersandar. Untuk alasan ini, penampilan fisik kurang penting bagi wanita daripada kualitas kepribadian. Umur juga bukan faktor yang penting bagi wanita dalam memilih pria. Berbeda dengan pria, yang cenderung mencari wanita yang lebih muda, wanita bisa tertarik pada pria dari segala kelompok umur.”

    “Jadi kamu bisa jatuh cita dengan kakek-kakek dong?”

    “Ini tidak ada hubungannya dengan cinta,” sahut Sari, “kamu bisa saja jatuh cinta dengan siapa saja. Mungkin seringkali jatuh cinta. Tetapi ini adalah perasaan untuk ingin memiliki dan menjadi pasangan hidup. Boleh saja kamu jatuh cinta, tetapi kalau nasib berkata lain mungkin jodohmu bukan dia sama sekali.”

    “Trus.. apa yang ingin kamu jelaskan?”

    “Wanita biasanya menyukai pria yang memiliki beberapa hal dalam kepribadiannya. Misalnya rasa percaya diri, penuh kasih sayang, mandiri dan dominan cenderung dirasakan sangat menarik, seperti juga dapat diandalkan dan setia, juga kehangatan dan perhatian. Pria yang berhubungan dengan wanita dan berbicara dengan bebas terbuka tentang apa yang menarik perhatian mereka, dan menggunakan suara yang bersungguh-sungguh, lebih berhasil dalam hubungannya dengan wanita.”

    Aku manggut-manggut, “tapi apakah ini salah satu bagian dari materi keperempuanan siang tadi belum selesai?”

    “Haha.. Iya. Tapi ini yang bagian rahasianya,” kemudian kami tertawa barsama.

    Sari adalah sosok yang baik. Menurutku dia mandiri dan nampak tidak tergantung oleh siapapun, ia mampu dan merasa mampu untuk melakukan apa yang menjadi keinginannya. Sari sering mengungkapkan keinginannya untuk terus melanjutkan kuliahnya selagi mampu. Beasiswa sana-sini berusaha ia tembus. Ia berusaha menunjukkan bahwa aktivis tidak harus selalu ketinggalan kuliah dan terlambat lulus. Mahasiswa, kita, memang tidak harus terpaku di satu tempat katanya. Kalau memang ijazah kita mampu menolong masa depan kita, tidak masalah. Tetapi seringkali yang dihadapi sebagai tantangan kita adalah kenyataan dan masyarakat di lapangan. Kita harus memiliki jaringan yang luas, sebab relasi yang luaslah yang sebenarnya membuat kita tak perlu khawatir, paling tidak masih banyak teman yang bisa diajak bekerja sama daripada mengandalkan ijazah kuliah semata-mata.

    Menurutnya, ia sendiri bukan dari kalangan keluarga yang terpelajar dan aktivis, atau setidak-tidaknya keluarga muslim yang taat. Keluarganya malah lebih konservatif dan mungkin lebih ‘kejawen’ daripada taat menjalankan agama formalnya: Islam. Itulah makanya ia diberi nama Sari Wulandari, bukan Siti atau nama-nama Arab lainnya. Tetapi, keluarganya makin taat pada agama, ibunya mulai mengenakan jilbab dan naik haji bersama bapaknya beberapa waktu lalu. Keluarganya asli pedagang, itulah makanya ia banyak menggunakan kesempatan untuk balajar tanpa takut kekurangan biaya kuliah atau biaya kos, dan sebagainya. Motivasinya adalah memanfaatkan sebaik mungkin dan merubah sikap keluarganya yang konservatif menuju yang lebih moderat dan Islami. Ia sendiri tidak sulit masuk di pesantren mahal.

    “Keluarga saya mungkin konservatif. Tapi mereka memiliki niat yang sangat kuat untuk membuka diri terhadap pengetahuan dan ingin sekali menjalankan agama Islam dengan baik. Kata Bapak, mereka kagum dengan gerakan Muhammadiyah yang banyak memberikan pencerahan,” kata Sari.

    “Keluarga kakek dan nenek saya yang kental kunonya” lanjut Sari, “tapi Bapak dan Ibu sulit lepas dari kepatuhan kepada orang tua mereka. Makanya, saat aku dimasukkan ke pesantren dulu, ini adalah terobosan besar dalam tradisi keluarga kami. Keluarga kakek murni pedagang, dan mereka hidup, katanya dibawah ‘naungan’ kraton Mataran Solo yang paternalistik.”

    Kami terus berjalan sambil mencicipi buah strawberry. Kami memasukkannya ke dalam keranjang buah. Di daerah Tawangmangu ini, bukan hanya kebun strawberry saja yang tumbuh, tapi juga kebon wortel. Biasanya, di sungai-sungai tepi kebun itu adalah tempat membersihkan wortel dari tanah-tanahnya. Sari berbelanja banyak, ia membeli strawberry, wortel, kol dan hasil-hasil kebun yang ada disitu. Saking banyaknya ia beli, ia minta tolong padaku untuk membawakan keranjang belanjaannya. Ini memang hari terakhir kami mengadakan pelatihan disitu, kami akan pulang sore hari ini, jadi seperti kebiasaan ibu-ibu, atau anak-anak perempuan, mereka membelanjakan banyak untuk oleh-oleh. Cuma capeknya, ya akulah yang kejibah membawakan keranjang belanjaannya. Capek. Tapi senang.

    Tiba-tiba kepalaku seperti kejatuhan strawberry. Mana ada kejatuhan strawberry, pohon strawberry kan merambat, tumbuh di bawah. Aku clingukan. Nampaknya Dewi sudah berteriak-teriak dari tadi memanggil kami berdua. Anak-anak pelatihan sudah selesai turun lapangan dan harus segera kembali. Aku dan Sari rikuh, pekewuh campur malu, nampaknya mereka sudah lama menunggu kami.

    Mereka menggoda kami sepulang acara di lapangan itu. Tika, Iwan, Amir dan beberapa teman peserta latihan nampaknya mulai berbisik-bisik tentang kami. Maksudku tentang materi diskusi kami sebelumnya tentang keperempuanan.

    “Oooh.. Jadi ini nampaknya yang menjadi kesimpulan diskusi keperempuanan kita,” kata Iwan.

    “Iya.. maksudnya, kesimpulannya bahwa sebaiknya laki-laki dan perempuan bisa saling bercanda di ladang strawberry,” sahut Tika.

    “Tika ngomong apa siiih,” Sari malu.

    Sungguh, baru kali ini aku melihat pipi Sari memerah menahan malu.
    Akhirnya pelatihan di Tawangmangu, tempat paling teduh dan merupakan ‘puncak’-nya Solo ini selesai. Kami mengakhiri pelatihan ini dengan semangat yang optimis dan Yakin Usaha Sampai. Upacara penutupan bersama-sama telah selesai, setelah sebelumnya ada evaluasi dan diskusi debat bersama-sama. Lagu Hymne dinyanyikan, beberapa peserta latihan nampak bangga dan menyanyikannya sambil meletakkan telapak tanggannya di dada. Seperti pemain bola yang sedang menyanyikan lagu kebangsaannya saja.**

    CATATAN KAKI
    1 Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nimat Allah? (QS. 16:72). Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:21).

    2 Tawangmangu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tawangmangu dikenal sebagai obyek wisata pegunungan di lereng barat Gunung Lawu yang bisa ditempuh dengan kendaraan darat selama sekitar satu jam dari Kota Solo. Obyek tujuan wisata utama adalah Air Terjun Grojogan Sewu setinggi 81 m. Di tempat tetirah ini tersedia berbagai sarana pendukung wisata seperti kolam renang dan berbagai bentuk penginapan. Dari Tawangmangu dapat dimulai pendakian ke puncak Gunung Lawu, Pos Cemorokandang. Selain itu, dari sini terdapat jalan tembus yang menuju ke Telaga Sarangan di Magetan lewat Cemorosewu.

  • Mengejar Cita-Cita (10)

    Diskusi

    SESUDAH Kongres Cabang, pengurus komisariat naik dan mulai berktifitas di Cabang. Teman-teman mulai lebih banyak lagi, mereka bukan hanya dari fakultas, sekampus saja, tapi pengurus sudah meluas sewilayah Solo. Apalagi Kongres memutuskan untuk mengadakan pemekaran Cabang, Cabang Baru terbentuk: HMI Cabang Sukoharjo.

    Kultur di organisasi ini memang terbuka. Awalnya dulu aku sempat agak kagok ikut organisasi ini. Di kampungku tidak terlalu luas pergaulannya dan tidak terlalu banyak anak yang kritis dengan aktivitas keagamannya. Rutinitas seperti puasa ramadhan, ada ngaji, ramadhan, ada taraweh dan seterusnya. Memang banyak aktifitas mengajinya, tapi hanya sekedar bisa mengaji, membacanya, bahkan teman-teman di masjid, rata-rata pintar qiro’ah dan juara. Tetapi kajiannya sangat sedikit. Kajian yang lebih luas dari itu amat sedikit. Tapi disini, di organisasi ini, kajian dan diskusinya banyak, tapi mengajinya amat sedikit.

    Membincangkan masalah Islam tidak jenuh. Menggugat Tuhan dan segala macam, seperti hal biasa saja. Cahyo sering “petantang-petenteng” membawa buku karangan Ahmad Wahib Pergolakan Pemikiran Islam.1 Hari itu dia juga membawa buku Mahasiswa Mengguga Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998.2 Nampaknya anak ini memang mengalami banyak kemajuan semenjak ikut bergabung di HMI, bukan hanya pintar bicara lagi, tapi juga bisa bicara soal pemikiran Islam.

    Cahyo adalah anak Klaten, daerah dekat Prambanan dan suka nginep di komisariat karena tidak memiliki tempat kos. Ia menunjuk-nunjuk kutipan dalam buku ini dan seringkali menyatakan dukungannya. Ia menunjukkan kepadaku:

    Menurut saya sumber-sumber pokok untuk mengetahui Islam atau katakanlah bahan-bahan dasar ajaran Islam, bukanlah Qur’an dan Hadits melainkan Sejarah Muhammad. Bunyi Qur’an dan Hadits adalah sebagian dari sumber sejarah dari sejarah Muhammad yang berupa kata-kata yang dikeluarkan Muhammad itu sendiri. Sumber sejarah yang lain dari Sejarah Muhammad ialah: struktur masyarakat, pola pemerintahannya, hubungan luar negerinya, adat istiadatnya, iklimnya, pribadi Muhammad, pribadi sahabat-sahabatnya dan lain-lainnya.” (Catatan Harian Ahmad Wahib, hal 110, tertanggal 17 April 1970).

    Dari diskusi kami, catatan ini mungkin memang agak ‘berbahaya”. Tafsiran-tafsiran yang dimunculkan dari membaca tulisan ini bisa bermacam-macam, misalnya. Pertama, Wahib menduga-duga bahwa bahan-bahan dasar ajaran Islam bukanlah Al-Quran dan Hadits Nabi SAW. Ini menafikan Al-Quran dan Hadits sebagai dasar Islam. Kedua, Al-Qur’an dan Hadits adalah kata-kata yang dikeluarkan oleh Muhammad sendiri. Ini mengandung makna yang bisa difahami bahwa itu kata-kata Muhammad belaka. Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah SWT yang dibawa oleh Malaikat Jibril, disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun lebih.3 Ketiga, Al-Qur’an dan Hadits dia anggap hanya sebagian dari sumber sejarah Muhammad, jadi hanya bagian dari sumber ajaran Islam, yaitu Sejarah Muhammad.

    Keempat, Al-Qur’an dan Hadits disejajarkan dengan iklim Arab, adat istiadat Arab dan lain-lain yang nilainya hanya sebagai bagian dari Sejarah Muhammad. Ini menganggap Kalamullah dan Wahyu senilai dengan iklim Arab, adat Arab dan sebagainya. Benar-benar pemikiran yang tak bisa membedakan mana emas dan mana tembaga. Siapapun tidak akan menilai berdosa apabila melanggar adat Arab. Tetapi siapapun yang konsekuen dengan Islam pasti akan menilai berdosa apabila melanggar Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    Tulisan Ahmad Wahib itu merubah pemahaman Islam dari akarnya. Inilah yang menjadi bahan diskusi yang tidak selesai-selesai buat anak-anak mahasiswa yang haus pengetahuan dan pemahaman. Kemudian, Cahyo juga menunjukkan beberapa paragraf yang asyik untuk diskusi hari itu:
    Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia. (Catatan Harian 9 Oktober 1969).

    Agaknya Wahib sudah sangat bosan mendapati sikap-sikap orang sekelilingnya yang cenderung menilai orang lain bukan karena pribadinya tapi lebih karena kepada apa orang itu berafiliasi. Secara kontekstual, pendirian Wahib ini mendapat relevansinya dengan keadaan politik 60-an yang sangat carut-marut. Berbagai faksi politik saling curiga-mencurigai satu dengan lainnya, bahkan sudah sampai pada tahap mengkhawatirkan. Masa-masa ini merupakan masa paling bergejolak dalam sejarah Indonesia. Luka psikologis yang dialami Wahib, yang disebabkan oleh kenyataan yang nampak dihadapannya mulai dari krisis ekonomi yang sedemikian parah, intrik politik yang melahirkan coup pada 1965, pembantaian atas orang yang dituduh sebagai PKI setelah gagalnya coup tersebut, mengajarkannya banyak hal, yang mendorong segenap energinya untuk berbuat sesuatu untuk bangsanya. Dan yang paling dekat ialah pembaharuan pemahaman terhadap Islam.

    Sulit untuk mengimbangi apa yang seringkali disampaikan oleh Cahyo. Bagiku, mendengarkan apa yang dia sampaikan sudah cukup. Penilaianku, Cahyo adalah pembaca yang baik, dengan menjelaskan apa isi buku itu. Masalah tertarik dan memberikan dukungan terhadap apa yang ada di dalam buku itu, itu adalah masalahnya. Ini adalah haknya.

    “Aku adalah semuanya, disitu apa maksudnya Yo?” tanyaku.

    “Aha.. Ini mungkin ia ingin tidak ada orang yang memandangnya hanya berdasar paradigma atau pemikiran tertentu. Ia tidak mau dicap ini dan itu, tapi ia ingin dipandang sebagai manusia utuh. Kamu sendiri kan paham manusia itu bagaimana. Manusia ialah makhluk termulia yang diciptakan Tuhan, dan lebih mulia dibanding makhluk-makhluk lain. Jadi kalau perkembangan pemikiran manusia terjadi, dan pemikiran itu terlembagakan dalam sebuah agama misalnya, dan agama itu membelenggu Ahmad Wahib, itu tidak cukup. Ia ingin menjadi manusia lagi”.

    “Tapi, sebagai muslim, apa kamu akan ingkar terhadap Islam dengan mengatakan bahwa kamu adalah semuanya?”

    “Aku sendiri adalah muslim. Ahmad Wahib juga begitu, jadi tak perlulah kamu cemas, ia bicara ini tetap dalam koridor keimanannya. Masa’, kita tidak boleh mengkritisi keimanan kita sendiri.” Cahyo menjelaskan dengan logat Jawa yang kental.

    Dewi juga begitu, kali ini, buku-buku Nurcholish Madjid yang dibawa dan diperlihatkannya padaku.4 Mungkin dia mengagumi tokoh ini, meski ia sendiri tidak pernah mengaku untuk mengidolakan seseorang.

    “Pemikiran-pemikirannya menarik, mungkin agak cocok denganku,” katanya, memulai berdiskusi dengan kami dan beberapa teman kami saat itu.
    “Kenapa kamu bilang agak cocok?” tanya Cahyo.

    “Pemikiran-pemikiran manusia, kan sebetulnya hanya sebuah upaya ijtihad saja. Artinya bisa-benar-bisa salah. Cuma masalahnya adalah ukuran dalam memberikan pembenaran pada pemikirannya itu, seperti apa. Apakah ketika ia didukung oleh semua kalangan muslim, baik yang radikal sampai liberal, lantas ia dikatakan benar.” Dewi berargumen.

    “Atau kamu mau bilang begini,” sahut Didik, “bahwa yang benar itu tetap teks-teks yang ada dalam Qur’an, sementara hasil penafsirannya bisa mulur-mungkret sesuai dengan kebutuhan zaman, begitu?”

    “Atau hanya Hadits Rasul saja yang bisa kita jadikan kaca penterjemah dalam kehidupan seorang muslim, Dewi?” Cahyo juga penuh tanya.

    “Mungkin juga, apa yang sedang dilakukan oleh Cak Nur ini adalah usahanya untuk menjadikan Qur’an dan Hadist ini lebih bisa ‘dibaca’ oleh kita. Kata Qur’an sendiri kan juga begitu. Iqro’ adalah perintah pertama-tama yang diturunkan kepada Nabi. Membaca-membaca-membaca, sementara dalam Qur’an, mengartikan satu kalimat saja tidak cukup, perlu terjemahan, penafsiran, penilaian dan seterusnya... Jadi tidak pernah ada titiknya.” terang Dewi.

    Sejarah peradaban atau apapun memang tidak selalu berjalan linear. Bak roda pedati yang sulit sekali pada tiap-tiap bagiannya mengalami keajegan final, kadang naik, kadang turun, kadang berhenti sejenak, dan seterusnya. Sesuatu yang sangat wajar, dan barangkali sudah terlalu biasa didengar. Demikianlah sebuah sunatullah kehidupan yang mau tak mau diemban seorang anak manusia. Begitupun persoalan pembaharuan dalam Islam, tak disangsikan lagi merupakan sesuatu yang tidak boleh tidak terjadi.

    Pembaharuan bagi Islam seolah sudah menjadi determinasi sejarah. Ia terus dan akan selalu terjadi, kalaupun tidak, nampaknya memang mesti diadakan. Apalagi bila kata pembaharuan Islam disandingkan dengan hal mana dinamakan kemodernan—yang notabene anak kandung peradaban Barat. Namun, nampaknya pembaharuan dalam Dunia Islam bukan soal diadakan atau tidak. Kalau persoalannya sekadar menjadi diadakannya pembaharuan atau tidak, agaknya membincang pembaharuan boleh dianggap selesai, dan lagi menjadi tidak menarik. Persoalan menjadi lain, manakala diajukan sebuah pertanyaan: bagaimana cara melakukan pembaruan Islam itu?

    Diskusi terus mengalir deras. Dewi ditodong dengan banyak pertanyaan mengenai pemikiran-pemikiran kontoversial Cak Nur, seperti “Islam Yes, Partai Islam No”, kemudian pidatonya yang Bagian pertama buku ini menampilkan kembali makalah Nurcholish Madjid berjudul “Beberapa Renungan Kehidupan Keagamaan untuk Generasi Mendatang” yang dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), 21 Oktober 1992, dan sebagainya. Ia fasih. Nampaknya ia banyak belajar soal itu.

    “Oke.. bagaimana pendapatmu?”

    “Sebetulnya aku cukup senang bahwa agama tidak dibatasi oleh doktrin-doktrin semata. Ilmu harus integrated dengan agama. Saya kira maunya Cak Nur juga begitu, dimana agama itu ‘hidup’, tidak ‘mati’.” Dewi terus bicara. Kami hanya mengangguk-angguk dan sesekali menyela.

    “Mungkin yang agak saya sesalkan, orang seringkali salah faham dengan apa maksudnya. Apriori dulu dengan apa yang dikatakannya dalam pidato-pidato Cak Nur,” lanjut Dewi.

    Diskusi ini seringkali muncul, hilang, muncul lagi. Di HMI memang cocok untuk sekedar diskusi-diskusi masalah ini, wajar, mahasiswa memang selalu menggugat. Kadang-kadang, diskusi belum selesai, dibahas kembali sambil ngobrol di hik. Sambil minum kopi, nasi kucing, nggarang tempe dan sate kerang, membuat penjual mungkin kesal melihat kita. Soalnya, berlama-lama di hik, hingga pembeli baru datang, kita baru menyingkir. “Antri mas!!”.

    Iklim diskusi-diskusi inilah yang seringkali membuka pamahaman-pemahaman baru bagi saya. Wajar, di organisasi ini banyak sekali ragamnya, ada yang dari lulusan pesantren, ada yang berlatar NU, ada Muhammadiyah, bahkan ada yang LDII dan berbagai aliran dan madzab masing masing. Seringkali mereka termotivasi ikut organisasi ini hanya karena mereka ingin bicara dan menggugat pemahaman-pemahaman agama yang ada di otak dan di lingkungannya. Di HMI orang bisa ngomong apa saja tanpa harus dibatasi dengan pemahaman doktriner yang justru mereka ingin lepaskan. Di Komisariat mungkin tidak terlalu ‘berisik’ diskusinya.

    Tapi makin ke Cabang, dimana kampus-kampus lain juga sudah mulai bercampur disitu, dan di Badko Semarang, mereka makin ‘berisik’. Ada yang koservatif, moderat, bahkan ada yang cenderung liberal. Mereka bahkan bukan hanya berdiskusi, ada yang malas, ada yang rajin, dan seterusnya. Organisasi ini rasanya menjadi semacam ‘tempat sampah’ dimana setiap ‘barang’ boleh masuk ke ‘keranjang ini’.

    Diskusi-diskusi ini juga marak ketika saya sudah menjadi senior dan mentor bagi anak-anak baru. Latihan kader buat anak-anak baru seringkali menjemukan. Diskusi melulu memang capek, tanpa aplikasi di lapangan apa gunanya? Dan pada saat inilah, ketika Piala Dunia 2002 berlangsung di Jepang dan Korea, teman-teman tidak konsentrasi berdiskusi. Mereka menunggu pertandingan antara Brasil dan Inggris siang itu. Terpaksa diskusi di acara Latihan Kader dihentikan, sebab aku juga ingin nonton.

    Pertandingan sedang berlangsung. Rivaldo mencetak gol. Segera saja diskusi berubah menjadi diskusi soal bola. Brasil adalah juara dunia empat kali sampai tahun 1994. Tahun 2002 ini kalau dia juara lagi, lima kali sudah Brasil juara. Sementara Inggris baru sekali, tahun 1966 saat dia menjadi tuan rumah. Dan benar saja, ketika Inggris kalah di pertandingan itu, tak tertahan, Brasil menundukkan Jerman di final.

    Lakon di Piala Dunia kali ini adalah Korea. Korea Selatan yang juga menjadi tuan rumah di Piala Dunia ini, lolos ke semifinal setelah mengalahkan Italia perdelapan final, Spanyol di perempat final. Tapi sayang, ia kalah dengan Jerman di semifinal dan Turki di babak perebutan tempat ketiga. Kampus kami yang menyiarkan nonton bersama Korea vs Spanyol gemuruh sepanjang siang itu, berdebar semua. Apalagi saat adu pinalti dilangsungkan. Morientes menangis saat kalah lawan Korea, siang itu.**

    CATATAN KAKI
    1 Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, Penerbit LP3ES, Jakarta 1982. Ahmad Wahib Sampang, 9 November1942–Jakarta, 31 Maret1973, adalah seorang budayawan, dan pemikir Islam. Pernah menjadi anggota HMI namun keluar, dan semasa hidupnya yang singkat banyak membuat catatan permenungan dalam Pergolakan Pemikiran Islam. Kalau saja Wahib tidak menulis catatan harian, dan atau kalaulah Djohan Effendi, teman dekatnya, tidak dapat menemukan catatan-catatan itu, barangkali Wahib tidak akan dikenal sebagai seorang yang amat concern terhadap pembaharuan Islam. Apalagi dengan terbitnya buku catatan harian Wahib, sedikit banyak memiliki gaung gelombang yang resonansinya mengena banyak kalangan anak-anak muda sesudahnya.

    2 Bonar Tigor Naipospos, Muhammad AS. Hikam dkk., Mahasiswa Menggugat Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998. Pustaka Hidayah dan Badko HMI, Bandung 1998.

    3 Allah SWT menantang orang yang ragu-ragu: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS Al-Baqarah: 23).

    4 Prof. Dr. Nurcholish Madjid, populer dipanggil Cak Nur; lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939 – wafat di Jakarta, 29 Agustus 2005 pada umur 66 tahun, adalah seorang pemikir Islam, cendekiawan, dan budayawan Indonesia. Ide dan Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi dan pluralisme tidak sepenuhnya diterima dengan baik di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Terutama di kalangan masyarakat Islam yang menganut paham tekstualis literalis pada sumber ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa paham Cak Nur dan Paramadinanya telah menyimpang dari teks-teks Al-Quran dan Al-Sunnah. Gagasan yang kontroversial misalnya adalah ketika Cak Nur menyatakan “Islam Yes, Partai No?”, sementara dalam waktu yang bersamaan sebagian masyarakat Islam sedang gandrung untuk berjuang mendirikan kembali partai-partai yang berlabelkan Islam. Belakangan terbit buku ensiklopedi besar Nurcholish Madjid, setebal 3.600 halaman.

  • Mengejar Cita-Cita [9]

    Football

    UDARA di Solo selalu cerah. Hidup di pulau Jawa, yang beriklim tropis ini, memang membuat aku selalu membayangkan, kapan bisa hidup di negara yang selalu berhawa sejuk. Jadi tidak perlu berpanas-panas di siang hari untuk sekedar menunggu sore dengan membaca buku atau koran. Tak terasa sudah lama, sejak 1998 berlalu, sudah empat tahun kini Piala Dunia Sepakbola hadir lagi tahun 2002 di Jepang-Korea. Kita semua kembali mengenang peristiwa empat tahun lalu. Kalau saja Pak Harto tidak lengser waktu itu, kita tidak bisa tenang menonton Piala Dunia 1998 di Prancis.

    Ya, topik memang beralih cepat waktu itu: dari reformasi ke Piala Dunia 1998. Saat itu banyak yang menjagokan Argentina yang sudah tidak diperkuat Maradona. Inggris keok oleh Argentina melalui adu pinalti. Ramalan di koran Bola, mengutip ramalan yang berkembang di Inggris, bahwa juara Piala Dunia tahun ini adalah seperti Juara Piala Dunia 1966, karena ada ramalan ‘parabola’. Tapi Inggris sudah kalah. Ramalanku sendiri tidak terlalu jauh dari itu. Piala Dunia tahun 1998 ini pasti tetap ada kemiripan dengan Piala Dunia tahun 1966, yaitu juaranya adalah tuan rumah Piala Dunia. Jadi, juaranya adalah Prancis. Dan Dewi yang ikut menjagoi Brasil di Piala Dunia ini mengakui ramalah saya: hebat sekali ramalanmu. “Oh iya dong!” jawabku.

    Indonesia sebenarnya juga pernah masuk sebagai tim yang pernah merasakan Piala Dunia. Bener, ini piala dunia beneran, tahun 1938 di Prancis juga. Jadi penyelenggaraan Piala Dunia 1998 ini sebenarnya juga mengingatkan kita pada keikutsertaan Dutch East Indie di Piala Julles Rimet waktu itu. Para pemain asli Indonesia maupun warga Tionghoa dan Belanda bergabung dalam tim Hindia Belanda itu. Mereka diantaranya Anwar Sutan, Achmad Nawir, Mo Heng, Hong Djien, Henk Zomers, dan G Van Den Burg.

    Nama-nama mereka mungkin saja masih kurang akrab di telinga kita dibanding skuad tim Olimpiade Melbourne 1956 seperti Djamiat Dalhar, Thio Him Tjiang, Kiat Sek, Ramang, atau Tan Liong Houw yang hingga kini masih melegenda. Kendati bisa disebut berbau keberuntungan, karena Hindia Belanda tampil di Piala Dunia atas dasar penunjukan FIFA sebagai dampak Jepang yang urung tampil di even tersebut, namun kehadiran Dutch East Indies tetap tercatat dalam sejarah sebagai negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia. Namun sungguh sayang pada pertandingan perdananya tim Hindia Belanda sudah harus menghadapi tim favorit, Hungaria. Sedikitnya 9000 penonton yang memenuhi Stade Velodrome Municipal di kota Reims, Perancis, 5 Juni 1938, sore hari itu menyaksikan tim bagaimana tim Hindia Belanda dikandaskan 0–6 (0–4) oleh Hungaria. Diskusi-diskusi mengenai bola inilah yang ramai muncul dalam sebulan ini, Piala Dunia; There is No Cup like World Cup.

    ‘Demam bola’ ini juga melanda kami. Beberapa waktu lalu ada ‘tantangan’ dari aktivis PMII untuk melakukan pertandingan persahabatan. Benar saja, Fuad Gendut segera mengumumkan laga persahabatan ini digelar di lapangan dekat kampus STAIN Kartosuro. Minggu pagi, dengan seragam, ala kadarnya beberapa teman malah sudah lengkap membawa atribut pertandingan, ada bendera dan beberapa minuman dan makanan kecil. Beberapa teman berombongan datang menuju lapangan pagi itu. Dari beberapa komisariat malah sudah menunggu di lapangan sejak pertandingan akan mulai 30 menit kemudian.

    Aku mempersiapkan diri. Ternyata Cahyo sudah mempersiapkan seragam, ia menyewa baju seragam dan dengan bangga terbentuklah tim dadakan untuk pertandingan itu, warnanya biru. Sementara Dewi, Sari, Ririn dan kawan-kawan HMI-wati lain sudah siap ber-’suit-suit’ menyemangati kami. Tim kami ada aku, Cahyo, Bowo dan beberapa anak komisariat lain. Fuad Gendut didhapuk menjadi penjaga gawang, karena dia memang gendut yang diharapkan bisa membuat gawang jadi penuh oleh tubuhnya. Aku jadi bek, Cahyo dan Bowo jadi striker. Kami tak memiliki manajer, kami hanya bermain saja pagi itu. Jujur saja, sebenarnya kami deg-degan dengan pertandingan ini.

    Sementara itu, tim PMII juga tak kalah serunya. Mereka malah sudah mempersiapkannya lebih lengkap. Wasit dan penjaga garis juga sudah mereka siapkan. Seragam mereka kuning dengan banyak kombinasi. Bendera kuning biru PMII juga berkibar. Sungguh baru kali ini kami begitu akrab, sebab biasanya dalam sejarah aktivis di kampus kami PMII, HMI, IMM dan OKP ekstrakampus lain selalu bersaing di kampus, baik rebutan jabatan di BEM, rebutan kader baru, dan sebagainya. Saya malah membayangkan mungkin ini hanya kebetulan, pasca pertandingan persahabatan ini, persaingan itu pasti akan segera muncul kembali.

    “Sekali-kali kita bersahabatlah. Soalnya hanya pertandingan olahragalah yang membuat kita bisa bersalaman.. ha hah,” kata Antok, anak PMII yang pagi itu menyandang sebagai kapten tim.

    “Haha..” kami semua tertawa.

    Biar agak ada nuansa pertandingannya, Antok mengajak pada kami untuk menyayikan lagu Hymne dan Mars masing-masing tim. Kami ikut saja. Setelah Hymne kami dinyanyikan, berikutnya Mars mereka dinyanyikan. Kami berjajar urut seperti pemain profesional. Kami juga pura-pura seperti pemain sungguhan.

    Priiit… wasit meniup peluit panjang. Para pemain PMII lebih cekatan dan nampaknya mereka memang sering bermain. Awal-awal kami selalu kewalahan dan tentu saja membuat suporter kami seringkali menjerit-jerit cemas. Tendangan-tendangan mereka memang akurat dan terkontrol, hampir sepanjang pertandingan ini, sejak peluit berbunyi, tim kami bertahan terus. Menutup gerakan lawan, hanya itu yang bisa kami lakukan. Fuad Gendut berjibaku dengan gerakannya yang tambun.

    “Tenang saja Ndut, aku didepanmu”

    Untung saja, Fuad Gendut mampu memanfaatkan badannya yang lebar untuk menutupi gawang. Tiap kali bola lolos dariku, Fuad dengan seluruh badannya, termasuk perut, pantat dan kepalan tangannya, mampu mengusir bola. Bahkan Fuad Gendut mampu menyelamatkan beberapa bola. Antok yang menjadi striker merangkap kapten tim lawan, sampai geleng-geleng kepala.

    Aku sendiri hanya bisa melakukan aksi ‘sapu bersih’ bola yang ada didepanku, yang penting bola menjauhi areal kotak penalti kami. Fuad Gendut yang menjadi kiper kami seringkali harus berjibaku menyelamatkan bola. Untung bola cepat lewat, pertandingan tanpa gol di 30 menit pertama. Aku tidak tahu, pertandingan dan aliran bola berjalan begitu cepat. Setelah bola kutendang jauh dari area kami, nampaknya Cahyo menerima dan menggiringnya ke depan. Aku sendiri masih terjatuh ketika teman-teman berteriak ‘gool’ dan berlari berhamburan. Nampak Bowo naik ke punggung teman-temannya sembil mengacung-acungkan tangannya seperti Muhammad Ali habis meng-Knock Out George Foreman pada tahun 1960-an.

    Aku baru sadar Bowo mendetak gol, dan seusai pertandingan dia bangga sekali dengan gol itu. Dia bangga sekali. Selanjutnya per-tandingan lebih berjalan imbang, kami lebih percaya diri menghadapi pertandingan ini.**

    Catatan Kaki:
    Maksud ramalan ini adalah, ketika susunan juara Piala Dunia di ‘poroskan’ dari kemenangan Italia tahun 1982, maka Piala Dunia tahun 1998 mungkin akan sama dengan tahun 1966. Lihat saja; sebelum dan sesudah Italia juara tahun 1982, Argentina adalah pemenangnya, yaitu 1978 dan 1986. Demikian pula, sebelum tahun 1978 dan sesudah 1986, juaranya adalah Jerman, yaitu tahun 1974 dan 1990. Demikian pula sebelum dan sesudah Jerman juara di Piala Dunia itu, Brasil adalah juaranya, yaitu tahun 1970 dan 1994. Dengan demikian Piala Dunia tahun 1998, yaitu Piala Dunia sesudah tahun 1994 dimana Brasil juara, maka tahun 1998 ini akan identik dengan Piala Dunia sebelum tahun 1970 dimana Brasil menjadi juara, yaitu Piala Dunia 1966. Piala Dunia tahun 1966 memunculkan juara yaitu Inggris. Inggris pula yang menjadi tuan rumah. Kemiripan piala dunia 1966 dan 1998 tetap ada, sesuai dengan ramalan parabola itu: Tuan Rumah Piala Dunia adalah Pemenangnya. Prancis 1998 = Inggris 1966.

    Hymne HMI: Bersyukur Dan Ikhlas, Himpunan Mahasiswa Islam, Yakin Usaha Sampai, Untuk Kemajuan. Hidayah Dan Taufiq, Bahagia HMI. Berdo’a Dan Ikrar, Menjunjung Tinggi Syi’ar, Turut Qur’an Dan Hadits, Jalan Keslamatan, Ya Allah Berkati, Bahagia HMI.

  • Mengejar Cita-Cita (8)

    Ummu Hani

    TEMAN-TEMAN memang baik. Beberapa hari kemudian aku dan Hani berkencan untuk menonton film di gedung film Taman Sriwedari. Tahukah betapa sulitnya menjadi orang yang tidak bisa bergaul ’normal’. Acara-acara seperti inilah yang sulit untuk diikuti ritmenya. Mau bicara soal rutinitas di kampus, pastilah menjemukan sekali. Dan tentu saja tidak tepat. Maksudku, untuk apa bicara seperti ini pada saat jalan-jalan di Taman Sriwedari. Disini adalah saatnya untuk bicara, mungkin masalah asmara, keindahan cita-cita masa depan, atau harapan dan keinginan hidup ‘normal’. Atau mungkin soal perilaku, horoskop, dan ramalan-ramalan bintang.

    Ingat! aku sedang berjalan dengan Hani. Kamu tahu siapa Hani? Aku pernah membaca buku sejarah nabi berjudul Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasar Sumber Klasik dan aku juga sempat meresensinya.1

    Aku membaca buku ini berulangkali. Aku terpesona dengan cerita-cerita yang sungguh menakjubkan dan kadang-kadang ‘berbeda’ dengan kisah nabi yang pernah aku tahu. Apa perbedaanya. Tentu saja saya seperti membaca kisah yang aku sendiri terlibat didalamya. Terutama keterlibatan keyakinan terhadap perjuangan Islam, agama yang saya yakini. Berikut kutipan resensi itu:

    … Setelah Ibunya meninggal, dan kakeknya Abd Muthalib juga meninggal, Muhammad remaja ikut bersama pamannya Abu Thalib. Muhammad kini telah melewati usianya yang keduapuluh. Pada saat itu, pamannya sekaligus pelindungnya Abu Thalib, memiliki tiga orang putera: yang tertua, Thalib, sebaya dengan Muhammad, Aqil, berusia sekitar tiga atau empatbelas tahun dan Ja’far, masih berusia empat tahun. Muhammad sepermainan dengan mereka, Ja’far ia sayangi karena cerdas dan tampan. Ja’far pun membalas kasih sayang dari sepupunya itu dengan kesetiaan yang tak kunjung pudar. Sikap kasih Muhammad yang masih muda itu juga muncul bukan hanya dengan saudara sepupunya. Tapi ia juga mempunyai ‘rasa’ cinta dan ‘naksir’ pada perempuan. Dan Martin Lings menceritakan kisah ini dengan bahasa yang amat sederhana. Termasuk kisah kegundahan Muhammad ketika Abu Thalib menolak pinangan Muhammad terhadap Ummu Hani.

    Abu Thalib juga mempunyai beberapa puteri. Diantara mereka adalah ada yang telah mencapai usia nikah. Namanya adalah Fakhitah, namun kemudian ia dipanggil dengan Ummu Hani dan senantiasa dikenal dengan nama itu. Rasa cinta tumbuh antara dia dan Muhammad. Kemudian, Muhammad memohon kepada pamannya agar diijinkan menikahi putrinya. Namun, Abu Thalib memiliki rencana lain. Hubayrah, putra saudara saudara ibu Abu Thalib yang berasal dari Bani Makhzum, juga telah melamar Ummu Hani. Hubayrah bukan saja seorang pria yang kaya raya, tetapi juga seorang penyair berbakat, seperti halnya Abu Thalib sendiri. Terlebih lagi, kekuasaan Bani Makhzum di Mekah demikian meningkat seiring dengan semakin merosotnya kekuasaan Bani Hasyim. Kepada Hubayrahlah Abu Thalib menikahkan putrinya, Ummu Hani. Ketika kemenakannya kembali mendekatinya dengan lembut, Abu Thalib hanya menjawab, “Mereka telah menyerahkan putri mereka untuk kawin” –tak diragukan, ia menujuk ibunya sendiri (Aminah berasal dari Bani Makhzum)- “maka seorang pria yang baik haruslah membalas kebaikan mereka’. (hal 50-51). Tentu saja jawaban itu tidak memuaskan Muhammad. Tetapi ia menerima pernyataan pamannya tersebut. Dengan sopan, ramah, dan lapang dada, ia mengakui bahwa dirinya belum siap untuk menikah. Inilah yang diputus-kan untuk dirinya.

    Tapi cinta bukan sekedar nama. Nama Hani memang berkesan bagi nabi, dan tentu saja bagiku. Nama ini indah dan memiliki kesan yang baik. Tapi cinta tidak berjalan sesuai dengan sempurnanya sesuatu yang diinginkan oleh manusia. Berjalan bersama Hani malam itu berjalan tanpa kesan dan seusai nonton, kita pulang ke kos masing-masing dan sesudah itu lupa. Bahkan kami tidak sempat berbicara apa-apa, aku malah tidak ingat film apa yang dilihat, mungkin film horor. Oh bukan, film Ada Apa Dengan Cinta, film yang sedang ramai ditonton saat itu.2

    Hari berikutnya, kampus kembali normal. Aktivitas masuknya mahasiswa baru dan OSPEK di kampus nampaknya akan mewarnai media kampus kita berikutnya. Heboh beberapa kabar mengenai ‘penganiayaan’ mahasiswa baru di OSPEK dan ‘rebutan’ kader untuk masuk di OKP ekstrakampus dihadirkan pada edisi ini.

    Beberapa wartawan kita sebar untuk mengorek informasi sebanyak banyaknya tentang berita ini. Dan setelah beberapa malam begadang di kampus untuk menyelesaikan tulisan, editing hingga finishing, selesai juga cetakan koran dan kami menyebarkannya ‘gratis’ di beberapa fakultas. Kita tidak menduga beberapa berita yang diturunkan ini menarik banyak perhatian mahasiswa. Terutama mahasiswa ekonomi yang merasa di diskreditkan karena ada berita tentang penganiayaan mahasiswa baru OSPEK. Praktis, beberapa hari kemudian kami kedatangan banyak tamu yang melakukan ‘protes’ dan komplain terhadap berita tersebut.

    Pertemuan berlangsung seru. Teman-teman dari Fakultas Ekonomi meminta bukti terjadinya kekerasan tersebut kepada kami. Tentu saja kami berusaha sebaik-baiknya memberi penjelasan mengenai kebenaran berita tersebut melalui beberapa wawancara yang kami lakukan. Wawancara ini juga dilakukan terhadap korban dan para senior di Fakultas Ekonomi. Cuma saja, kami memang agak nakal, meski sebenarnya kami juga berhak menyelidiki kebenaran berita ini melalui wawancara yang ‘tidak kentara’. Maksudnya wawancara tanpa menyebut identitas kami sebagai wartawan kampus. Pertemuan ini makin memanas. Tetapi, kami punya strategi yang mungkin bisa melunakkan pertemuan. Wahyu berinisiatif supaya Hani, pada pertemuan itu mengusulkan adanya hak jawab dari BEM Ekonomi yang dimuat di edisi berikutnya.

    “Kenapa harus Hani?” bisikku pada Wahyu.

    “Dia Mahasiswa Ekonomi, suruh dia bicara lembut!!”

    “Oke..Oke”

    Sesudah kami briefing sejenak, Hani yang sedari tadi duduk di belakang dan cenderung bersembunyi, kami tepuk-tepuk bahunya. Benar saja, kekhawatiran dengan buntunya pertemuan ini akhirnya selesai dengan kesepakatan yang diusulkan Hani. Sesudah itu, pertemuan selesai.

    Waktu berjalan begitu cepat, beberapa kali upacara wisuda diselenggarakan kampus ini. Namun, kapankah aku mampu segera mengikuti acara ini sebagai wisudawan belum juga terbayangkan kapan terjadi. Nampaknya aku harus mengkonsentrasikan diri segera menyelesaikan kuliah. Beberapa aktivitas diluar kuliah mulai aku kurangi. Dan ada harapan. Tahun ini harus selesai. Bertemu kembali dengan teman-teman se-fakultas yang rata-rata sudah pada mulai ujian akhir, membuat saya agak grogi. Mereka menganggap, kadang-kadang saya ini masih anak remaja ‘puber’ saja. Masa’ kuliah di Teknik, yang kerjaannya menghitung, ilmu pasti, aktifitasnya di Pers Kampus, yang biasanya digeluti anak-anak sosial. Kadang-kadang, di fakultas, teman-teman bilang, “ah.. lama sekali tak jumpa kawan, wajahmu sudah nampak seperti koran”.

    Aku memang menyukai kegiatan ini, kegiatan ini tidak membatasi ilmu dan aktifitas. Menentukan tema, peliputan, menulis, mengedit, berkartun, menyeting, mencetak, berdistribusi koran adalah kegiatan yang menyenangkan. Biasanya wartawan dituntut serba bisa. Dia harus cepat menguasai peristiwa, menyambungnya dengan referensi-referensi yang relevan dan mela-kukan konfirmasi-konfirmasi yang diperlukan. Menjadi aktivis selama mahasiswa mengasikkan. Hoby ini kontan membuat aku seringkali terlena. Bersemester-semester berikutnya, aku baru sadar, kesibukan inilah yang mengantarkan aku untuk tidak lulus-lulus. Sementara teman-teman di fakultas sudah pada menyelesaikan skripsi mereka.

    Mengejar ketertinggalan kuliah memang tidak enak. Kayaknya aku harus memiliki kos sendiri agar bisa lebih konsentrasi. Berikutnya, resep ini lumayan manjur. Setahun kemudian, aku sudah melakukan ujian akhir skripsi dan tinggal menunggu upacara wisuda. Wisuda berlangsung dan topi wisuda beterbangan seusai acara itu. Bapak dan Ibu hadir, mereka nampak berbahagia sekali.**

  • Mengejar Cita-Cita (7)

    Hunting Berita

    INGAT Viviana Margaretha Fangi yang kabur, aku juga jadi ingat teman-teman lain di Pers Kampus. Mahasiswa-mahasiswa beragam motivasinya ikut kegiatan Pers Kampus ini. Malah, yang membuatku agak ‘ge-er’, kata Sri Asih, teman seangkatanku di unit kegiatan kampus ini, ada yang motivasinya hanya naksir aku. Oohh hatiku berdebar-debar mendengar pengakuannya.

    Menjadi aktivis mahasiswa, memang menarik kalau ada bumbu-bumbu cerita cinta. Tapi untuk tidak menjadi kebablasan, cerita-cerita itu penting untuk diingat kembali di masa depan. Di HMI ada kisahnya sendiri, di Pers Mentari ini, tentu saja juga ada. Tinggal kapan aku mau menceritakannya.

    “Tapi aku tidak mau bilang siapa dia,” kata Asih, “aku tidak ingin membuatmu ge-er saja. Cari saja sendiri siapa dia. Mudah sekali melihat cewek seperti ini.”

    “Ah aku tidak peduli”. Saat itu aku memang tidak begitu peduli dengan hal-hal seperti itu. Bukan aku tidak menghargai perempuan, tetapi pikiranku jika meghadapi masalah-masalah seperti ini adalah ‘bagaimana mungkin menjalin hubungan dengan perempuan, sementara diriku saat ini hanyalah mahasiswa kutu-kupret yang tidak jelas masa depannya’. Jadi, ketika Asih memberikan beberapa obrolan soal cewek di UKM ini, ketertarikanku hanya sebatas menggoda dan mengimbangi pembicaraannya saja.

    Selain Asih, ada teman-teman ‘unik’ lain yang wajahnya selalu cerah dan menggembirakan. Bersama Asih ini, kami sering berjalan-jalan sambil meliput berita. Asih orangnya memang unik lagi cerdas. Ia seperti mengetahui banyak hal, namun sepertinya juga pengetahuannya itu tidak tuntas. Kalau berdebat bersama-teman-teman ia selalu tidak pernah mau mengalah, usul-usul tema selalu ada dari benaknya. Tetapi ketika presentasi soal tema yang diajukannya itu, ia selalu berhenti mendadak. Walhasil, seabrek tema yang diajukan, selalu gagal menjadi tema utama kami. Yang paling sering ia tenteng adalah buku karangan Wiji Thukul, dan Soe Hok Gie.

    Buku Wiji Thukul, yang berisi puisi ini ia selalu bacakan dihadapan teman-teman saat mempresentasikan idenya tentang tema penculikan mahasiswa dan aktivis 1998.1

    Begitu juga buku-buku karangan Soe Hok Gie yang ia bawa.2 Obrolan kami berlanjut di ‘hik’ warung kaki lima khas Solo. Sambil memilih lauk, tempe, sate kerang, bakwan, tahu, yang kamudian kami hangatkan di tungku hik, obrolan berlangung hangat.

    Asih selalu bilang pada kami bahwa sebagai mahasiswa ia harus membela rakyat kecil. Ya.. rakyat kecil seperti dirinya juga. Saya tahu kadang-kadang anak ini memang memiliki idealisme tinggi membela masyarakat yang masih miskin. Katanya, hanya orang miskinlah yang paham soal kemiskinan dan ketidakadilan. Baginya, negara ini memang tidak pernah ambil pusing dengan kemiskinan, seringnya rakyat kecil ditinggalkan. Buruh-petani harus dibela, katanya. Ujung-ujungnya aku tahu, anak ini memang suka berpemikiran “kekiri-kirian”. Ia merasa lebih cocok masuk PRD, Partai Rakyat Demokratik yang sempat ikut pemilu 1999.3

    Meski ia tidak menjadi pengurus teras di organisasi itu, simpatinya pada kegiatan ini cukup wajar. Belakangan ia malah membawa buku tentang sejarah pergerakan pemuda-pemuda dunia zaman abad ke-20 karya Yozar Anwar.4 Kemudian berusaha menjelaskan padaku bagaimana tema-tema Novel Pramoedya Ananta Toer yang banyak dan tebal-tebal itu.5

    Asih memprotes keras aksi pembakaran buku-buku kiri yang sempat dia perkenalkan padaku beberapa waktu dulu. Seperti opini-opini yang muncul waktu itu, ia mengatakan bahwa kalau memang tidak setuju dengan pemikiran sosialis atau kiri, mestinya tidak perlu melakukan pembakaran buku-buku ini. Membakar buku adalah tindakan bodoh, seperti yang pernah dilakukan oleh Mongol terhadap perpustakaan di Baghdad ratusan tahun lalu.
    “Coba saja, kalau misalnya buku-buku di perpustakaan di Baghdad dulu tidak dibakari oleh tentara Mongol yang menyerbu di Irak, dunia ini sudah lebih maju seratus tahun,” sesal Asih.

    “Kalian semua akan menyesal membakar ilmu. Ilmu itu sesungguhnya netral, tak perlu harus ditakuti. Kalau memang kalian takut dengan pencuri, pelajarilah ilmu mencuri supaya bisa menangkap pencuri. Jadi ilmu itu tergantung penggunaannya.”

    Bersama Asih pula kami sering berdiskusi mengenai sejarah bangsa ini, termasuk keterlibatan paham kaum sosialis dalam memperjuangkan kemerdekaan. Asih juga fasih menjelaskan peran orang-orang sosialis, yang kebetulan didominasi oleh masyarakat Tionghoa. Sejarahnya memang panjang. Waktu kami berjalan-jalan sambil meliput keindahan panorama Kota Solo, kami berdua tidak mungkin untuk tidak kluyuran di daerah pecinan, benteng Vastenburg dan Istana Mataram Surakarta.

    Setelah naik bis Atmo dari depan kampus, aku dan Asih, sambil menenteng tustel, turun di depan ‘reco ngGladag’. Mungkin hanya bis inilah yang tersisa, meskipun kami berharap masih menemukan bis tingkat khas Solo.6 Bis tingkat ini memang hanya menempuh rute Kartasura-Palur. Duduk di ‘lantai atas’ bis ini mengantar kami sampai kota sehingga sesekali kami bisa melihat kanan kiri jalan dari atas bis. Turun di Gladag, perjalanan hunting kali ini dimulai dari jalan-jalan menyusuri benteng Vastenburg yang waktu itu masih utuh dan belum roboh bangunan di dalamnya, aku memotret-motret sambil sesekali melihat kagum dengan benteng ini.

    Setelah menyusuri reruntuhan Mall ‘Matahari mBeteng’ yang masih belum dibangun lagi pasca-Mei 1998, aku dan Asih menyusuri Alun-alun Lor dan memasuki sitihinggil kraton dan masuk ke museum kraton. Sambil membeli blangkon khas Solo, aku dan Asih, bahkan diizinkan masuk ke perpustakaan kuno kraton ini. Asih yang memakai celana jeans, diwajibkan memakai kain yang menutupi celana jinsnya. Ada beberapa Koran Kuno seperti Soerabaiasche Niews Handelsblad, Nieuwe Vorstenlanden dan lain-lain, yang aku sendiri tidak begitu ingat. Tumpukan koran itu sebenarnya sudah dijilid, tetapi karena usia, mereka lapuk dan kotor sekali, tidak terawat dan penuh debu.7

    Sepanjang jalan Asih mengajak berdiskusi tentang keterlibatan Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905 yang lahir di Surakarta. Sarekat Dagang Islam tumbuh dan berkembang dari Rekso Roemekso yang didirikan oleh Haji Samanhoedi bersama beberapa saudara, teman dan pengikutnya. Rekso Roemekso adalah sebuah perkumpulan tolong-menolong untuk menghadapi para kecu yang membuat daerah Laweyan tidak aman. Oleh karena itu, organisasi tersebut, seperti yang diperlihatkan oleh namanya, ’penjaga’, adalah sebuah organisasi yang bertugas mengawasi keamanan daerah.

    Di bawah pimpinan Haji Samanhoedi perkumpulan ini berkembang pesat hingga namanya diubah menjadi Sarekat Islam (SI). Hal ini dilakukan agar organisasi ini tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain seperti politik. Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak terlihat adanya unsur politik, tapi dalam kegiatannya SI menaruh perhatian besar terhadap unsur-unsur politik dan menentang ketidakadilan serta penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Artinya SI memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda. Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan. SI berkembang pesat, pada waktu diajukan sebagai Badan Hukum, Gubernur Jendral Idenburg menolak. Badan Hukum hanya diberikan pada SI Lokal. Dengan perubahan waktu akhirnya SI pusat diberi pengakuan sebagai Badan Hukum pada bulan Maret tahun 1916. Setelah pemerintah memperbolehkan berdirinya partai politik, SI berubah menjadi partai politik dan mengirimkan wakilnya ke Volksraad tahun 1917.

    SI mengalami perkembangan yang lebih pesat dibandingkan Budi Oetomo dan mulai disusupi aliran Revolusioner Sosialis. SI tidak membatasi keanggota-annya hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. SI sebagai organisasi besar akhirnya terpecah setelah disusupi oleh orang-orang yang telah dipengaruhi oleh paham sosialis. SI pecah menjadi SI Putih yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan SI Merah yang dipimpin Semaoen.
    “Jadi, tahu kan kamu Na’im, sebenarnya kegiatan-kegiatan sosial inilah yang mengilhami perkumpulan ini. Organisasi modern bangsa ini awalnya ya SDI ini, bukan Boedi Oetomo.” jelas Asih.

    “Oh ya. Kamu mau mengatakan bahwa hari kebangkitan nasional mestinya tanggal lahir SDI kan?” jawabku.

    “Bukan begitu, tapi sejarah memang tak boleh dilupakan. Tanggal kebangkitan nasional, bagiku bisa kapan saja, boleh hari lahir Boedi Oetomo atau hari lahir siapa saja, tanggal itu hanya peringatan saja bahwa bangsa ini memiliki kesadaran bersama yang perlu selalu diingat. Mungkin dulu perdebatan tanggal ini penting, tapi sekarang ini mungkin orang tak begitu peduli lagi bagaimana tanggal itu muncul, saat ini bangsa ini sudah tidak senasib lagi seperti dulu”

    “Maksudmu?”

    “Kebangkitan nasional ada karena perasaan senasib dijajah Belanda. Tapi sekarang, apa kita senasib lagi? Kita banyak mengalami ketimpangan ekonomi, sosial, kesejahteraan, sentralisasi kekuasaan dan banyak hal yang membuat kita tidak senasib lagi sebagai bangsa. Mungkin pantas saja Papua, Aceh, dan daerah-daerah tertinggal lainnya minta merdeka, sebab ketertinggalannya dengan Jawa sangat jauh. Apa makna kebangkitan nasional bagi mereka sekarang? Apa sekedar tanggal lahir Boedi Oetomo atau SDI saja?”

    “Ya.. Mungkin perlu ada hal baru dengan makna kebangkitan, kalau perlu ada hari kebangkitan baru, bangkit untuk melakukan desentralisasi, haha..”

    Akhirnya kami menemukan bis tingkat yang membawa kami pulang ke kampus. Bis ini memang makin jarang, mungkin hanya dua atau tiga bis yang masih dioperasikan di Solo. Duduk di lantai atas bis ini, apalagi kalau agak di sisi kiri, kadang harus menghindari dedaunan yang nyelonong masuk lewat pintu jendela bis. Tapi kami tidak terganggu, kami terus ngobrol kesana kemari sambil menyeruput es degan yang dibungkus plastik di Pasar Klewer tadi.

    Di Pasar Klewer memang khas pemandangannya. Suasananya juga khas, ’djadoel’ banget. Seringkali,kalau melewati tempat ini, ada sebuah mobil pick-up di pojok alun-alun lor, tepat di pintu gerbang pasar, yang memasang toa tinggi dan menyetel kaset jualan obat panu dan sebagainya. Dengan gaya khasnya, penjaja obat ini, melalui rekamannya di kaset ini memekakkan telinga para pengunjung pasar. Untuk yang ini, nampaknya anda harus membuktikan sendiri kekhasan pasar ini.

    Tak terasa obrolan kami berlanjut terus hingga pulang kembali ke kampus. Di depan Hani dan Wahyu sudah menunggu kami di kantor. Kami akrab. Namun, tiba-tiba begitu mendekat pada Hani dan Wahyu, Asih sungkan dan agak menjauh dariku, juga Wahyu. Awalnya aku tidak menyadari itu, sejauh ini kita tidak ada masalah. Nampaknya, menjauhnya mereka adalah memberikan kesempatan padaku dan Hani untuk berduaan saja. Beberapa saat kemudian aku baru berfikir, terutama tentang ucapan Asih beberapa waktu sebelumya, bahwa ada yang naksir meski tak berusaha membuatku ge-er. Ooh, Hani rupanya. Hani menurutku mudah bergaul, supel tetapi terlalu malas bicara masalah politik, sosial, kecuali ekonomi yang memang menjadi jurusan kuliahnya. Hani cantik semampai, orang-orang mengatakannya, ia pantas menjadi Putri Indonesia, atau kalaupun tidak, ya sekedar Putri Kampus pun tak masalah. Mungkin artis yang cocok menjadi referensinya adalah ‘Luna Maya’.

    Pas kedatangan kami, Wahyu yang ngobrol dengan Hani, tiba-tiba menghentikan percakapannya dan mendehem pamit. Begitu pula Asih. Ini membuat Hani tak enak hati, begitu pula aku.

    “Ehm.. Aku ke toilet dulu yah,” kata Wahyu.

    “Aku juga,” Asih juga tiba-tiba.

    Untuk menormalkan suasana, aku menyahut, “Jangan di toilet yang sama lho! Toilet juga ada jenis kelaminnya.”

  • Mengejar Cita-cita (6)

    Booming Media

    DEMONSTRASI 1998 adalah peristiwa besar bagi mahasiswa. Namun sayang, peristiwa ini terasa begitu cepat. Setelah Pak Harto lengser, aku justru merasakan kejenuhan; sudah tidak ada aktifitas demo lagi. Kita lebih sering mengamati TV saat Amien Rais, Gus Dur, Mega terpilih, sampai pelengseran Gus Dur tahun 2000. Pergerakan politik saat itu memang relatif cepat. Tentu jauh lebih cepat dibanding pada era Orde Baru yang 30-an tahun tanpa perubahan sama sekali. 1998 menuju 2000 ini, perubahan politik bisa setiap menit terjadi, bahkan tiap detik bisa terus berubah.

    Gatal rasanya, tidak mungkin diam saja duduk di bangku kuliah dan melakukan rutinitas belajar mengajar yang menjemukan. Kadang-kadang, jika dihitung, aktivitas di luar jam kuliah ini lebih luas daripada di kelas. Banyak teman-teman yang senasib denganku. Mereka lebih sering mendiskusikan masalah lain.

    Masa kuliah, memang masa yang paling menggairahkan dalam hidup. Sampai-sampai ada yang bilang dibalik keputusasaannya, jangan lulus dulu, sebab jika status mahasiswanya hilang malah jadi penganggur.

    Menjadi aktivis di kampus memang mendadak keren pada 1998. Anak-anak mahasiswa baru, tak sepi-sepinya berkunjung ke UKM Pers Kampus ini, mereka sering menanyakan kapan bisa jadi wartawan kampus, bahkan ia bilang, kapan ada demo lagi? Dari yang benar-benar bermotivasi atau hanya sekedar iseng mampir dan mencari kenalan.

    “Apa hobymu?” tanyaku pada seorang mahasiswi baru yang ingin bergabung. Aku yakin, mahasiswi ini punya semangat yang tinggi untuk menjadi aktivis. Tidak salah memang, ia datang di tempat yang tepat, Lembaga Pers Kampus Mentari.

    “Mendengarkan musik,” jawabnya.

    “Musik apa yang kau suka? Siapa penyanyinya?”

    Dia bilang “Wet-Wet”. Tentu aku yang agak kuper soal musik, menyembunyikan kekurangpahamanku soal ini. Agar tidak ketahuan kuper, aku sok tahu saja. Dan jauh sesudah itu, aku baru paham kalau ‘Wet-Wet” itu nama sebuah kelompok musik di Australia atau, mungkin Selandia Baru, atau aku tidak paham.

    “Bagaimana kamu bisa masuk kesini, ada UKM musik yang bisa kamu ikut?”

    “Aku ingin jadi wartawan.”

    “Siapa namamu?”

    “Vivi.. Viviana Margaretha Fangi.”

    “Peristiwa apa yang kamu anggap penting buat diliput?”

    “Gosip.”

    Banyaknya anak mahasiswa baru yang ingin ikut bergabung, membuat aku lupa, tidak ingat semuanya. Sebab, hanya beberapa saja yang bertahan, dan ini bukan termasuk Vivi. Sekian bulan, sekian semester, aku baru melihatnya kembali saat berpapasan. Ia pun mungkin juga telah lupa. Yang ada di fikiranku, mungkin anak ini ‘hilang’ karena Koran Mentari tidak pernah menyediakan rubrik gosip di halamannya.

    Koran mahasiswa memang aneh, kita sok idealis, padahal menurutku, mungkin juga menurut Vivi, rubrik gosip memang perlu ditampilkan. Benar juga, setelah tidak ada lagi berita tentang reformasi, tidak ada lagi demonstrasi dramatis dan kumpulan gambar-gambar sadis polisi yang memukuli mahasiswa, koran ini tak kunjung laku dibaca, biarpun tetap dibagikan gratis.

    Mungkin juga, maunya teman-teman, koran ini tidak boleh terjebak pada selera pasar dengan menulis gosip yang tak bertanggungjawab. Tidak terjebak menjadi ‘media kuning’, inginnya malah menjadi ‘pahlawan’ seperti TEMPO, DeTIK, Editor yang pernah dibreidel pemerintah tahun 1994.

    Vivi agak putih kulitnya. Perawakannya kurang proporsional, rambutnya ikal, tubuhnya gemuk pendek. Tapi nampaknya ia lincah dan, menurutku sebenarnya ia pantas menjadi seorang wartawan. Maksudku wartawan gosip. Sebab aku lihat, ditangannya selalu menenteng buku harian kecil yang mencatat berbagai hal seputar pergaulannya dengan teman-temannya. Buku harian kecil inilah sebetulnya yang menarik perhatianku. Tidak semua orang, tidak setiap mahasiswa disini memiliki kebiasaan mencatat kegiatan sehari-harinya dalam sebuah buku. Kalaupun ada, akupun sulit konsisten melakukan aktivitas ini.

    Berikutnya, agak menyesal aku, ia menghilang dan tak kembali lagi. Mungkin ia merasa kecewa, atau ia mencari media lain yang mau menampung bakatnya sebagai seo-rang pengosip. Eh, ya, mungkin kata itu yang paling cocok untuk menggambarkannya.

    Ada lagi Ipung, aku sendiri lupa nama aslinya, ia terobsesi sebagai fotografer. Dan satu-satunya kegiatan mahasiswa yang bisa menyalurkan hobynya ini adalah Pers Kampus. Segera, setelah ia berhasil lolos ‘magang’ sebagai wartawan kampus, ia ditugasi kemana-mana untuk ambil foto. Pengalaman menariknya adalah, katanya ia pernah memotret seorang ‘ayam kampus’, setelah sekian lama ia harus merayu-rayunya agar mau dipotret.

    Untuk menunjukkan kehandalannya sebagai wartawan, ia harus pura-pura mendekati “si ayam”, mentraktirnya dan berkencan. Ipung membiarkan dia bicara banyak dengan berbagai pengakuannya, curhatnya, dengarkan dan berusaha memahami kondisi dan keadaannya. Baru kemudian Ipung berusaha sebaik-baiknya menjelaskan sisi-sisi baik seorang mahasiswi, bahkan pembenaran terhadap ‘aktivitas’ sebagai ayam kampus. Dan barulah ia mengaku sebagai reporter dan akan memasukkannya ke Koran Mentari. Tentu saja berita ini membuat heboh dan membuat koran laris kembali.

    Ipung memang handal soal berita-berita under-cover. Liputan-liputan mahasiswa undercover, Solo undercover, selalu ia ajukan sebagai tema-tema menarik saat sidang redaksi. Dan kalau usulnya diterima, dia segera mengajukan biaya lapangan yang ia butuhkan dan teman-teman terbelalak, ongkosnya mahal.

    Di Solo, sejak reformasi memang “booming media”. Bukan hanya di Solo saya kira, tetapi waktu itu kran kebebasan 1998 menawarkan pada orang untuk membuat media. Ratusan media muncul sejak 1998, meski akhirnya pada menghilang, megap-megap kemudian mati, akibat tak laku dan tak ada lagi orang yang mempu mengongkosi. Termasuk media di Solo ini, ‘media-media kuning’ banyak muncul pula, seperti Lipstik, Pop, X-File, dan banyak lagi lainnya, aku tidak hafal.

    “Ah, tidak masalah. Biaya untuk kencan, interview dengan mereka juga mahal,” katanya Ipung. Ia berusaha menjelaskan tentang mahalnya berkencan dengan Ayam Kampus yang harus ia traktir dulu dengan pendekatan yang panjang dan lama.

    “Sebenarnya kamu ini mau report atau kencan?” protes Ummi Hani, bendahara.

    “Ya tentu reportase doong” jelas Ipung, “kalau ada yang asik-asik sama cewek nih, ini hanya resiko pekerjaan. Memang kamu mau reportase soal ini, boleh saja, kamu ambil. Tapi jangan dikira mudah, kamu tidak bakalan dipercaya. Tak usah khawatirlaaah, aku nggak tertarik kok sama mereka.”

    “Bohooong,” teman-teman menyahut, Ipung kelihatan bloon.

    Ummi Hani, adalah anak yang paling sewot dengan tingkah Ipung. Hani, kami memanggilnya, adalah anak ekonomi yang selalu modis dan bergaya diantara kami dan beberapa anak perempuan yang aktif disini. Hani anak orang kaya, ia suka diam jika ada sidang redaksi. Nampaknya, konsentrasinya adalah hanya masalah uang, praktis, menjadi bendahara di UKM ini dialah yang paling irit dalam memperhitungkan anggaran.

    Bicara soal kecantikan Hani. Aku teringat suatu ketika si Sodik menulis berita mengenai hantu di kampus. Memang di Kampus kami ada gedung auditorium yang pojoknya agak gelap karena ditutupi pohon rindang. Konon pohon ini ada penghuninya, dan “si hantu” ini cantik. Sodik mewawancarai beberapa teman mahasiswa yang pernah diweruhi si hantu. Petikan berita Sodik di Koran Mentari agak membuat teman-teman penasaran.

    ..“Si Cantik dari sononya” ini tidak pernah tampil di siang hari. Tapi suaranya selalu muncul seperti suara orang sedang menyanyi. Ani, mahasiswi Psikologi semester pertama, pernah memergoki suara sinden yang menyanyikan lagu Jawa, “Yen Ing Tawang Ono Lintang”. Namun, jika malam hari tiba, Ani tidak mendengar suara itu lagi, tapi ia pernah melihat seorang perempuan cantik yang berbalut pengantin Jawa sedang duduk dibawah pohon rindang di dekat Auditorium. Ani hanya melihat dari jauh karena memang tidak berani mendekat..

    Tentu saja, berita ini membuat heboh mahasiswa dan banyak yang berusaha mengkonfirmasikannya pada redaksi. Kami, tidak bisa mengelak dengan banyaknya pertanyaan dengan nada protes mengenai berita hantu di pojok auditorium. Dan yang membuat kami tertegun, banyak pemrotes berita ini adalah anak-anak mahasiswi yang merasa ketakutan dan, mungkin, merasa cantik, bahkan merasa dirinyalah “hantu cantik dari sononya” itu. Hii..**

  • Mengejar Cita-cita (5)

    Sepeda “Federal”

    SEBETULNYA siapakah aku. Teman-teman kadang-kadang heran melihat aktifitas dan kegiatanku. Mereka menganggap, aku ini masih anak remaja puber saja. Masa’ kuliah di Teknik, yang kerjaannya menghitung ilmu pasti, tetapi aktifitasnya di Pers Kampus, yang biasanya digeluti anak-anak sosial. Kadang-kadang, di fakultas, teman-teman bilang, “ah.. lama sekali tak jumpa kawan, wajahmu sudah nampak seperti koran”. Aku memang menyukai kegiatan ini, kegiatan ini tidak membatasi ilmu dan aktifitas. Menentukan tema, peliputan, menulis, mengedit, berkartun, menyeting, mencetak, berdistribusi koran adalah kegiatan yang menyenangkan.

    Biasanya wartawan dituntut serba bisa. Dia harus cepat menguasai peristiwa, menyambungnya dengan referensi-referensi yang relevan dan melakukan konfirmasi-konfirmasi yang diperlukan. Menjadi aktivis selama mahasiswa mengasyikkan. Hoby ini kontan membuat aku seringkali terlena. Bersemester-semester berikutnya, aku baru sadar, kesibukan inilah yang mengantarkan aku untuk tidak lulus-lulus. Sementara teman-teman di fakultas sudah pada menyelesaikan skripsi mereka. Aduh.

    Tidur di kampus, menjadi manusia kampus, kadang-kadang lebih menyenangkan daripada di kos. Dengan mengayuh sepeda onthel, disertai semangat empat-lima aku ke kampus pagi ini. Aku mempunyai sepeda butut, waktu itu sering kusebut sepeda ‘federal’. Sebab, ini merk sepeda yang kukenal, meskipun bukan itu mereknya. Sepeda ini dibelikan pada saat aku SMP kelas 2. Sepeda ini setia mengantarku kemana-mana. Bahkan berkilo-kilo kutempuh dengan sepeda ini saat SMA. Waktu kuliah, sepeda ini kubawa, biarpun kanan-kiri banyak sepeda motor para mahasiswa menyalipku. Aku cuek saja. Aku berharap sepeda ini membawa keberuntungan, kalau bukan kebuntungan; cewek tak ada yang naksir mahasiswa bersepeda butut. Pastilah yang bersepeda motor atau mobil.

    Tak dinyana, justru banyak yang ‘berminat’ dengan sepedaku. Mereka ingin dibonceng, malah tak jarang sepeda ini ikut nginep dikampus kalau lagi nglembur. Sesekali sepeda ini hilang dibawa teman, entah siapa, dan beberapa hari kemudian, sepeda ini balik kembali, juga nggak tahu siapa yang mengembalikan. Teman-teman sudah hafal dengan sepedaku, kalau lama sepeda ini rusak dan tidak kupakai, mereka malah kangen. Teman-teman yang suka usil, pernah menyembunyikan sepeda ini dibawah meja besar, tempat kami biasa sidang redaksi. Aku kesusahan mengeluarkannya.

    Tercatat di boncengan sepeda federalku ini beberapa pantat cewek mahasiswi yang pernah memboceng. Ada Maya, Sari, Umi, Hani, bahkan sering mereka berebutan ingin menggowes sepedaku. Berboncengan bertiga, akibatnya, boncengan sepeda patah akibat masuk got.

    Sepeda ini pulalah yang membawaku ke rumah sakit. Gara-gara nyepeda santai dipinggir jalan, sebuah bus pernah menubrukku dari belakang. Untung aku meloncat, tapi sepeda yang disukai banyak cewek ini, hancur tak berbentuk. Aku sempat terpana melihat sepeda ini sudah “sembuh’ dari bengkel beberapa hari berikutnya. Tapi biarpun selamat, sepeda ini sudah tidak seperti dulu lagi, kayaknya ada yang mengganjal kalau digowes jauh-jauh.

    “Mas, apa kamu baik-baik saja?” Hani khawatir di ujung HP. Tentu, Hani adalah cewek yang paling “dramatis” yang pernah aku kenal. Dramatisnya, adakalanya sangat romantis, tapi lebih sering ia emosional dan manja.

    “Oh.. tidak apa-apa, aman. Hanya pegel-pegel dikit. Tapi sepedaku yang hancur, mungkin sudah jadi angka delapan?”

    “Waduh.. bagaimana kita bisa berboncengan lagi kalau sudah jadi angka delapan gitu. Nggak masalah deh, yang penting kamu selamat”.

    Tapi, biarpun dia yang paling penasaran dengan kondisiku, dia justru yang paling akhir menjengukku di Rumah Sakit. Teman-teman lain sudah pada berkelesotan di lantai kamar, dia baru datang.
    ***

    Sebenarnya aku tidak pernah memiliki kos yang sesungguhnya. Aku selalu nginep di komisariat HMI, meski untuk menginap disitu sama saja dengan membayar kos sesuai dengan kamar yang dipakainya. Jadi tinggal di tempat ini ombyokan saja. Kesel sekali sebenarnya tinggal disini. Mungkin bagi seorang mahasiswa yang study minded, tidak akan betah tinggal di tempat yang tidak kondusif dan tenang untuk mengerjakan PR-PR dari dosen. Tetapi, inilah romantismenya, konsekuensi dari mahasiswa pas-pasan, ia harus bisa menyesuaikan diri dimanapun ia bisa tinggal: di kos mewah, yang banyak bermunculan, atau hanya tinggal di markas bersama seperti ini. Mandi pun antri, kalau kesiangan, ya mandi di kampus atau malah tidak mandi sama sekali.

    Inilah romantikanya. sulit sekali untuk menolak sesuatu yang memang sudah digariskan Tuhan pada kita. Maunya sih ingin hidup normal dengan tetap tekun sebagai mahasiswa yang giat belajar dan lulus tepat waktu. Kemudian mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar dan menikah dengan perempuan yang sudah dipacari sebelumnya, memiliki rumah, anak dan menyenangkan orang tua dan mertua.

    Belakangan disekitar kampus memang banyak berdiri kos-kosan mewah yang harganya mahal. Biasanya hanya anak orang kaya bermobil yang mampu memondokkan anaknya disitu. Setiap malam bersliweran kendaraan bermotor dan mobil-mobil yang parkir di depan kos mahal ini. Banyak aktifitas, ada yang mojok berduan, ada yang bergerombol tertawa cekikikan dan macam-macam lagi. Kampus ini terasa makin mewah saja. Untuk ukuran mahasiswa ‘kutu kupret’ seperti saya seringkali harus jujur; sebetulnya ada juga keinginan untuk hidup lebih pragmatis dan hedonis, tetapi apa daya semua itu butuh biaya mahal. Lihat saja, kendaraanku saja cuma sepeda butut yang kupakai sejak SMA.

    Dengan sepeda ini pula, aku yang pernah memboncengkan Sari. Sari Wulandari. Ia aktivis HMI yang cukup ngotot bergabung dan memintaku mengantarkannya ikut Latihan Kader.

    Waktu itu, sehabis maghrib, ia minta diantar ke Gedung Insan Cita di Kentingan. Di gedung inilah aku, beberapa bulan sebelumnya pernah ikut Latihan Kader HMI yang pertama kali. Beberapa bulan berikutnya, aku bertemu Sari. Tak disangka, kami cepat akrab dan ngobrol soal bermacam-macam aktivitas. Tak kukira, ketika aku menyebut HMI, ia tertarik dan minta bergabung.

    Sebetulnya aku sangat malas mengantarkan ke Kentingan. Kentingan jauh, harus naik bis. Apalagi, Sari terlambat bergabung dengan teman-teman lain yang juga akan ikut acara, terpaksa aku menjemputnya di kampus dengan sepeda. Menuju pinggiran jalan besar, tempat kita bisa mencari bis menuju lokasi. Sore yang gerimis itu, mungkin dengan perasaanku yang kurang ikhlas mengantarkannya, ban sepeda bocor. Terpaksa sepeda dituntun. Aku berjalan dengan kesal, tapi Sari malah tertawa cekikikan.

    “Sebetulnya apa motivasi kamu ikut HMI?” tanyaku.

    “Aku tidak ingin merubah apapun,” jawab Sari.

    “Kalau gitu, kita pulang aja. Sepeda bocor gara-gara mboncengin kamu. Kamu terlambat sih..”

    “Kata orang, mahasiswa adalah agent of change. Tapi aku tidak mengerti, bagaimana merubah sesuatu, sementara mereka tidak mampu merubah dirinya sendiri.”

    “Jadi itu alasanmu bergabung?”

    “Ya..”

    Tetapi kadang pula, saat pikiran sedang ‘agak sehat’ kita selalu memikirkan hal-hal yang mungkin bisa dilakukan sebagai mahasiswa. Konon mahasiswa adalah agent of change tapi apa yang dirubah dan seberapa kekuatan untuk merubah. Atau malah apapun yang mapan perlu dirubah tanpa tahu sebenarnya apakah perubahan selalu perlu. Biarpun kadangkala kita juga harus berfikir bagaimana merubah sesuatu tanpa merubah diri sendiri. Tetapi tidak masalah, inilah hidup, yang pasti dalam hidup sebagai mahasiswa, aktivis atau sekedar mahasiswa hedonis, tetaplah ada yang harus diperjuangkan.*

  • Mengejar Cita-cita (4)

    Apa KAMMI Dan HMI Bisa Mantu?

    SOLO yang panas makin terasa ketika jam sudah menunjukkan pukul 11 siang menuju pukul 12 tengah hari. Tapi perjalanan long march dari kampus menuju MAKOREM siang itu tak terasa panas sama sekali. Jalanan penuh dengan mahasiswa dan bahkan anak-anak SMA yang pastinya bolos sekolah. Jaran tempuh kami hampir 6 kilometer melewati Jalan Slamet Riyadi menuju Mendungan, Kleco dan Kerten terus menuju Purwosari.

    Sambil terus mengamati Cipto dari belakang, tiba-tiba ada yang menepukku dari belakang. Azis nampaknya. Ahmad Azis, anak IAIN Solo ini wajahnya khas. Jenggot dan celana cingkrangnya mudah ditebak. Apalagi Qur’an kecil yang ada di tangannya, menunjukkan bahwa kebiasaan ini dilakukan oleh anak KAMMI. Ia menyapa “assalamu’alaikum” padaku. Kemudian kita berbicara sambil berjalan santai sambil menunggu beberapa teman yang masih ketinggalan di belakang. Setelah bicara ngalor-ngidul soal reformasi, yang menarik bagiku tentu obrolan soal akhwat, maksudku soal konsep-konsep pernikahan yang pada hal-hal seperti ini, jarang didiskusikan di komisariatku.

    “Zis, apa menurutmu HMI dan KAMMI bisa mantu ya” aku berusaha mencairkan obrolan.

    “Bisa saja. Jodoh kan urusan Allah,” katanya, “ente sendiri, mungkin akan mengalami hal yang tidak akan ente duga-duga. Bisa saja ente menghindari seseorang, tapi malah akan berhadapan dengannya. Maksudnya jangan khawatir, akhwat mungkin juga ada yang mau sama ente, asal prosedurnya jelas saja.”

    “Ah, kau membesarkan hatiku aja. Justru prosedurnya itu yang susah, Zis. Kriterianya saja mungkin terlalu jauh dari aku. Lihat saja, tak satupun bajuku yang rapi, celana jinsku ini aja mungkin sudah kumal, dan bolong, aku juga tidak berjenggot,” aku agak bercanda.

    Sebetulnya, berbicara dengan Azis membuatku agak segan. Mungkin keder duluan sebelum memunculkan argumen dan pertanyaan-pertanyaan. Seringkali ia mengembalikan jawaban pada Al-Qur’an dan hadits, ia juga sering menyitir Qur’an. Misalnya obrolan ngalor-ngidul soal akhwat tadi, kita malah terjebak pada diskusi tentang arrijalu qowamuna alannisa, yang seringkali diartikan laki-laki itu pemimpin perempuan. Atau menurutku diartikan bahwa laki-laki dan perem-puan itu setara. Diskusi ini memang menarik. Di Latihan Kader-I saja, ada bahasan khusus soal keperempuanan, biasanya tema ini dibahas sampai sore. Pengalaman Latihan Kader dulu, membahas keperempuanan ini membuat mata agak melek setelah seharian diskusi soal mission, sejarah, kemahasiswaan, keindonesiaan dan tema-tema serius lainnya, tiba-tiba teman jadi banyak angkat bicara, padahal sebelumnya pada ngantuk semua.

    “Trus, bagaimana proses perjodohan yang bi-asanya diatur oleh murobbi itu?”

    “Itu sebenarnya hanya jalan untuk agar tetap terjaga saja. Bukan lantas mengatur. Manakala dirinya sudah siap menikah tapi sang murobbi belum bisa memberikan solusi, Insya Allah akan ada ikhwan dari jamaah kita, tapi ante harus bersabar,” Azis melanjutkan, “sebelum memutuskan untuk menikah, persiapan diri dari segi moral sangat penting. Ada pesan bahwa wanita-wanita yang beriman adalah untuk laki-laki yang beriman dan wanita-wanita penzina adalah untuk laki-laki pezina. Yang keji hanya akan layak mendapatkan yang keji. Bagaimana mungkin ada diantara antum yang berani memutuskan untuk berzina, sedangkan pasangan bagi orang yang berzina hanyalah penzina pula”.

    Kira-kira begitulah kata Azis. Aku sendiri tidak terlalu mampu untuk mengatakan kembali apa yang baru saja diucapkannya. Mungkin kalau di Qur’an disebutkan juga persisnya bunyi pernyataan Azis ini.

    “Jadi ada atau tidak kemungkinan saya…?”

    “Bisa saja, mungkin lewat orang tuanya saja”

    “Tapi tidak usah khawatir Zis, aku hanya ber-tanya, tidak lantas ingin melakukan pernikahan sekarang.. he.. he. Mungkin lebih enak kalau ko-munikasinya sendiri saja, tanpa pihak ketiga, jadi tidak ada beban..”
    Siang menuju sore, menyusuri hampir seluruh jalan Slamet Riyadi hari itu, teman-teman bertekad akan nginep di Balaikota sampai Pak harto turun. Gerakan ini hampir berlangsung di seluruh penjuru kota di Indonesia, mereka menginap di Balikota masing-masing, sebagai solidaritas mahasiswa. Aku melihat ada sedikit orang memakai kaos warna hijau berlambang banteng PDI. Mereka mendukung perjuangan kami. Salam dan tepuk tangan dari kanan-kiri jalan. Banyak sekali ibu-ibu, orang-orang tua melambai lambaikan tangan kepada kami sebagai tanda dukungan. Bendera-bendara kami kibar-kibarkan. Rasanya, kami seperti menjadi pahlawan saja.

    Obrolan kami berakhir ketika memasuki ger-bang Balaikota. Ribuan masa sudah menanti membentuk barisan yang campur aduk. Sementara rombongan lain juga segera datang dari arah Pasar Gedhe, masing-masing membawa bendera almamaternya. Mereka berniat untuk terus melakukan aksi hingga Soeharto turun, bahkan akan menginap disitu kalau tuntutan belum dipenuhi. Tapi, di samping pagar Balaikota tetap ada Panser yang standby. Mungkin Polisilah yang paling sibuk bekerja saat ini. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 12.30 ketika gerak jalan mahasiswa tiba di Balaikota dan bergabung dengan massa dari mahasiwa UNIBA, Universitas Muhamadiyah Surakarta, UNS, Unisri, STAIN, dan banyak lagi kampus lain termasuk anak-anak SMA dan masyarakat umum. Dan telah menunggu demonstran lain sejak dari jam 11.30 waktu Solo. Pukul 14.00 datang bantuan logistik dari warga sekitar Pasar Legi yang memberikan cuma-cuma kepada mahasiswa makanan. Sekitar setengah jam kemudian tokoh-tokoh masyarakat Solo berdatangan mengeluarkan pernyataan sikap mendukung “Reformasi Indonesia” secepatnya.

    Pendudukan Balaikota ini terus berlangsung bergantian. Aku sendiri lelah untuk terus spaneng mengikutinya. Aku sendiri malah ingin segera pergi dari kegiatan ini, dan jalan-jalan sendiri. Tapi tidak mungkin, semua jalan sudah penuh dengan Polisi dan Kopassus Kartasura yang lebih ketat menjaga Mall-mall yang mulai gosong dijarah massa. Kejadian ini terus berlangsung siang-malam sampai berhari-hari hingga saatnya terjadi, saat 22 Mei Pak Harto membacakan surat pernyataan berhenti sebagai presiden. Kawan-kawan bersorak riang, berita di TV dan koran-koran menyambut lengsernya Soeharto. Teman-teman banyak yang menggunduli rambutnya tanda kesukaan, paling tidak target pertama reformasi sudah tercapai. Di TV juga terlihat gambar Mudrick Sangidoe, Ketua Mega Bintang dan rombongan demon-stran, mengguduli rambutnya. Reformasi baru saja hendak dimulai, meskipun tidak ada seorangpun yang mampu menjamin bahwa “resep reformasi” akan berlangsung pasca lengsernya Soeharto ini.

    Aku dan teman-teman menyaksikan berita ini di kantor Pers Kampus. Sebelumnya kami tidak pernah membayangkan bahwa Soeharto akan turun secepat ini. Malah kami membayangkan demonstrasi ini akan berlangsung satu semester penuh sehingga menggagalkan kegiatan Ujian Semester bulan Juni ini. Tapi kebijakan kampus berkata lain, ujian tidak diundur, dan kami kembali terbangun dari kenyataan bahwa ternyata telah lama kami meninggalkan bangku kuliah. Ya, demonstrasi lebih banyak sebagai tempat pelarian kami dari kenyataan di kampus. Berikutnya laporan praktikum harus segera dibuat.

    Bagi kegiatan ‘goreng-menggoreng’ mungkin menyenangkan, tapi kalau menggoreng aspal, mungkin ini hanya dialami oleh anak Teknik Sipil seperti saya. Praktikum yang ketinggalan, harus dirapel olehku sebelum semua harus dilaporkan sebelum ujian. Praktis aku tak bakalan mampu memenuhi tugas-tugas ini. Aku mencari bantuan ke teman-teman yang memang sudah ahli, meski konsekwensinya aku harus mentraktir lebih banyak atau paling tidak ada komisinya sedikit. Bagiku, lebih mudah menulis artikel daripada membuat laporan hasil praktikum. Ya, hasil menulis di koran, sesekali aku kasihkan ke temanku yang baik ini. Dan laporan selesai. Saya akui, memang sulit mengikuti aktivitas tanpa meninggalkan kuliah. Tak terbayangkan, kapan aku lulus.**

  • Mengejar Cita-cita (3)

    Demonstran Keren

    SEBENARNYA kami tidak terlalu takut dengan kekerasan, kalau memang itu terjadi di arena demonstrasi. Tapi yang seringakali membuatku tidak tega, kerusakan dimana-mana akibat kekerasan sangat merugikan kita semua. Tapi, perjuangan memang butuh pengorbanan, bukan hanya pengorbanan kita yang seringkali harus membolos kuliah, itu biasa bagi kami. Tetapi pengorbanan fisik dan sarana umum yang pasti merugikan kita semua. Bekas-bekas pot besar di median jalan masuk kampus sudah hancur akibat kekerasan kemarin. Pot bunga itu sudah menjadi kepingan batu dan tanah yang menyebar, pot-pot itu sempat menjadi senjata saat “membalas serangan” dari Dalmas. Beberapa pemulung, pagi itu nempak membersihakan jalan dari botol-botol bekas.

    Belakangan kami berfikir ulang dengan berbagai aksi yang terjadi. Strategi demonstrasi dengan berbagai teman OKP lain memang terasa lebih efektif ketimbang berdemo sendirian. BEM selalu menyarankan untuk berjaket almamater ketika aksi. Kami menolak, karena biar lebih bersatu dengan rakyat. Tapi sulit juga demo tanpa panji-panji kami. Bagaimanapun juga berbagai bendera OKP seperti bendera kuning PMII, bendera putih KAMMI, hitam-hijau HMI, merah GMNI, dan sebagainya terus dilambai-lambaikan. Mungkin memang sulit menolak watak primordial kita. Mereka maunya agar masyarakat tahu bahwa mahasiwa telah bergerak. Jaket almamater adalah bukitnya, bendera-bendera OKP juga menunjukkan bahwa mahasiswa dari berbagai latar belakang ideologi bisa bersatu melawan musuh bersama. Meski di lapangan kadang kita juga berebut orasi di panggung utama orasi, rasanya rebutan pengaruh juga tetap ada. KAMMI tidak boleh mendominasi orasi hari ini, juga PRD, juga OKP lain. Mereka harus bergiliran dan mau tidak mau, kita memang harus seringkali menjadwal ulang, siapa yang berorasi hari ini.

    Ciri khas mereka juga lain. Orasi anak-anak KAMMI selalu santun dan dimuali dengan salam. Biasanya ia lebih sopan dari teman-teman ‘kiri’ yang lebih tajam dengan kata-kata; ‘Gantung Soeharto di Tugu Monas’, ‘Seret Kroni dan Anak Soeharto di Pengadilan’, ‘Rakyat Lapaar’ diikuti nyanyian khas: ‘Darah Juang’. KAMMI memang terlihat lebih sopan, paling tidak dibanding dengan teman-teman PMII yang juga lebih tajam berorasi di panggung utama.

    “Belakangan teman-teman mulai fasih bicara soal buruh, kemiskinan, hak asasi dan semacamnya. Kita jadi agak sulit bicara ini ya” kata Bowo disamping saya siang itu, setelah kelelahan sejak pagi sampai siang berjemur demo kami berdua berteduh sejenak.

    “Maksudmu bagaimana?” kataku.

    “Sejak LK dulu, aku sulit mengatakan organisasi kita selalu membela buruh. Bapakku saja pejabat. Kakakku Polisi. Mungkin dia juga sedang bertugas menghalau demonstran seperti kita, ‘im.” lanjutnya.

    “Bisa jadi. Mungkin juga kita terlalu elitis menjadi mahasiswa. Tiap hari rutinitasnya di kampus. Sepertinya nggak ngurus tetangga-tetangga kita, padahal tiap hari selalu bertemu mereka di kos”

    “Ya. Rutinitas di kampus menjemukan sekali. Aktivitas mahasiswa dan status pelajar membuat kita seolah berjarak dengan tetangga-tetangga kita” lanjut Bowo. “apa menurutmu demo ini bentuk rasa sosial kita, atau hanya pekerjaan elit mahasiswa saja?”

    “Bisa jadi dua-duanya, Wo,” sahutku. “ada yang sebagian idealis, merasakan betapa susahnya bisa masuk bangku kuliah sementara orang tua mereka buruh dan tani. Tapi kalau kamu, yang bapakmu itu pejabat, mungkin berbeda motivasinya, ha ha..”

    “Apa kamu mau bilang, kalau aku hanya termotivasi ikut rame-rame saja. Bukan begitu kawan.” sergah Bowo. “Aku memang anak pejabat, tapi ingat, di HMI ini kita berjuang, banyak yang harus dibereskan. Apa kau kira mahasiswa-mahasiswa itu juga mengerti betul soal penderitaan buruh. Jangan-jangan mereka hanya memanfaatkan saja isu ini untuk kepentingannya.” Bowo terus berargumen. “Permasalahan bangsa ini tidak sederhana dan tidak mungkin bisa doiselesaikan dengan hanya menurunkan Soeharto. Kalaupun Pak Harto turun, ini baru awal, mungkin puluhan tahun lagi bangsa ini baru akan maju semua. Mungkin tidak ada buruh lagi”.

    “Ah, mana mungkin tidak ada buruh lagi.”

    “Maksudku, ekonomi bangsa ini menjadi lebih baik. Paling tidak tidak perlu ada stereotip bahwa anak pejabat selalu lebih makmur dari anak buruh. Bisa jadi, jadi anak buruh lebih bahagia, kebahagiaan kan hanya soal rasa”.

    “Mungkin kamu mau bilang, bahwa pejabat saat ini tidak selalu identik dengan koruptor dan buruh tidak selalu menderita. Permasalahannya kan memang soal keadilan saja. Pemerintah telah salah urus, sentralisasi ekonomi di Jawa, KKN dimana-mana, jadi jatah rakyat yang mestinya buat mereka justru habis, sejahteranya kapan?… Lama buanget”.

    “Ya. Mungkin begitu”

    Hari makin siang, saya takut kejadian seperti hari-hari kemarin terjadi lagi. Aksi lempar melempar batu pada aparat telah membawa luka pada teman-teman kami. Sehari sesudah makin giatnya aksi perlawanan ini, kembali teman-teman aktivis berembug mengenai kelanjutan aksi. Mungkin ini buntut dari dibakarnya beberapa Mall di Jakarta. Dan disusul beberapa Mall di Kota Solo, sore itu. Kami jadi takut keluar setelah demo yang disusul aksi pembakaran di Mall-Mall. Teman-teman banyak berkumpul di komisariat membicarakan aksi damai mereka yang mulai nampak ditunggangi oleh provokator. Aksi mahasiswa adalah damai, kalaupaun ada bentrokan dengan aparat, itu biasa. Tapi aksi bakar-membakar Mall, tidak tahu siapa yang melakukannya. Mungkinkah mahasiswa, mungkin saja. Tapi juga belum tentu, konsentrasi kita hanya aksi jalanan, pasti ada provokatornya. Beberapa waktu lalu terdengar banyak tahanan pada kabur, dinding penjara jebol, lantas diikuti oleh aksi pembakaran Mall.

    Sore menjelang maghrib, jalanan di sepanjang Slamet Riyadi, kota Solo ditutup. Aku dan Bowo melaju menaiki motor melewati gang sempit menghindari jalan besar yang penuh Polisi dan tentara. Kita menuju HMI Cabang Solo di Yosodipuro. Waktu berangkat, Mall di Purwosari masih aman-aman saja. Kami menginap di Yosodipuro, dan paginya saya melihat, Mall Purwosari sudah rata dengan puing-puing. Mall Beteng juga telah dibakar. Teman-teman takut diculik. Semua aktivis, waktu itu hanya berani berkumpul di markas malam itu, listrik padam pula. Besoknya tidak ada aksi. HMI dan kawan-kawan mulai konsolidasi agar demo mereka tepat sasaran tanpa harus merusak.

    “Waduh, kakakku barusan nelpon” kata Bowo.

    “Apa katanya?”

    “Aku dimarah-marahinnya. Ia barusan kena timpuk batu, kepalanya luka, mungkin bocor, pas mengawal demo. Tamengnya pecah. Dia nampak marah sekali dengan mahasiswa” lanjutnya.

    “Kakakmu yang Polisi itu? Dia jadi Polisi di-mana?”

    “Di Makassar”

    Sepanjang jalan, Bowo cerita dilematisnya ia berhadapan dengan kakaknya itu. Dia disini sebagai aktivis yang berusaha membela keadilan dan berusaha menumbangkan rezim korup. Tetapi di sisi lain, ia harus berusaha menetralisir kegeraman kakaknya yang tiap hari harus berhadapan dengan aktivis semacam dirinya yang garang melawan aparat. Ia hanya Polisi, tak berdaya melawan perintah atasannya, tapi kalau provokator mulai menunggangi mahasiswa, mereka jadi anarkhis dan lebih parah lagi banyak kerusakan yang tidak mereka duga. Dan ini tanggungjawab Polisi seperti dirinya.

    Sepanjang jalan, berboncengan motor, obrolan mengenai kakaknya, dari kejauhan nampak Ririn dan Dewi Pritasari melambaikan tangannya memanggil kami. Sejenak kami berputar, motor melaju kencang kearah keduanya.

    “Dari mana?”

    “Menengok Mas Budi di YARSIS, yang kemaren ketembak. Ada beberapa kawan juga disana. Kasihan. Pelurunya bukan peluru karet. Tapi timah” kata Dewi.

    Dewi dan Ririn yang berkerudung pendek dan bercelana jins itu seperti memang nampak aktivis yang tidak terlalu peduli dengan penampilan. Berbeda jauh dengan anak-anak perempuan di KAMMI yang berjilbab besar dan selalu berpenampilan rapi, berbaju besar. Gayanya selalu khas. Mereka mengacung-acungkan Al-Qur’an saat demo, seperti demonstran Palestina menentang Israel. Sejujurnya kami, aku, Bowo, Didik dan kawan kawan HMI-wan, sering ‘ngrasani’ mereka: betapa kikuknya penampilan mereka saat demo bareng akhwat-akhwat KAMMI. Tentu, dari baju mereka saja kelihatan, ini bukan akhwat. Barisan anak-anak perempun KAMMI selalu rapi dalam garis tali dan berkumpul sesama akhwat. Sementara Dewi dan Ririn, yang sangat ‘garang’ kalau diskusi bersama kami, justru diam dan tidak bisa bicara apa-apa ditengah komunitas rombongan demonstran akhwat KAMMI. Tapi nampaknya mereka tidak sabar, mereka akhirnya keluar dari barisan dan merebut microphone dan mulai mengoceh berorasi.

    Dewi yang agak pendek dan berpotensi gemuk itu tidak terlalu peduli. Untungnya kawan-kawan dari PMII, yang juga tidak terlalu rapi barisan aktivis perempuannya, segera bercampur bersama kami. Ririn dan teman-temannya juga nampak mulai ada teman perempuan yang bercampur dengan para demonstran lainnya. Sementara anak-anak akhwat KAMMI tetap berbaris rapi dibelakang, sambil sesekali berteriak; “Allahu Akbar”.

    Kami berdemo, bergerak menuju MAKOREM siang itu. Jarangnya hampir 8-10 kilometer dari kampus. Ini ditempuh dengan jalan kaki bersama teman-teman aktivis. Banyak bendera OKP dan berbagai lambang organisasi dadakan muncul disana. Saat itu kerusuhan belum berlangsung, Mall-mall juga belum terbakar. Fenomena kekerasan juga belum banyak muncul. Aku lupa ini demontrasi yang keberapa. Ini demonstrasi ke jalanan yang paling aman yang aku sempat ingat, sebab sesudah itu nampaknya Polisi dan aparat mulai represif dan melarang kami berdemo di luar kampus. Aku membawa bendera hijau-hitam yang khas diantara tingginya batang-batang bambu bendera OKP lain. Nampaknya bangga juga membawa bendera ini ditengah-tengah bendera lainnya. Tak lupa membawa tas cangklong di punggung, yang berisi perbekalan minum dan tetek-bengek lainnya, termasuk beberapa surat pernyataan tolak Orde Baru, ada di tas. Waktu itu hanya itu senjata para demonstran: bendera di kanan, pengeras suara, --kami menyebutnya ‘toa’-- di kiri, tas cangklong di punggung, jalan kaki bersama-sama. Tapi jangan keliru, biar cuma bersenjatakan seperti itu, semangat kami seperti mau menghadapi perang saja.

    Wartawan juga mulai sibuk di kanan kiri kami. Beberapa wartawan foto memotret spanduk yang dibawa beberapa teman kami. Nampak wartawan TV men-shoot kami, teman-teman yang semula agak ogah-ogahan terlihat begitu terkesiap dan pura-pura serius, biar kena shoot TV atau kamera fotografer. Lumayan, siapa tahu besok jadi perbincangan teman-teman: gambar kami ada di koran. Dan benar saja, tampangku muncul di koran, meski gambarnya kecil, nampak aku sedang melambaikan bendera. Dan, ini yang membuat aku agak ‘gimana’, teman-teman menyalamiku setengah meledek.

    “Waah, ini dia lakon kita kemaren, fotonya ada di Solopos” kata Cipto sambil bercanda-canda. Cipto memang khas orang Tegal, logatnya khas Cici Tegal yang bukan orang Tegal itu, dia ikut HMI biar bisa ikut demo. Padahal sebelumnya, saat kami saling kenal pada OSPEK dulu, dia nampak kalem dan mungkin akademik minded. Tapi belakangan dia malah menempel potongan koran itu setelah memfotokopinya diperbesar pada papan pengumuman di komisariat. Lantas saja, foto itu seperti menjadi seperti poster ajakan untuk berdemo pada mahasiswa yang mampir di komisariat kami.

    Bagi Cipto, ia sebetulnya hanya ingin belajar bicara di depan banyak orang. Ia seringkali punya banyak ide, banyak cita-cita dan mungkin pemikiran-pemikiran praktis yang cerdas. Namun, seperti mahasiswa baru lainnya, waktu itu, ia sulit sekali menyampaikan gagasan-gagasannya itu. Ia termotivasi oleh maraknya demo belakangan yang ia lihat menampilkan mahasiswa yang suka banyak bicara di depan umum. Bahkan berorasi, berbantah-bantahan. Sedangkan, menurut dia, pemikiran mereka sebetulnya biasa-biasa saja, kadang malah hanya terkesan ‘asal omong’. Dengan demikian, Cipto merasa sebetulnya ia memiliki pemikiran yang tidak kalah dengan anak-anak aktivis lain, cuma mungkin ia belum memiliki ketrampilan retorika yang bagus. Mengungkapkan pendapat memang perlu dilatih, dan inilah alasan utamanya ikut Latihan Kader I.

    Cipto berperawakan gemuk, hitam dan nampak keras kepala. Semenjak lulus Latikan Kader I, ia mulai ‘unjuk gigi’ dengan mulai banyak berdebat bersama teman-teman di komisariat. Diskusi rutin tiap sabtu sore, selalu diikutinya. Ia duduk di depan dan sesekali ambil peran jadi moderator. Senioritasnya mulai nampak, ketika anak-anak baru lulus Latihan Kader berikutnya mulai memenuhi ruangan diskusi. Tampaknya ia mulai merasa senior disini. Meski ia mulai disukai anak-anak baru, tapi kebiasaan merokoknya, sebagaimana yang juga dilakukan oleh beberapa lainnya, tidak disu-kai anggota baru, terutama yang perempuan.

    “Reformasi ini bikin HMI makin laku saja ya” katanya. “Padahal, menurutku kalau secara ideologis, buang-buang waktu saja ikut demonstrasi kesana-kemari. Kuliah jadi keteteran. Belum tentu lho, anak-anak baru ini mau bertahan di HMI kalau Pak Harto sudah turun. Soalnya sudah nggak ada momen lagi buat mereka.” lanjutnya.

    “Lha kamu sendiri, apa juga mau begitu?”

    “Oh enggak dong” jawab Cipto, “bagiku, jadi aktivis itu kereen. Aku merasa jadi pede kalau dekat-dekat sama cewek, hee hee.”

    Cipto mengambil alih bendera yang kubawa, ia mulai melambai-lambaikannya dan berusaha tidak absen pada saat teman-teman OKP lain mengibar-ngibarkan bendera mereka juga. Aku berfikir, mungkin HMI butuh juga anak seperti ini, ia semangat pada saat yang dibutuhkan. Aku sendiri sebetulnya sudah mulai kelelahan berjalan sepanjang Slamet Riyadi menuju MAKOREM. Eh si Cipto malah berlari-larian mendekati aktivis perempuan yang membawa bendera PMII dan mulai mengoceh dengannya. Tangannya juga nampak ikut ‘berbicara’ serius dengan anak itu.**

  • Mengejar Cita-cita (2)

    Demonstrasi Mei 1998

    BERANGKAT ke kampus UMS untuk pertama kali diantar naik sepeda motor adalah bentuk harapan yang diembankan padaku. Aku adalah anak laki-laki satu-satunya yang pasti diharapkan masa depannya. Bapak mengantarku pagi-pagi subuh agar ke kampus agar tidak terlambat OSPEK hari pertama.

    Saat itu, OSPEK memang masih berlaku di kampus. Setelah semalam suntuk membuat tas karung terigu yang dijahit menggunakan tali rafia, topi panci, kaus kaki merah di kaki kanan dan putih di kiri, icik-icik dari tutup botol, dan kaos bertuliskan “Mahasiswa Baru-Baru Mahasiswa” di dada, aku pakai sepanjang perjalanan menuju kampus.

    Dingin sekali pagi itu, semalaman habis hujan deras, air masih menggenangi kota. Perjalanan menggunakan sepeda motor dari kampungku menuju kampus sekitar 45 menit. Sepanjang jalan bapak berpesan banyak, “tidak perlu memikirkan banyak soal SPP, yang penting kuliah saja yang rajin.” Pendapat Bapak yang menurutku ‘moderat’ ini membuatku tidak terlalu terbebani meskipun saat itu aktivitas demonstrasi di kampus terus rutin berjalan.

    Tapi, beberapa bulan setelah OSPEK, bahkan setiap hari menjelang memasuki bulan-bulan awal tahun 1998 aku justru masuk HMI. Mengikuti Latihan Kader dan semester berikutnya sudah menjadi pengurus Komisariat.

    Rapat-rapat terus berlangsung untuk menentukan isu dan tema aksi, demonstrasi. Bahkan bersama teman-teman OKP lainnya, HMI komisariat Teknik UMS makin sibuk, terutama ketika harus bernegosiasi soal jumlah massa dan rute demo. Sering rapat-rapat ini berlangsung malam hari sesudah jadwal kuliah selesai. Bersama PMII, KAMMI, IMM, bahkan juga berbagai OKP lainnya yang berideologi kiri, nasionalis seperti GMNI, ada juga PMKRI dan hampir semua OKP yang ada di Solo berkumpul di Hall Kampus. Biasanya masa HMI se-Solo berkumpul dulu sebelum ‘menyerbu’ ke Balaikota.

    “Jangan lupa, besok jam 10 pagi, teman-teman harus berkumpul di Lapangan Kota Barat” kata Andi Novianto, katua Komisariat Teknik menutup rapat konsolidasi masa malam itu.

    Teman-teman lantas bubar. Namun masih nampak beberapa anggota yang berbincang-bincang mengenai kuliahnya. Mereka merasa keteteran mengikuti jadwal kuliah yang seringkali bertabrakan dengan akitivitas di organisasi.

    “Mungkin aku ora iso melu sesuk” kata Ririn Muliasari adik kelasku di fakultas, “aku harus praktikum di lab, nggak tahu selesainya kapan, mungkin sampai siang”.

    “Mending, kamu masih sempet mikir prakti-kum. Lha aku, jadwal praktikum pun aku tidak tahu kapan” jawabku.

    Ririn memang harus selalu rajin rapat. Ia sekretaris komisariat, dan bersama Sari Wulandari, mereka selalu berbicara dan tak jenuh-jenuhnya melakukan aktivitas. Kadang aku merasa kalah dengan mereka, kita sama-sama mahasiswa aktif, tetapi aktivis perempuan ini, mereka tidak segan-segan pulang malam, bahkan pagi jika memang rapat selesai malam banget. Kantor komisariat memang menyediakan kamar untuk anggota yang kemalaman, meskipun kita harus sering-sering lapor Pak RT kalau mau ada rapat. Ririn, secara fisik mungkin lebih ideal daripada Dewi yang agak gemuk pendek. Teman-teman HMI-wan yang suka ‘grenengan’ hanya suka membanding-bandingkan antara Ririn dan Sari, sedangkan Dewi, kayaknya tidak masuk ‘hitungan’.

    Besoknya, aku, Agung Prabowo atau Bowo anak Semarang, Narji Surahmat panggilannya Narji, anak Bawean dan beberapa teman sudah bersiap menuju Lapangan Kota Barat. Tempat ini memang agak strategis untuk berkumpul. Disana terlihat sudah ada beberapa bendera HMI, warna khas hijau-hitam yang berlambang, berkibar-kibar oleh beberapa teman aktivis. Aku tidak hafal, teman-teman memang banyak dari berbagai kampus, berbagai komisariat, mereka puluhan dan akan bergabung dengan teman-teman mahasiswa dari OKP lain untuk ber-long march menuju Balaikota dan sesekali berhenti sambil berorasi dan meneriakkan yel-yel, “turunkan Soeharto!!”.

    Suparjo alias Parjo, yang hari ini menjadi koordinator lapangan sudah berteriak-teriak sejak pagi. Ia seperti mesin penjaja jamu saja, berorasi tak habisnya. Meneriakkan kebobrokan rezim Orde Baru dengan fasihnya.

    “Bayangkan kawan-kawan” ia memulai, “Orde Baru telah membangun ekonomi setralistis, membangun bangsa ini dengan konsep ekonomi yang rapuh. Penuh KKN. Penuh dengan korupsi. Dan ini menyeret kita ke jurang krisis ekonomi, kawan-kawan”. Kata-katanya segera disambut teriakan peserta demonstran yang mulai bertambah banyak dan makin merapat seiring dengan hadirnya beberapa Polisi Pengendali Masa (Dalmas) beserta Pansernya.
    Parjo melanjutkan, “krisis ini ternyata telah meluas menjadi krisis multidimensi yang tak berujung. Kita jadi boneka IMF, International Monetery Fund, lembaga donor internasional yang pada zaman ini mungkin bisa disebandingkan dengan VOC zaman kolonial dulu. Soeharto dan kroninya harus bertanggungjawab. Orde Baru harus bertanggungjawab. Soeharto dan kroni-kroninya harus bertanggungjawab”.

    “Turunkan Soeharto!! Setuju!” teriak Parjo.

    “Setuju!!” sambut massa. Mereka lantas menyanyikan; “gantung-gantung-gantung-Soeharto. Gantung Soeharto di tugu Monas”.

    “Berkuasa selama 32 tahun ternyata tidak cu-kup untuk menjadikan bangsa ini lebih baik, ka-wan-kawan. Bangsa ini justru makin menderita. Kemiskinan dimana-mana. Rakyat hanya dijual ke IMF, padahal negara ini kaya raya, tetapi rakyat miskin. Pemerintah salah kelola, Soeharto membiarkan KKN. Anak-anaknya perampok, kroni-kroninya kaya raya, sementara rakyat tetap miskin. Apakah kita biarkan KKN terus terjadi??”

    “Tidaaak”

    Sambil menyanyi-nyanyi mereka meneriakkan lagu demonstrasi sambil mulai bergerak menuju Monumen Pers melewati markas jalan Yosodipuro, markas kami. Jalanan mulai macet, tetapi Korlap kami terus mengatur kami memakai tali agar formasi barisan tidak terpecah memenuhi jalan. Polisi terus mengawal kami. Nampak Wawan Kampret, Cahyo dan lain-lain yang ditugasi bernegosiasi dengan Polisi selalu setia menenangkan aksi damai kami.

    Tiba-tiba Sari menepukku bahuku. “Sori aku telat, tapi lumayan kan, beberapa HMI-wati dari komisariat kita banyak yang bisa datang hari ini” katanya.

    “Kamu bawa berapa” tanyaku.

    “Lihat saja, kalau cuma 10 orang juga lebih, di kampus kegiatan mulai macet” katanya, “hari ini Pak Rektor juga orasi di depan kampus, ia melepas mahasiswa yang demo dari kampus”.

    Sejak mahasiswa mulai keluar dan berdemo diluar kampus, rektorat tidak mungkin untuk tidak melepaskan mahasiswanya berdemo. BEM dan beberapa UKM sudah bernegosiasi untuk merubah jadwal ujian semester. Tetapi, Pak Rektor mungkin belum menoleransinya, ia hanya mendukung gerakan mahasiswa menuntut reformasi. Apalagi, dua-tiga hari lalu, saat kita hanya berunjuk rasa di depan kampus, banyak sekali tantangannya. Dalmas mulai menembakkan gas air mata yang pedih, masa cepat bubar dan banyak demonstran yang berhamburan dan terinjak-injak saat menghidari serangan Polisi. Siang yang terik itu, kami dari berbagai elemen mahasiswa mulai banyak setelah sejak pagi orator-orator mulai bergerak dari fakultas ke fakultas menarik masa untuk bergabung. Mungkin hari itu BEM yang memulai, tapi akhirnya banyak bendera OKP bermunculan, mereka bergabung di pertigaan kampus Jalan Ahmad Yani. Ini memang tempat favorit untuk melakukan aksi.

    Jalanan mulai macet ketiga demonstran yang makin membludak memenuhi pertigaan jalan dan memaksa Polisi menutup jalan dan membelokkan arah kendaraan. Poster bertuliskan ‘Turunkan Soeharto’, ‘Reformasi Sekarang juga’, “Turunkan Harga’, bentangan–bentangan kain yang bertuliskan ‘Sepultura: Sepuluh Tuntutan Rakyat’ dan bermacam-macam lagi muncul dimana-mana . Awalnya berjalan aman. Tetapi ketika entah kenapa, tiba-tiba aku yang sedari tadi berada di depan, berpanas-panas dengan Bowo, Didik dan teman-teman lain, mulai ribut ketika para Polisi yang bertameng, yang berada beberapa meter di depan kami mulai meminta kami bubar. Dan sejurus kemudian kami saling bertindih dan berebut lari karena asap justru muncul di belakang kami. Banyak teman-teman mahasiswi yang menjerit dan berlarian mencari air. Asap ini rasanya panas membakar muka kami. Dalam suasana gelap asap, aku juga berusaha melarikan diri dari hawa sesak nafas itu, tak sengaja mungkin aku menginjak orang sebelum tersikut kanan kiri. Ada disebelah kananku ada seorang mahasiswi berjilbab yang mungkin ambruk. Sejurus kemudian beberapa mahasiswi lain sudah menggendong menyelamatkannya. Ya Allah, itu Sari.

    “Na’im, sebetulnya kita ini juga tidak bisa lepas dari masa lalu ya,” kata Sari sore itu sesudah demo mereda dan hari mulai gelap. “Lihat saja, alumni-alumni kita juga kan yang merancang Orde Baru. Berapa alumni kita yang ada di kabinet, di DPR, mereka semua arsitek kegagalan Orde Baru juga kan?”

    “Iya. Tapi HMI juga tidak sendirian, terlalu banyak kepentingan juga yang membuat organisasi ini dimanfaatkan untuk kepentingan politik. HMI terlalu banyak beban sejarahnya. Kalau tahun 1966 mungkin HMI masih relatif murni, belum banyak beban sejarahnya. Makanya jangan terlalu banyak mengandalkan alumni kita juga” jawabku mengimbangi semangat Sari berdiskusi sepanjang jalan. “Keluarga besar HMI dan alumninya memang harus dikoreksi juga.”

    “Aku heran, mengapa kita masuk HMI ya. Organisasi yang terlalu sarat dengan beban sejarah. Jangan-jangan kita juga yang akhirnya menjadi tertuduh akibat kegagalan alumni-alumni kita” lanjut Sari.

    “Bangsa ini tidak hanya dibentuk oleh HMI. Kalau Orde Baru dibentuk oleh HMI saja, keke-liruan sejarah bisa ditimpakan kepada kita saja. Tapi tidak. Ada alumni organisasi lain seperti nasionalis, sosialis juga yang turut menyokong Soeharto kan. Kalau peran alumni HMI besar sepanjang Orde Baru, mungkin benar. Tapi tidak bisa hanya disalahkan saja. Harus dikoreksi.”

    Tiba-tiba Andi menyuruh kami mempercepat langkah. Nampak Polisi sudah mulai meminta waktu untuk mempercepat aksi hari itu. Kita berorasi lagi sepanjang Jalan Yosodipuro. Mampir sejenak di depan kantor Cabang Solo dan meneruskannya di Monumen Pers dan RRI.**

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.

"Integrate the javascript code between and : Integrate the javascript code in the part :