Masyarakat Spiritual
Oleh M. Masad Masrur*
BANGKITNYA kesadaran spiritualitas di era milenium ini, jelas merupakan fenomena menarik. Banyak penjelasan menyebutkan mengapa hal itu muncul dan tumbuh. Penjelasan yang paling umum adalah, bahwa manusia modern mengalami keterasingan (alienation) terhadap hal-hal yang bersifat duniawi (lahiriah, materialistik), lantas mereka berupaya mencari sesuatu yang sifatnya batiniah (spiritual) dan transenden. Banyak yang lantas lari kembali ke agama (formal religion), banyak pula yang lari pada spiritualitas non-agama. Kalangan yang enggan kembali pada agama formal, yakni agama-agama yang ada kini yang telah melembaga, cukup menyebut aktivitas spiritual mereka dengan spiritualitas saja sebagaimana disebut Naisbitt, Spirituality Yes, Religious Institution No.
Dahsyatnya gelombang (wacana dan praktik) spiritualitas, jelas merupakan fenomena tersendiri bagi sejarah peradaban kemanusiaan. Fenomena ini, di satu sisi mampu memperteguh posisi agama-agama besar dunia, karena bagaimanapun setiap gerakan spiritualitas kerapkali terobsesi oleh pandangan dan tradisi yang telah ada dan cukup lama berkembang di kalangan penganut agama. Namun, di sisi lain gelombang spiritualisme itu mampu menenggelamkan posisi atau eksistensi agama formal yang mapan, mengingat banyak tumbuh gerakan-gerakan spiritual yang mengembangkan wacana agnotisisme.
Pengalaman spiritualitas dan religiusitas masing-masing individu berbeda dan tidak seragam. Justru karena itulah pengalaman itu menempati posisinya yang plural, terutama tatkala ia ada dalam dataran esoteris (batiniah). Dari sini terbetik hikmah bahwa pengalaman spiritualitas dan religiusitas, pada hakikatnya mengajarkan kepada kita tentang realitas dan makna pluralisme keanekaragaman pengalaman lahir dan batin, sebagai sesuatu yang wajar adanya.
Spiritualitas lebih banyak menonjolkan pengalaman batin (spiritual), yang sifatnya pribadi dan transenden. Bila kaitannya lebih banyak menekankan pengalaman spiritual pribadi, maka hal itu disebut spiritualitas pribadi (individual). Setiap proses spritualitas, tentu menghasilkan kearifan-kearifannya tersendiri, yang secara kolektif mampu menumbuhkan apa yang disebut spiritualitas sosial (masyarakat religius).
Komunitas sosial yang religius, yang mampu memahami makna spiritualitas secara sungguh-sungguh, jelas memiliki keunggulan secara kualitatif dibanding dengan komunitas sosial yang hampa spiritualitas.
Di tengah masyarakat kita dewasa ini tumbuh kembali kesadaran akan pentingnya makna spiritualisme sebagai energi positif yang wajib dimiliki setiap manusia modern. Setidaknya hal itu merupakan semacam kesimpulan dari fenomena kemunculan kursus-kursus spiritual, semisal tasawuf, yoga, kontemplasi, dan dialog-dialog sufistik. Seolah kearifan-kearifan spiritual klasik, terutama yang datangnya dari Timur, hendak dimunculkan kembali dan menjadi tren di Barat (wacana spiritualitas New Age). Wacana tasawuf dan sufisme yang merupakan khazanah dimensi mistik Islam pun merebak di Barat, setidaknya demikian keterangan ilmuwan tasawuf pengagum sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi atau Annemarie Schimmel.
Di sisi lain tumbuh gerakan spiritualisme yang mengupayakan semacam titik temu berbagai (inti spiritualitas) agama-agama. Mereka mengumpulkan wacana-wacana spiritual dari setiap agama, lantas mengemasnya dalam bentuk dialog-dialog pencerahan, dan pelatihan-pelatihan konsentrasi spiritual. Efek logis yang muncul dari spiritualitas model begini adalah melenyapnya batas-batas perbedaan antar-agama, yang secara ekstrem mampu menumbuhkan “agama” baru dengan praktik ritual dan cara pandang (pemahaman) tersendiri. Fenomena (ekstrem) demi-kian lebih dari sekadar sinkretisisme (pencampur-adukan ajaran antar-agama), karena agama sendiri lantas diingkari ketidaksempurnaannya.
***
Tak lepas dari fenomena-fenomena itu, catatan yang perlu digarisbawahi atas bangkitnya (gerakan) spiritualitas itu bermakna positif bagi penghayatan terhadap realitas pluralisme dan mendukung pula nilai-nilai demokrasi. Kebangkitan spiritualitas sosial sesungguhnya mampu pula bermakna negatif bagi pluralisme dan demokrasi, dengan catatan bila yang kemudian berkembang adalah ekstremitas spiritualisme, semisal individualisme dan eksklusivisme.
Apa yang dipaparkan di atas mengenai spiritualitas (sosial) lebih merupakan gejala yang belakangan kian terasakan. Spiritualitas di era internet ini, mampu menjadi semacam komoditi “pencerahan” bagi segenap manusia yang kian hari kian menghadapi kesumpekan hidup. Tekanan-tekanan hidup yang kian berat (entah itu tekanan ekonomi, politik, maupun sosial-budaya) membuat kekuatan untuk bereaksi. Reaksi yang paling aman dan nyaman adalah lewat spiritualitas.
Menarik untuk diperhatikan saat ini, selain fenomena kebangkitan spiritualitas, adalah fenomena sebaliknya, yakni merosotnya dimensi spiritualitas. Secara umum kemerosotan spiritualitas ini disebabkan oleh, setidaknya, dua hal. Pertama, penghargaan yang begitu besar terhadap aspek lahiriah (material) dalam kehidupan, sementara sisi-sisi manusiawi atas spiritualitas sosial secara sadar atau pun tak sadar ditenggelamkan. Aspek lahiriah yang dimaksud tidak melulu bertumpu pada sektor ekonomi, tetapi juga yang lain-termasuk politik. Di dunia politik, misalnya, klik-klik amoral kerap terjadi, sogok-menyogok di arena birokrasi, teror politik, serta dimensi “politicking” lain bagaimanapun merupakan sinyal bagi kemerosotan spiritualitas sosial, sehingga jelas mengancam demokrasi yang sehat.
Kedua, gejala “ruang yang hilang”. Gejala ini merupakan konsekuensi logis dari pandangan pesimisnya terhadap kehadiran era virtual reality (VR) alias realitas virtual. Slouka berpandangan era VR mampu meninggalkan kehidupan nyata alias real life (RL), sehingga mampu menenggelamkan sisi-sisi manusiawi spiritualitas sosial masyarakat, ruang nyata pun hilang diganti ruang maya. Kehancuran spiritualitas terjadi tatkala dunia maya meninggalkan dunia nyata, sehingga spiritualitas yang terjadi adalah spiritualitas artifisial yang bersifat ekstrem. Ini bisa dipahami, sebab di dunia maya batas-batas baik buruk, benar-salah, moral-amoral, ataupun rumor-fakta sulit dibedakan-sehingga mampu mempengaruhi kemerosotan spiritualitas individu dan sosial.
Cocoklah kiranya bila upaya membangun atau mengembangkan dimensi-dimensi spiritualitas dalam masyarakat harus disambungkan secara positif bagi peningkatan kesadaran manusia. Tumbuhnya kesadaran spiritual di tengah masyarakat diharapkan mampu membawa kesadaran pada pentingnya penghargaan terhadap perbedaan pendapat dan segala dimensi kemanusiaan.[]
*Penulis adalah aktifis Majelis Sinergi Kalam (MASIKA) ICMI dan Redaktur Jurnal ELCENDIKIA ICMI DKI Jakarta.

"Wacana tasawuf dan sufisme yang merupakan khazanah dimensi mistik Islam pun merebak di Barat, setidaknya demikian keterangan ilmuwan tasawuf pengagum sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi atau Annemarie Schimmel."
Memangnya Om Jalaludin Rumi hidup di abad ini ya....hingga bisa beri keterangan segala.......
Atau mungkin anda dapat memberi kejelasan dengan kalimat ini...
salam....