Pelajaran Mengarang
Surat ini adalah surat yang bersejarah sepanjang hidupku. Mungkin aku telah menuliskannya dalam berbagai versi. Hatiku bergetar berulang ketika aku kembali membacanya. Surat ini lebih tua dari tanggal penulisannya.
Tentu saja saya tidak tahu apa yang harus saya tulis untukmu. Perempuan yang lagi merana sendirian, ditinggal yang datang dan dikunjungi yang pergi. Saya hanya mengingat ingat lagi pelajaran mengarang waktu SD. Saya sempat mendapat nilai delapan plus. Nilai yang paling tinggi di kelas, dan tidak ada yang mampu saingiku dalam pelajaran mengarang itu. Dengan tema yang aku sedikit lupa, -mungkin cerita tentang seorang anak sekolah bercita-cita tinggi, atau cerita tentang anak yang senang main layang layang di lapangan bola, cukup memberi inspirasi bahwa cerita bisa menjadi panjang dan enak untuk dilihat, dan diikuti.
Bagaimana sebuah cerita bisa dilihat? Bagaimana pula cerita bisa didengar. Kamu hanya minta, kirimi aku email yang panjang biar nggak habis-habis dibaca. Atau dibaca trus dibaca lagi berulang-ulang. Berulang-ulang, hingga tiap kali dibaca isinya selalu lain dari sebelumnya. Seperti bertambah banyak, bertambah makna. Baru lagi isinya, baru lagi. Seperti makanan. Nggak habis habis dikunyah, padahal itu juga makanan yang tinggal sekerat roti. Atau ingat sebuah kisah Nabi SAW tatkala sedang mengalami kelaparan bersama umatnya dibawah kepungan kaun Quraisy suatu hari. Hanya seorang yang tinggal punya satu kurma. Sementara yang menunggu puluhan mulut anak-anak dan perempuan-perempuan yang menggendong anaknya. Kurma itu dikunyah dari satu mulut ke mulut yang lain, dan tak habis habis. Satu kurma untuk puluhan orang, cukup bikin kenyang.
Saya berharap begitu, bukan orang yang banyak kut membaca tulisan pelajaran mengarang ini, tapi satu orang dan makan tulisan ini hingga berulang-berulang-berulang. Dan tak habis-habis cerita dia dapati.
Jangan takut. Hati hanya akan menjadi gundah tatkala waktu kita hanya lewat dengan kegiatan kosong, menunggu-menunggu saja. Kadang-kadang kita bosan dan seterusnya karena nggak ada aktifitas yang dianggap produktif. Bagiku, satu hari penuh jauh lebih baik buat aku membaca dan menuliskanya kembali di email-mu ini meski kadang-kadang aku juga mikir bahwa manfaatnya tak banyak.
Perjalanan Jakarta-Solo tentu saja jauh. Untuk menghindari teman-teman lama. Dan mencari teman-teman baru yang menyenangkan. Bagiku satu orang amat berharga sekali. Tak satupun mesti dijadikan alasan untuk ditinggalkan. Entah itu pacar, mantannya, atau siapapun termasuk teman-teman bertikai kita dalam suatu kesempatan. Tak terbayangkan banyak teman yang sudah mulai kudapatkan di Jakarta setahun ini. Setelah sebelumnya aku nggak punya teman sama sekali. PB HMI pecah dan semua teman mendadak jadi musuh dan pesaing kuat.
Untung masih banyak yang fair, tidak semuanya ideologis dan mau menghidari kita. Cukup, bahwa siapa yang kita hidari adalah mereka ikut menghindari kita. Jadi mbak Thiya, jangan sekali-kali berifikir untuk meninggalkan teman, menghidari dan seterusnya. Kadang-kadang kita akan kesepian sendiri. Sebab bagi saya saudara kandung yang terdekat adalah teman. Laki-laki atau perempuan sama saja. Sebab dari teman mana kita akan dapat rejeki dan pertolongan, sama halnya dari jalur mana, karir mana kita akan dapat rejeki Tuhan. Jalur teman, jalur saudara, jalur kuliah, jalur organisasi atau malah yang tak tercatat di otak kini. Maka saya tidak berani bertaruh dengan meninggalkan satu teman, satu kuliah, satu organisasi dan lainnya. Saya tak berani bertaruh. Terpenting adalah justru menjaga hubungan, sapa dulu sebelum mereka menyapa, jabat erat tangannya sebelum dia melepaskan jabatannya. Pelajaran dari nabi SAW katanya.
Ada pelajaran agar tak tergantung pada orang. Tapi tergantung pada diri sendiri. Motivasi dan visi sendiri. Banyak teman yang siap bantu kita dimana saja kapan saja. teman satu gagal, teman lain gagal, teman satu lainnya pasti mau bantu.
Aku punya cerita yang mungkin sama sekali tidak ada hubungannya. Cerita lama dari al Ghazali. Judulnya anggap saja: ALLADIN dan BUAH APEL:
Bayangkan saja Alladin wajahnya mirip aku, tapi sama sekali bukan aku sehingga ujung ujungnya nanti seolah ini adalah cerita tentang aku. Ini kisah yang tejadi di mungkin di Baghdad jaman 1001 malam, atau di jaman kini di Jakarta, sebagai pusat peradaban terbesar Indonesia.
Alladin berasal dari sebuah kampong kecil, kecil terpencil dan terisolasi. Jauh dari perjalanan ke kota dan hanya petani yang malas dan nggak maju-maju kehidupan orang tuanya. Alladin bertekad pergi dengan bekal satu buah Onta dan sebungkus makanan menuju Jakarta dari kampong Kauman yang damai dan tenteram. Perjalanan membutuhkan waktu berhari berbulan bahkan mungkin sampai satu tahun. Tentu saja perjalan ke Ibukota peradaban menemui sultan Harun Al Rasyid dan berusaha ngenger (mengabdi) disana dibutuhkan pengorbanan. Bahkan untuk mencapai ke Jakarta. maksud saya Baghdad, ibu kota Islam waktu itu.
Berangkatlah, jangan harapkan kembali sebelum berhasil membawa apa-apa untuk dibawa pulang, pesan Ibu. Berangkatlah Alladin menyusuri sungai menuju Ibukota impian. Berhari-hari sudah tak cukup waktu untuk bertahan hidup di perjalanan. Ontanya yang setia menemani pun sudah hampir lemas karena tak ada air menuju Baghdad. Oase-oase-sungai-sungai-tak ada. Berbulan-bulan berjalan ia ketemu juga sunga kecil semacam aliran untuk pematang kebun. Ada buah apel segar disana. Dia ambil dengan nafsu kelaparan. Tanpa sisa apel sudah masuk ke perut Alladin dan baru terasa ia memang membutuhkan makanan untuk sekedar mengganjal perut.
Kampong Kauman yang lama ditinggalkannya dalah kampong yang beriman orang-orangnya, cuma tak maju-maju, karena penduduknya hanya beriman saja, tapi tidak bekerja dan tidak pintar. Termasuk Alladin, ia hanya beriman saja, tidak pintar dan pandai. Maka ketika apel sudah sampai perutnya, ia baru terfikir bahwa apel ini pasti punya pemilik. Dan ia harus meinta ijin sebelum dimakan, sebelum kata-lata orang Kauman , bahwa makanan haram bisa bikin perut meledak dan seterusnya. Maka dengan tergopoh-gopoh Alladin dan sang Onta menyusuri hulu sungai menemui si pemilik apel.
Sebuah perkebunan apel yang luas dan cantik. Seluruhnya berbuah. Merah-merah, pertanda si pemilik ini orang pintar lagi beriman. Dia lihat sekelilingnya seputar kampong kebun apel, -ambil saja kampong itu bernama Gomorah, nama kota di jaman Nabi Luth yang terkutuk lalu terendam di laut mati. Kampong yang penduduknya kotor, bau busuk dan main judi, amoral, pemerkosa, dan liar tanpa peradaban. Tapi kebun apel milik pak Saddam Hussein tumbuh sendirian. Dialah satu satunya pemilik yang masih beriman di tengah kampong Gomorah yang hampir tenggelam di laut mati.
Permisi dengan terbata-bata, Alladin masuk menemui Pak Saddam pemilik kebun. Mohon maaf pak Saddam, saya Alladin telah memakan barang haram ke dalam perut saya dan akan meledak perut saya jika pak Saddam tidak segera merelakan buah apelnya dimakan orang kelaparan seperti saya.
Hoo, saya bukan orang bodoh kayak kamu Alladin, mengijinkan makananku, apelku, hidupku dan matiku dimakan orang tanpa izin. Kamu harus dihukum 13 tahun sebelum aku halalkan apel dalam perutmu itu, sanggup?!! Atau kau pilih saja kutukan apel yang akan bikin perutmu mual terus sepanjang jaman dan malaikat pasti menggelitik kamu dengan pertanyaan disusul gadanya yang tajam dan miris untuk hanya sekedar dibayangkan. Jadi kamu harus bekerja menjadi pegawaiku, tidur di gudang pojok kebun dan sesekali laporan ke rumahku di kota Sodom, satu kilo dari kebonku ini.
Alladin: saya sanggup. Sebab saya tak punya apapun selain kepatuhan, dan rasa takut akan makanan haram. Saya akan kerjakan.
Maka sambil bersedih hati dan berusaha tabah ia ingat pesan ibunya yang sebetulnya agak galak: cepat sampai Jakarta..eh Baghdad.. untuk pulang bawa oleh-oleh. Adik adikmu yang nunggu dirumah masih banyak. Maklum bapakmu kalau ngerjai ibumu ini nggak tangung tangung, hingga adikmu nongol terus sampai kini nggak berhenti berhenti, aku nggak tahu adikmu ada berapa sekarang. Mungkin sudah mencapai sekitar 15-an ekor, ck-ck-ck.
Kauman yang menggembleng Alladin memang terasa betul. Alladin bekerja sangat rapi, tanpa cacat hinga pak Saddam Hussein kadang kasih potongan hukuman. Discount 50% katanya. Ha, kini tingal mungkin 6 tahun tersisa untuk ia jalani di kebun apel dan gudang kotor yang sudah ia bersihkan. Dengan bantuan sepeda cap Onta yang ia bawa dari rumah, sepeda cap Onta, atau sebut saja onta, karena memang ia adalah onta di jaman 1001 malam dan mungkin di jaman ini macam sepeda onta. Tahu sepeda onta? Nah, macam sepeda kumbang pak Oemar Bakrie.
Alladin, kamu memang jujur, bersih, taat tapi nggak sepinta aku, kata pak Saddam. Memang layak discount hukumanmu ini. Tapi jangan keburu senang, bukan berarti kamu akan cepat selesai dan pergi dari Gomorah dan Sodom terkutuk ini. Aku masih berharap kamu mau menerima tambahan hukuman sebelum aku ikhlaskan kamu untuk makan buah apelku yang dulu itu. Bagaimana? Ingin bersih dari buah apelku yang kau makan atau kau mau terima lagi hukuman dariku sebelum aku mati sebentar lagi?
Pak Saddam Hussein memang amat renta setelah jenggot terakhirnya yang berwarna putih ikut juga rontok ditelan usia. Giginya sudah ompong karena ia sering hadapi orang kampong Gomorah yang sering curi apel, meski belakangan sudah aman lagi karena Alladin yang jagain. Penduduk Gomorah dan Sodom memang bangsat, katanya. Mereka tidak berperadaban. Tak ada Tuhan disembah disini, mereka hanya makan-makan dan seks saja. dan sebentar saya juga akan tinggalkan Gomoran dan Sodom, ke entah.. mungkin ke alam baka.
Saya terima jawab Alladin, dengan hati gundah karena ia selalu mimpi ibunya yang berteriak geram sambil bawa ulekan sambel dan menggendong depan dan belakang adiknya yang entak keberapa itu: Alladin cepet berhasil di kota, atau kau nggak akan pulang selamanya
Pak Saddam melanjutkan ceritanya: aku masih punya akan perempuan seusia nikah Alladin. Dan dia tentu saja tak bisa kutinggalkan sendirian pasca ibunya meninggal tahun lalu.
Tapi dia bodoh, kata orang penduduk disini. Buta, tuli, lumpuh dan bisu. Nah hukuman berikutnya ini sederhana saja; kau pelihara dia sebelum aku mati juga. Ini memang hukuman, tapi lebih tepatnya permohonan yang memaksa, kata pad Saddam sambil meneteskan air mata kering.
Sudahlah Alladin, kata onta membisikkan di telinganya. (oh ya lupa, si onta ini memang suka berbicara dan ngobrol dengan Alladin dikala sepi). Tapi buat apa meniksh dengan orang buta-tuli. Jujur saja onta, sudah bertahun-tahun lewat menunda waktu sampai Jakarta gara-gara sebuah apel busuk itu. Sekarang malah ditimpa sampah anak pak Saddam yang sepanjang sisa hidup kita. Kau mau hidu dengan sampah, onta?? Alladin mulai tak sabar dengan hakekat hikmah dan kejujuran yang dia punya.
Kalaupun pak Saddam mati, buat apa warisan kebon apel di kota Gomorah yang hampi tenggelam kena tsunami ini. Tanahnya bau, penduduknya bau. Sudahlah onta, kita melarikan diri saja.
Kalau kau mau laru, lari saja, jawab onta. Aku tidak ikut. Aku merasa bersalah. Aku kan juga cicipi apelmu dulu itu meski cuman dikit banget. Soalnya aku kan juga laper-laper. Kamu rakus sih, sudah dapat apel temuan, aku dikasih dikit juga. Kita kan sama-sama lapar. Ingat aku onta jujur. Jangan paksa aku ikut lari.
Baiklah onta kita terima saja. Bismillah saja.
Maka resepsi-pun dilangsungkan tanpa kehadiran pengantin perempuan. Malu kali,..ia kan lumpuh-buta-tuli-jelek, bisik para tamu.
Oke Alladin, ini memang sudah terjadi. Sekarang temui istrimu di kamar pojok yang bersih itu. Ia sejak tadi mengintipmu dari balik kamar dengan harap-harap cemas. Takut kamu tiba-tiba batalkan niatmu sementara pak penghulu dari KUA sudah siapkan surat nikah bermaterai tempel Rp. 3000.-. gambar pancasila dari perpajakan. Cepet temui di kamar, ia suka pakai baju merah dan sesekali kuning atau malah hijau, kayak warna partai politik di Indonesia saja. kadang Golkar, PDIP, Kakbah, atau biru PAN. Ia pakai cadar lho.
Dengan malas Alladin melangkan menuju kamar. Dan alangkah terkejutnya ia dapati wanita cantik di dalam kamar. Wah, pak Saddam ini kaya ternyata juga simpan pelayan yang cantik luar biasa. i: kalau di wayang Sumbadra istri Arjuna, kalau di film Indonesia mungkin kayak si Dian Sastrowardoyo, Nicole Kidman (Hollywood), Kajol (bollywood) atau kalau di film kartun kayak Fiona di Shrek.
ee..permisi, assalamualaikum, salam sejatera, wahai pelayan. Bolehkan saya diijinkan untuk jenguk istri saya yang barusan saya sumpahi??
Maaf, sayalah istri anda yang barusan kamu sumpahi.
Ah, masak, jangan bercanda. Istriku tak cantik seperti kau. Aku hanya menikah dengan orang yang buta-tuli dan bloon. Lagian, ngapain kau ada dikamarnya?
Sudahlah pangeran Alladin. Akulah orangnya.
Maka pergilah Alladin ke pak Saddam yang lagi menyalami tamu-tamunya. Pak, mana itu istri saya. Kenapa ada wanita cantik juga di kamar. Ia pelayan?? Tanya Alladin.
Ketahuilah, buta anakkku karena ia tak melihat berang dan kelakuan maksiat. Tulinya, karena ia tak mau dengar fitnah. Lumpuhnya karena ia memang tak pernah pergi kemana-mana di kota Gomorah yang terkutuk ini, semua tempat adalah maksiat.
Dialah istrimu, jelas pak Saddam.
Matilah kita bos, kita harus ke lannjutkan perjalanan ke Jakarta dengan istri cantik, sementara kita masih miskin dan belum tentu jadi apa lagi di Jakarta nanti. Gelandangan, atau pengamen? Kata si onta dengan cengar cengir.[]
Jakarta, 14 Mei 2005
Oh, iya..nama anak Pak Saddam adalah seseorang yang namanya tak perlu disebut.