Catatan Piala Eropa 2008
Oleh Masad Masrur
Sudah seminggu lebih ini, tepatnya sejak tanggal 1 Juni 2008, Piala Eropa berlangsung di Swis dan Austria. Seperti biasa, jumlah perserta kejuaraan ada 16 tim yang dibagi 4 grup dan memperebutkan 8 tiket perempatfinal dan selanjutnya 4 tiket semifinal dan 2 tiket final. Sejak sebelum Piala Eropa ini digelar, beberapa kejutan telah terjadi, utamanya tidak ikutnya Ingrris di kejuaraan ini karena gagal bersaing dengan Kroasia dan Rusia.
Meski begitu, pada kejuaraan Eropa, yang telah berlangsung sejak tahun 1960 ini, tampaknya tak terpengaruh oleh ketidakhadiran Inggris. Justru menurut saya, yang layak hadir pada kejuaraan ini adalah hadirnya tim-tim non unggulan yang akan mewarnai jagad sepakbola. Orang akan mulai jenuh dengan tim-tim muka lama yang mungkin akan memenangkan kejuaraan, mereka berharap lebih banyak lagi kejutan, seperti yang terjadi di Piala Eropa 2004 lalu di Portugal dengan kemenangan Yunani di turnamen itu.
Sudah dicatat oleh beberapa pengamat sebelaumnya, bahwa Austria dan Swis ini bukanlah negara bola, tetapi negara olahraga musim dingin. Wajar negara ini selalu diselimuti es abadi dan dilindungi pegunungan Alpen yang membentang antara Swis dan Austria. Sangking identiknya dengan pengunungan Alpen ini, sampai-sampai Piala Eroba 2008 ini diberi lambing tiga pucuk gunung, yang menggambarkan Alpen. Maskot Trix dan Flix adalah mascot kembar yang melambangkan dua negara penyelenggara.
Pada kesempatan pertandingan pembukaan yang dilangsungkan di Swis, bukan kejutan jika tuan rumah langsung kalah oleh Republik Ceko. Begitupula pertandingan ketiga antara tuan ruma Austria dan Kroasia. Austria juga kalah di pertandingan pertama. Kejutan-kejutan di pertandingan awal di setiap grub belum ada, kecuali menang telaknya Belanda atas Italia, yang juara dunia dua tahun lalu dengan skor 3-0. banyak orang meramal bahwa kekalahan Italia ini akibat pasukan tua yang dibawa pelatih Dona Doni, namun menurut saya, kemenangan Belanda adalah ketangguhan tim ini, terbukti sejauh ini, Belanda kembali mengalahkan Prancis 4-1. Sementara Italia hanya mampu menahan imbang 1-1 Rumania. Di Grup ini, yaitu grup C, memang disebut grup neraka, tercatat Prancis dan Italia mungkin akan terseok dan tak lolos grup, padahal keduanya adalah finalis Piala Dunia dua tahun lalu. Bagaimana bisa begitu, saya kira wajar, sepakbola bukanlah matematika, sehingga siapa yang juara bakal selalu bisa mengalahkan tim yang lebih lemah.
Justru saya mengharapkan tim-tim tangguh ini segera bertumbangan, karena saya mengharapkan pertandingan akan lebih seru dengan tim-tim non unggulan, namun mereka mampu menjaga kualitas dan memenangi kejuaraan ini. Saya senang sekali katika Kroasia langsung tancap gas dengan mengalahkan Austria dan Jerman. Jerman yang di awal kejuaraan mampu menggilas Turki, dihajar oleh Kroasia 2-1, sehingga praktis Tim Jerman harus menang di pertandingan terakhir grup. Sementara di pertandingan grup A, Portugal yang gagah di dua pertandingan awal, nampaknya harus menelan pil phir, ketika Swis yang sudah masuk kota, memaksa mereka kalah di pertandingan itu. Dan Turki, mampu membabat Ceko yang sudah unggul 20 di babak pertama dan awal babak kedua dengan skor 2-3 di akhir pertandingan yang membuat Ceko tersingkir.
Kejuaraan Piala Eropa ini memang selalu menarik perhatian dunia, banyak menyebutkan bahwa kejuaraan ini adalah Piala Dunia mini, atau Piala dunia non-Brasil dan Argentina, sebab kejuaraan ini memang menjadi saingan seluruh negara benua biru; benua yang menyebut dirinya sebagai penemu sepakbola modern.
Hanya bagi saya, sebutan Piala Dunia mini mungkin adil, masih banyak ejuaraan lain di masing-masing benua yang menampilkan keindahan sapakbola dengan ciri khasnya. Piala Afrika yang digelar tiap dua tahun mampu memperagakan ketrampilan calon penguasa baru, setahun lalu Mesir mampu mempertahankan gelar di kejuaraan ini. Di benua Amerika, yang kejuaraannya dipecah menjadi dua, sesuai dengan induk badan sspakbolanya, yaitu Concacaf dan South America, juga dijamin selalu menarik. Concacaf menggelar Piala Emas dan di Amerika Selatan, Copa Amerika merupakan kejuaraan antar-negara tertua yang terus berlangsung hingga sekarang, Copa Amerika telah berlangsung sejak 1914. Sementara Piala Asia yang berlangsung tahun lalu di Indonesia dan tiga negara Asia Tenggara, juga sebetulnya sederajat dengan Piala Eropa yang berlangsung sekarang, yaitu levelnya tingkat benua, dan pemenang tiap benua ini akan bertarung di Piala Konfederasi yang digelar dua tahunan.
Piala Eropa telah berlangsung untuk yang ke-13 kalinya. Tercatat jerman menjadi juara terbanyak, yaitu tiga kali di tahun 1972, 1980 dan 1996, sementara Prancis sudah dua kali yaitu 1984 dan 2000. Selain itu tim-tim yang pernah juara adalah; Uni Sovyet (1960), Spanyol (1964), Italia (1968), Cekoslovakia (1976), Belanda (1988), Denmark (1992) dan Yunani (2004). Dicatat juga oleh benyak pengamat bahwa Piala Eropa sering menampilkan juara yang tidak diunggulkan, atau tepatnya tempat final yang tidak ideal. Bagi pengamat, final empat tahun lalu tidak ideal, bahkan melahirkan kejutan dengan Yunani sebagai juara, ini konon juga mengulang kejuaraan yang sama di tahun 1992, dimana Denmark memenangkannya. Ceko yang tidak diunggulkan di Piala Eropa 1996 justru lolos ke final, hal ini tercatat juga seperti lolosnya Uni Sovyet yang tak diunggulkan justru lolos ke final Euro 1988.
Sementara itu, mitos yang nampaknya selalu ada yaitu; tidak tampilnya negara yangb juara tiga di Piala Dunia sebelumnya tidak lolos ke Piala Eropa, kini sudah dipatahkan oleh Jerman. Juara ketiga Piala Dunia lalu, yaitu Jerman lolos di Piala Eropa kali ini, sebab sebelumnya Turki (juara 3 di Piala dunia 2002, tidak lolos di euro 2004), Kroasia (ketiga di 1998, tidak lolos di 2004), Swedia (ketiga 1994, tidak lolos di 1996), Italia (ketiga 1990, tidak lolos di 1992), dan seterusnya.
Bagi saya, menariknya Pial Eropa kali ini adalah perbedaan atmosfer dengan kejuaraan Piala Dunia. Piala Eropa betul betul persaingan negara-negara Eropa, dimana negara-negara non unggulan bisa terus mengejutkan hingga ke final dan bahkan sering menjadi juara. Di Piala Dunia tidak. Bisa saja banyak tim yang memunculkan kejutan, seperti Kamerun 1990, atau Korea Selatan di 2002, namun mereka tak berlanjut hingga final atau menjadi juara. Bagi dunia, mungkin hanya negara-negara yangb sudah memiliki kultur sepakbolanya, yang akan menjadi juara, buka negara-negara yang hanya menampilkan kejutan, seperti yang biasa dilakukan oleh tim Afrika atau Asia. Piala Dunia hanya menyisakan tujuh negara yang tercatat pernah menjuarainya.
Bagi saya tidak ada yang menjamin bahwa sepakbola akan selalu indah dimainkan oleh tim-tim berkultur dan memiliki sejarah sepakbola. Sepakbola kini bisa dimainkan oleh siapa saja, sepakbola telah bisa dipelajari oleh siapapun dan dari negara manapun. Tidak akan ada lagi negara-negara dominan dalam permainan ini. Prancis bisa kalah, Italia juga, Jerman bahkan tidak mungkin selalu menang. Munculnya varian tim ini bagi saya juga memunculkan banyak warna sepakbola. Saya malah berhrap, negara-negara dunia ketiga-lah yang mampu memberi kejutan. Mengapa? Sebab mereka merupakan negara yang harus menunjukkan bahwa keterlambatan berdemokrasi, bukan halangan untuk maju, bahkan terpenting adalah menunjukkan bahwa negaranya masih ada. Kalau di Eropa tak ada negara dunia ketiga, mungkin saya berharap pada negara pecahan Sovyet dan pecahan Yugoslavia yang mampu bicara. Negara ini cukup baik memainkan sepakbola. Dan eksistensi mereka atas dominasi Eropa Barat dan Eropa Utara sangat baik juga ditunjukkan pada kejuaraan ini. Eropa yang ternyata juga timpang secara ekonomi dan kesejahteraan, hanya bisa diimbangin dengan ketidaktimpangan atau kemerataan kemampuan pada tim nasional negara-negara lain, seperti pecahan Sovyet dan Yugoslavia.*
Jakarta, 16 Juni 2008.
