Laporan Piala Asia dan Sepakbola Kita*

Bulan Juni-Juli lalu, pecinta sepakbola nasional dimanjakan oleh pertandingan terbaik, ketika Piala Asia 2007 kembali digelar. Penyelenggara Piala Asia kali ini ada empat Negara, Indonesia, Thailand, Malaysia dan Vietnam. Seperti hasil akhir yang diketahui, hanya Vietnam lah, tim tuan rumah yang berhasil lolos ke babak kedua dengan menyingkirkan China (finalis Piala Asia 2004), yang tentunya menjadi unggulan tahun ini. Sementara tiga tuan rumah lainnya tidak berhasil lolos dari grup. Bahkan Malaysia menjadi juru kunci grup dengan kebobolan banyak gol.
Ketika Indonesia bermain melawan Bahrain, Arab Saudi dan Korsel sebagai tim satu grup, kita sempat diberi harapan yang besar. Timnas kita sempat menang melawan Bahrain, kemenangan kedua semenjak Indonesia tampil di Piala Asia setelah terakhir mengalahkan Qatar di Piala Asia China 2004. Namun, ketika menghadapi Arab Saudi yang sejatinya bisa seri, justru kalah di akhir-akhir pertandingan. Timnas kalah 2-1 setelah sepanjang pertandingan, mampu menahan seri. Sementara ketika menghadapi Korsel di pertandingan terakhir, kita justru kalah 0-1, padahal kita hanya butuh seri untuk lolos dari grup ini. Yah, kita kembali gagal berprestasi di Piala Asia, meski banyak pengamat menilai, kualitas Timnas kita membaik.
Pencetak gol pada pertandingan pertandingan itu adalah Bambang Pamungkas, Firman Utina, Budi Sudrsono dan Elie Aiboy.
Tuan rumah Indonesia memusatkan seluruh pertandingannya di Stadion Gelora Bung Karno. Sementara stadion Palembang Jakabaring sempat menjadi tuan rumah di dua pertandingan, yaitu antara Arab Saudi vs Bahrain di pertandingan ketiga grup dan perebutan tempat ketiga Piala Asia antara Jepang melawan Korsel. Bagaimanapun, prestasi tuan rumah Piala Asia kali ini, Indonesia dinilai lebih baik dalam penyelenggaraannya jika dibanding dengan tiga tuan rumah lainnya. Pertandingan tuan rumah Indonesia, selalu dipenuhi oleh penonton. Gelora Bung Karno ‘hampir runtuh’ ketika Elie Aiboy sempat memasukkan gol ke gawang Arab Saudi ketika menyamakan kedudukan 1-1.
Sebetulnya tidak terlalu banyak kejutan yang hadir di Piala Asia kali ini, kecuali tmbangnya Australia di babak kedua melawan Jepang. Australia yang diperkuat Mark Viduka, Tim Cahill dan pemain yang rata-rata bermain di Eropa, kalah adu pinalti lawan Jepang. Sementara Jepang sendiri, yang diharapkan masuk final, paling tidak oleh para calo tiket, justru gagal ke final setelah kalah lawan Arab Saudi di semi final. Bahkan di pertandingan perebutan tempat ketiga pun Jepang juga kalah lawan Korsel.
Uzbekistan dengan bintangnya Maksim Satskikh, juga gagal ke semi final. Padahal di pertandingan grup, ia sempat menang lawan China. Cuma yang mengejutkan dalam Piala Asia kali ini tidak lain adalah juara baru Irak, tim yang dibuat di sela-sela peperangan yang mampu menghapuskan mimpi Arab Saudi di final. Kapten kesebelasan Irak, Younis Mahmoud menjadi pemain terbaik di pertandingan itu. Ia membawa kebanggaan sedikit di negerinya Irak yang terus tercabik perang saudara, meski ketika Piala Asia usai, ia tidak bisa pulang ke Baghdad karena kondisi keamanan.

Kemenangan Irak
Irak, sejak digempur oleh Amerika Serika tahun 2003 memang tidak pernah aman. Meski Saddam Hussein terguling dan digantung oleh pengadilan, perang saudara justru terjadi disana. Yang paling mencolok adalah perseteruan antara kaum Syiah, mayoritas penduduk Irak yang pada kekuasaan Saddam terpingirkan, dan Sunni yang kini sedang ‘berjuang’ menuntut haknya karena ‘dirampas’ oleh AS. Begitu pula suku Kurdi, penduduk di wilayah utara Irak, juga terus menuntut haknya. Kondisi Irak memang makin kacau pasca invasi AS itu. Sulit dibedakan mana kawan, mana lawan. Sebab hampir tiap penduduk sipil maupun militer disana berseteru, yang satu menentang kepemimpinan Syiah dan Kurdi yang mendominasi parlemen dan pemerintahan Irak kini (bentukan AS), di sisi lain kaum Sunni tetap berjuang merebut haknya dari tangan pemerintah Irak yang dipimpin Nouri Al Maliki, yang dianggap boneka AS, dengan melakukan serangan bom bunuh diri. Pastinya hingga kini kondisi Baghdad terrus mencekam.
Kemenangan Younis Mahmoud dan kawan-kawan di Piala Asia kali ini paling tidak memberikan sedikit kebanggaan sebagai bangsa Irak. Sebab sampai saat ini, kebanggaan sebagai rakyat Irak, hampir tidak ada, semenjak harga diri bangsa Irak dicabik-cabik oleh tentara-tentara asing yang menyerbu negerinya, dengan alasan yang belum tentu benar dan baik buat rakyat Irak.
Sejarah tim sepakbola Irak memang tidak selalu menyenangkan. Kemenangan Irak di Piala Asia ini adalah yang pertama, meski Irak sendiri pernah tampil di Piala Dunia Mexico tahun 1986. Konon, Uday, anak Saddam Hussein yang terkenal playboy dan kejam, yang mengambil pimpinan di tim sepakbola Irak pada masa kekuasaan Saddam, pernah menyiksa pemainnya yang bermain buruk dipertandingan. Praktik ini mengingatkan kita pada kekejaman Hitler di masa kekuasaanya dulu dengan menghukum pemainnya yang tampil buruk. Bagi mereka, tampil buruk adalah memalukan bangsa dan layak diberi hukuman.
Mungkin, memang kekejaman atau kekerasan dengan bermacam variasinya, sudah biasa terjadi di Irak. Suara tembakan, bom dan lain sebagainya adalah ‘biasa’ disana. Sehingga tak heran, dalam merayakan kemenangan Irak di Piala Asia kali ini saja, dirayakan dengan menembakkan senjata ke udara. Akibatnya minimal satu orang tewas akibat peluru nyasar pada pesta itu.
Ya, itulah Irak. Kondisi dalam negeri dan kondisi tim sepakbolanya jauh berbeda; di saat Negara dalam keadaan koyak-moyak, prestasi sepakbolanya justru sedang menanjak.

Di Indonesia
Ketika tulisan ini dibuat, Nurdin Halid atau Ketua Umum PSSI, kembali dipanggil oleh pengadilan untuk menghadapi kasus korupsinya. Padahal dia sendiri hampir sepanjang kepemimpinannya, selalu dilakukan dari penjara. Hal ini akibat kasus korupsinya yang lebih dahulu belum selesai. Dan kini untuk yang kedua kalinya, ia harus memimpin PSSI dari penjara. Praktis ini membuat dunia Sepakbola makin dibuat prihatin olehnya; bagaimana mungkin, sepanjang kepemimpinan Nurdin Halid, PSSI berkantor di penjara.
Dan tak lepas dari itu, pasca Piala Asia berlangsung, justru ;perang’ antar suporter fanatik kembali terjadi. Di Tangerang, suporter Persita bentrok dengan Jakmania disusul pelemparan batu Jakmania terhadap bis Tim Persib beberapa hari berikutnya. Kondisi persepakbolaan kita kembali parah.
Namun, memang permasalahan sepakbola dengan segala ‘tetek-bengek’ nya memang tak pernah habis dikupas. Kondisi struktur kepemimpinan PSSI dan perang antar-suporter yang terus mewarnai Liga Indonesia, tidak harus menutup peluang tim nasional Indonesia terus menghadapi turnamen-turnamen berikutnya. Sebab PSSI harus mengadapi pertandingan berikutnya yaitu Pra-Piala Dunia 2010 dan Sea Games Thailand Desember nanti.
Indonesia yang mestinya menghadapi Guam di Pra-Piala Dunia sedikit lebih beruntung, sebab Guam mengundurkan diri, sehingga pada pertandingan babak berikutnya Indonesia baru bertanding. Sementara timnas Sea Games, berlatih ke Argentina September ini. Tim Sea Games yang dibebani masuk final di Sea Games nanti kembali diperkuat pemain yang juga memperkuat Piala Asia lalu, Atep, Ricardo Salampessy dan Eka Ramdani. Dengan persiapan ini diharapkan, pelatih Ivan Kolev mampu memenuhi harapan publik sepakbola Indonesia dengan prestasi terbaik di Asia Tenggara.
Sejak 1991, Indonesia memang tidak pernah berprestasi lagi. Tahun 1991 itu Indonesia dapat emas di Sea Games. Sementara prestasi terbaiknya sesudah itu hanya; tiga kali berturut-turut menjadi finalis di Piala Tiger. Dan belum pernah menjadi juara.*

*tulisan ini soal Sepakbola