Arti Penting Membaca dan Menulis

Oleh : Gunawan Trihantoro, S.Pd.I.*

Dalam pandangan penulis, membaca merupakan salah satu media yang paling efektif untuk melihat cakrawala dunia secara obyektif, mandiri, dan kreatif. Dengan membaca, kita akan banyak memperoleh ilmu pengetahuan (al ‘ilm), dan pengalaman serta cakrawala berpikir. Bahkan dengan membaca, kita akan menjadi seorang yang kreatif, kritis, dan bijak, atau sekurang-kurangnya kita bias hijrah dari orang yang tidak tahu menjadi orang yang mengetahui. Namun, tidak banyak orang yang memanfaatkan kesempatan yang dimilikinya, misalnya waktu luang untuk membaca alam-sosial, buku-buku, dan sebagainya.
Selain itu, bahwa untuk kita bisa mengaktualisasikan kekayaan intelektualitas kita yang diperoleh dari membaca-ke dalam realitas pada berbagai tingkat masyarakat dan peradaban, sehingga akan menghasilkan infrastrukutr yang integral bagi penyebaran ilmu pengetahuan tersebut, maka menulis menjadi kebutuuhan bagi masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Bahkan, menulis merupakan sebuah ketrampilan yang dapat digunakan dengan cara yang sangat menguntungkan, baik secara spiritual maupun untuk tujuan komersil.
Dengan demikian, penulis memandang sebagai suatu kewajiban moral bagi kita untuk senantiasa memunculkan minat, motivasi, dan meningkatkan kemauan pada masyarakat untuk selalu membaca dan menulis. Sedangkan kewajiban selanjutnya adalah supaya berusaha untuk menghadirkan masyarakat gemar membaca (reading society) dan masyarakat gemar menulis (writing society) yang dibutuhkan masyarakat bangsa ini.
Kehadiran reading society dan writing society di tengah-tengah masyarakat bangsa ini, tentunya kita harapkan, meminjam istilah H.A.R. Tilaar, akan melahirkan suatu masyarakat belajar learning society). Suatu masyarakat belajar adalah masyarakat yang terus menerus memberikan arti kepada dunia. Arti tersebut diperolehnya melalui membaca dan menulis.
Membaca dan menulis merupakan salah satu kebutuhan pokok dari suatu masyarakat ilmu pengetahuan atau masyarakat modern. Artinya suatu masyarakat modern tidak akan berkembang tanpa ilmu pengetahuan dan tanpa memiliki ilmu pengetahuan. Tak mungkin suatu masyarakat ilmu pengetahuan tanpa ada bahan bacaan. Dan, tidak mungkin bahan bacaan akan ada tanpa sebuah tulisan. Tanpa membaca dan menulis, masyarakat ilmu pengetahuan akan hidup dalam kehampaan. Bahkan, kehampaan terhadap ilmu pengetahuan merupakan suatu hambatan yang sangat besar di dalam pengembangan diri seseorang di dalam suatu masyarakat ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, dapat kita mengerti mengapa membaca dan menulis telah merupakan kebutuhkan pokok manusia dalam suatu masyarakat ilmu pengetahuan.
Al Qur’an sebagai sebagai kitab umat Islam yang tidak memiliki keraguan di dalamnya, yang menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, secara tersirat memberikan penjelasan betapa pentingnya arti membaca dan menulis bagi masyarakat ilmu pengetahuan. Firman Allah Swt. dalam QS. Al ‘Alaq ayat 1-5, telah memberikan gambaran betapa pentingnya membaca dan menulis bagi masyarakat ilmu pengetahuan, bahwa Allah Swt. mengajarakan pada manusia apa yang tidak diketahuinya melalui perantaraan iqro dan qalam, yaitu media baca dan tulis.
Firman Allah dalam QS. Al ‘Alaq tersebut menginginkan kaum muslimin menjadi “masyarakat buku” dalam pengertian yang sebenarnya. Membaca (iqro), bukan hanya membaca Al Qur’an, harus menjadi salah satu kebutuhan manusia di sela-sela kesibukan atau waktu luangnya.
Dengan demikian, hubungan antara membaca (iqro) dan Al Qur’an sangatlah penting, hal ini merupakan konsep bahwa mencari ilmu pengetahuan merupakan bentuk ibadah, bahwa ‘ilm dan ibadah bagaikan dua sisi mata uang, tak terpisahkan. Selain membaca, menulis juga merupakan media transformative yang efektif dalam upayanya untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui membaca.
Dalam sejarah Islam, pada abad pertama Islam, tradisi lisan lebih mendominasi dan menjadi alat utama untuk menyebarluaskan pengetahuan (informasi). Tetapi segera menjadi jelas bahwa hafalan tidak dapat diandalkan sepenuhnya, dan bentuk tulisan mulai dikenal di kalangan pencari pengetahuan. Kita tahu dari Sa’ad Ibn Jubair (wafat th. 714) yang berkata: “Pada kuliah Ibnu Abas, saya biasanya menulis dilembaran-lembaran terlebih dahulu; ketika sudah penuh saya menulisnya di bagian atas kulit sepatu saya dan kemudian di tangan, “dan ayah saya menasehatinya, belajarlah dengan hati, tetapi semuanya harus ditulis sepulang kuliah, dan seandainya kamu lupa kamu sudah punya catatan”.
Senyatanya memang (ajaran) Islam menumbuhkan niat mencari pengetahuan– melalui baca tulis- sebagai kewajiban agama, menurut definisi, untuk menjadi muslim berarti harus memahami secara mendalam pewarisan, perbuatan, prosesi dan penyebarluasan pengetahuan. Lebih dari itu konsep baca tulis tidak terbatas dan elitis.
Baca tulis merupakan pengetahuan distributive, yang bukan hanya monopoli individu, kelas, kelompok, golongan, atau jenis kelamin tertentu, bukan hanya kewajiban sedikit orang yang lantas membebaskan kewajiban sebagian besar anggota masyarakat, baca tulis tidak hanya terbatas pada bidang penyelidikan atau disiplin tertentu, namun mencakup seluruh dimensi kesadaran manusia dan semua fenomena alam.
Di dalam membicarakan mengenai usaha menggalakan gemar membaca dan menulis tentunya diasumsikan bahwa buku harus ada dan buku harus di baca, menulis butuh ketrampilan dan ketrampilan menulis harus ditumbuhkan.
Apabila kita sekarang berbicara mengenai arti penting membaca dan menulis, maka ini artinya kita membutuhkan suatu perubahan budaya dari dongeng ke bacaan, dan dari lisan ke tulisan. Kita ketahui, bahwa perubahan budaya merupakan suatu hal yang sangat sulit. Namun demikian, bukan berarti kesulitan itu tidak bisa kita upayakan perubahannya.
Mudah-mudahan tulisan yang cukup singkat ini bisa mengungkit pemikiran kita semua untuk menemukan langkah-langkah praktis dalam mengembangkan gemar membaca dan menulis. Tentunya, harus dimulai dari diri kita. Bagaimana kita mengajak mereka untuk gemar membaca, sedangkan kita larut dalam dongeng dan cerita, bagaimana kita akan menumbuhkan budaya tulis, sedang budaya lisan masih mendominasi diri ?
Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Seorang Pendidik
dan Direktur Pusat Studi Remaja dan Perubahan Sosial (PSR-PS) Cilacap