Membangun Kemandirian dan Karakter Bangsa*
Oleh Masad Masrur

Pada pembukaan rapat Majelis Pimpinan Paripurna Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Jakarta akhir April tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap, dengan kebersamaan dan keterpaduan, Indonesia dapat mempercepat kemandiriannya dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya sehingga terbebas dari intervensi pihak mana pun.

Menurut presiden, harus ada perubahan paradigma tentang kemajuan sebuah bangsa. Kemajuan ini bukan dilihat melalui statistik ekonomi, namun lewat kesejahteraan masyarakat. Karakter bangsa menjadi faktor utama untuk meningkatkan daya saing bangsa, selain pendidikan dan teknologi. Bila bangsa memiliki karakter kuat, maka bangsa Indonesia akan mengalami kemajuan seperti China dan India. Dua negara tersebut memang belum mencapai kemajuan seperti negara Amerika. Akan tetapi jika dihitung dari keadaan pada tahun 70-an, apa yang dicapai saat ini merupakan prestasi yang luar biasa. China misalnya, bangkit dari keterpurukan dan berhasil menjadi raksasa ekonomi baru Asia. Sedangkan India menjadi negara satu-satunya di Asia yang mampu mencukupi nyaris seluruh kebutuhan warganegaranya dengan produk dalam negeri. Harus diakui, dua negara itu bisa mandiri karena memiliki karakter atau jatidiri kebangsaan yang sangat kuat. Bangsa China sangat menonjol dalam hal disiplin dan semangat kerja. Perpaduan dua karakter itu, ditambah dengan tegasnya law enforcement yang diterapkan pemerintah untuk membasmi penyelewengan dan penyimpangan, membuat negara ini mampu mencapai efisiensi besar-besaran dan dalam waktu singkat tumbuh menjadi negara industri. Sekarang, nyaris tak ada negara di Asia yang terbebas dari "serbuan" produk-produk bikinan China. Ini adalah bukti tak terbantahkan dari kemajuan yang telah dicapai bangsa China.

Sedangkan India dengan semangat swadeshinya (kurang lebih berarti: membuat sendiri) mampu menggugah semangat warganegaranya untuk terus menghasilkan karya di berbagai bidang bagi kebutuhan mereka sendiri. Prinsip "memenuhi kebutuhan sendiri" telah membuat India tumbuh menjadi negara paling mandiri di Asia saat ini. Berbagai kebutuhan hidup mulai dari perangkat mandi hingga mobil dan mesin-mesin industri, dibuat sendiri oleh bangsa India. Ketergantungan India terhadap produk impor sangat rendah, sebaliknya banyak barang-barang produksi India mulai laku di pasar global. Ekonomi India memang bukan yang terbaik di Asia, namun semua orang tahu hutang luar negeri India nyaris tidak ada.

Berkaca dari dua negara di atas, peluang Indonesia untuk mencapai kemajuan sebenarnya sangat besar. Sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia jauh lebih banyak dibanding India dan China. Demikian pula sumber daya manusia tak ada masalah. Masalah utama yang dihadapi adalah belum adanya karakter yang kuat, yang dapat dipergunakan bangsa ini sebagai wahana untuk melaju menghadapi tantangan global. Kedisiplinan, kemandirian, etos kerja, ketaatan terhadap hukum, produktivitas dan swadeshi bangsa ini masih terbilang rendah. Karena itu, langkah pertama untuk mengejar ketertinggalan adalah dengan memperkuat karakter bangsa.

Karakter dan Kemandirian Bangsa Indonesia
Setiap warga bangsa, terutama pemuda Indonesia, harus membangun kembali karakter dan kemandirian. Tanpa karakter, bangsa Indonesia akan kehilangan semuanya. Dalam sejarahnya Indonesia mencatat banyak tokoh yang menegakkan wajah bangsa ini karena semata-mata karakter yang dibangunnya.Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, dan tokoh lainnya adalah orang-orang yang meneladani bangsa ini dengan karakter mereka yang kuat dan karena itu menginspirasi bangsa ini dalam perjuangannya.

Pada Simposium Nasional Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) tahun lalu di Jakarta, Hatta Rajasa, yang juga Menteri Perhubungan, mengemukakan, memiliki karakter sungguh penting karena itu akan menentukan nasib. Ia menyayangkan Indonesia saat ini tengah mengalami degradasi karakter berbangsa. Hampir tidak ada berita yang menyajikan tentang sesuatu yang baik. Kita hanya pandai mengolok-olok diri kita sendiri, padahal ada setumpuk keberhasilan yang dicapai," tuturnya. Mobilisasi potensi, ia mencontohkan, India memiliki slogan, kalau bisa membuat, mengapa harus membeli. Di Indonesia, tutur Hatta, slogan itu berubah menjadi kalau bisa membeli, mengapa harus membuat. Itu amat disayangkan karena sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Saat ini India sangat berkembang dan maju dalam berbagai riset teknologi yang mereka lakukan. Indonesia, yang sebenarnya memiliki potensi yang sama, justru jauh tertinggal. Kemampuan pengembangan pesawat terbang kita mandek. Saat ini India sangat berkembang dan maju dalam berbagai riset teknologi yang mereka lakukan. Indonesia, yang sebenarnya memiliki potensi yang sama, justru jauh tertinggal. Kemampuan pengembangan pesawat terbang kita mandek. "Oleh karena itu, penting untuk mereaktifasi karakter luhur bangsa, menginisiasi kembali karakter bangsa yang mampu memacu dan memobilisasi potensi domestik. Internalisasi karakter itu membutuhkan inovasi dan sikap kompetitif," ujar Hatta.

Langkah-langkah tersebut, tutur Hatta, harus dimulai saat ini dan diawali oleh setiap warga bangsa. Muslimin Nasution menegaskan, pembangunan karakter itu sangat baik dilakukan di taman kanak-kanak, sekolah-sekolah dasar, serta sekolah menengah pertama.

Langkah-langkah tersebut, tutur Hatta, harus dimulai saat ini dan diawali oleh setiap warga bangsa. Muslimin Nasution menegaskan, pembangunan karakter itu sangat baik dilakukan di taman kanak-kanak, sekolah-sekolah dasar, serta sekolah menengah pertama. Dalam semua proses itu, Ketua Dewan Penasihat ICMI Jimly Asshiddiqie mengemukakan, generasi muda harus berani menawarkan pemikiran-pemikiran alternatif, yang inovatif, dan dapat diterapkan. Pemuda, menurut Jimly, harus kreatif dalam mengelola kemampuan dan kesempatan yang ada demi kepentingan semakin banyak orang.

Ia mencontohkan, seorang sarjana sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengelola pertanian dengan cara yang lebih baik. Sarjana itu dapat mengelola lahan dan hasil pertanian seperti ia mengelola pabrik atau kantor. dengan manajemen pertanian yang baik dan memadai, setidaknya hasil para petani dapat lebih meningkat.

Ia mencontohkan, seorang sarjana sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengelola pertanian dengan cara yang lebih baik. Sarjana itu dapat mengelola lahan dan hasil pertanian seperti ia mengelola pabrik atau kantor. dengan manajemen pertanian yang baik dan memadai, setidaknya hasil para petani dapat lebih meningkat.*

*Artikel ini untuk TOR Jurnal SINERGI KALAM (MASIKA)