Alasan Mudik
Oleh: Masad Masrur

Banyak alasan yang memperkuat alasan untuk mudik lebaran. Pada awalnya perayaan mudik lebaran ini terkait dengan keyakinan bahwa manusia sebagai makhluk suci, akan mendapatkan kesuciannya kembali bila mereka menempuh jalan kesalehan. Jalan kesalehan itu ada yang bersifat spiritual-vertikal, menyangkut hubungan eksklusif manusia dengan Tuhan, seperti melaksanakan puasa ramadhan dan memperbanyak shalat sunah, juga jalan kesalehan sosial-horizontal. Jalan ini bersifat inklusif menyangkut interaksi, hubungan antar umat manusia. Sebab, ampunan dari tuhan akan terbentang apabila manusia mampu membina persahabatan dan mengembangjan jaringan kekerabatan (silaturahim).
Secara umum, ada tiga bentuk jaringan kekerabatan yang sampai saat ini masih dipertahankan. Pertama, adalah bentuk hubungan nasab atau yang lahir dari penikahan yang sah. Kedua adalah ikatan iman, karena kesamaan dalam memeluk agama (ukhuwah imaniyah). Dan ketiga adalah ikatan kemasyarakatan (ukhuwah wathoniyah).
Islam emngajarkan untuk selalu mempererat tali persaudaraan, atau mengembangkan kekerabatan tersebut. Islam senantiasa mengajarkan untuk selalu berfikir positif (husnudzon) terhadap perbedaan, berlapang dada dan saling memaafkan. ”barangsiapa yang ingin memiliki rizki yang luas dan usia yang panjang, hendaklah mengembangkan jaringan kekerabatan,’ demikian salah satu hadits nabi Muhammad SAW yang sangat populer.
Mudik lebaran yang didasarkan pada semangat ukhuwah inilah pada perkembangannya menjadi sangat kosmopolit dan kompleks. Mudik telah menjadi budaya Bangsa Indonesia, muslim bahkan non-muslim. Disadari atau tidak, mudik lebaran telah menjadi ”ritual agama” baru yang dengan pemaknaan dan ekspresi yang kreatif dan ”sinkretik” khas Indonesia. Contoh yang paling genuine adalah perayaan halalbihalal. Halalbihalal adalah ekspresi dan representasi nilai islam tentang saling memaafkan dan mengembangkan jaringan kekerabatan dan jalan kesalehan menuju ampunan Tuhan. Tradisi ini menunjukkan keluwesan islam yang memungkinkan perayaan ini diterima luas oleh masyarakat. Semua umat beragama merasa turut bergembira, berbagi kebahagiaan dan saling memaafkan.
Betapapun pertemuan dengan kerabat dan saudara di kampung hanya sebentar dan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan selama perjalanan mudik, tetapi momen ini tetap menjadi momen yang paling berharga di tengah persatuan umat yang makin berjarak lebar.*