Catatan Piala Eropa IV

Oleh Masad Masrur

Selamat buat Spanyol. Ini memang juara pertamakainya, sejak 1964 di level Eropa. Jadi kalau dihitung memang selisih 44 tahun. Namun, prestasi ini jauh lebih baik dibanding Inggris yang katanya disebut-sebut sebagai “penemu permainan sepakbola modern’, tapi malah belum pernah juara Eropa.
Spanyol, dalam sejarah sepakbolanya sebenarnya selalu menguasai, baik di Eropa atau dunia. Tercatat sudah 9 kali, Real Madrid juara Champion Eropa, ini belum ditambah Barcelona dan klub Spanyol lainnya. Kejuaraan Piala Toyota pun, klub Spanyol juga sering juara.
Tapi memang atmosfer kejuaraan antar negara, berbeda dengan kejuaraan antar klub. Mungkin keterlibatan seluruh kota (pemilik klub) berbedea jika tim negaranya bertarung, sebab ini melibatkan emosi seluruh warga negara. Jadi klub atau tim nasional, tidak selalu sama. Meski permainannya tetap sama; sepak-menyepak bola.
Orang sering menyebut nasib Tim Nasional PSSI saat kejuaraan Piala Eropa atau Piala Dunia digelar: dimana tim kita? Di Piala Asia 2007 lalu, Tim Nasional PSSI sudah menunjukkan prestasi dan tingkat kemampuannya. Mereka hanya menang sekali, seleihnya kalah. Prestasi ini sama dengan prestasi sebelumnya di Piala Asia 2004 di China. Mereka hanya menang sekali. Sebelumnya di Piala Asia Lebanon, mereka kalah terus, dan hanya sekali seri, sama dengan Piala Asia di UEA tahun 1996. Di Piala Dunia, tim kita tak pernah lolos di kualifikasi. Asia memang hanya mendapat jatah 3 tim di kejuaraan itu, hanya di Piala Dunia 2002 Asia dapat jatah lebih, itupun karena perannya sebagai tuan rumah, yaitu Jepang dan Korea.
Di Piala Tiger, atau disebut Piala Asean. Indonesia tak pernah juara. Sejak kejuaraan ini diselenggarakan tahun 1996, kita hanya meraih runner up, tahun 2000, 2002, 2004 dan di Piala Asean terakhir kita justru tak lolos grup. Artinya prestasinya menurun di ajang ini. Dan ingat, tahun ini kita juga akan menghadapi Piala Asean.
Sebetulnya, bagaimana prestasi sebuah tim bisa naik? Apakah ini semata-mata karena bakat alami seperti halnya yang dimiliki pemuda-pemuda Brasil atau pemuda-pemuda Afrika. Ataukah dengan cara memodernisasi cara berlatih, dan memajukan mereka dengan dana yang besar, seperti di AS, Jepang dan negara maju lainnya yang mampu membiaya tim mereka dengan biaya besar. Saya kira, keduanya harus ada. Ada bakat alami dan ada dana dan perlangkat modern untuk berlatih.
Belakangan prestai negara-negara Afrika pantas untuk dicatat. Nigeria adalah juara Olympiade 1996, yaitu negara asal Afrika pertama yang mendapat mendali emas sepakbola. Tahun 2000 di Sidney, giliran Kamerun. Kamerun juga yang lolos ke perempat final Piala Dunia 1990, dan sejak itu tim Afrika Â’biasaÂ’ lolos sampai perempat final Piala Dunia. Kenapa negara-negara di Aprika capat maju di sepakbolanya? Saya kira bakat alam mereka yang kata orang seperti emas tertutup lumpur, maka nakat ini tinggal menggosok saja biar segera mengkilap. Dan Eropa tahu ini, mereka segera membeli pemain-pemainAfrika yang terkenal murah, namun prestasinya bagus. Jadi bakat alamlah yang sesungguhnya melindungi prestasi Afrika.
Kalau sepakbola modern, kita bisa mengaca pada Amerika. Tim Amerika selama ini terkenal sebagai negara ”anak bawang” dalam sepakbola. Negara itu hanya terkenal football (NFL) dan basketball nya saja. Sepakbola malah dimainkan oleh tim putri dan tim putrinya, di Piala Dunia tahun 1991 juara dunia dan diulanginya empat tahun berikutnya.
Sejak menjadi tuan rumah di Piala Dunia 1994, Amerika membentuk liga sepakbola modern yang menghasilkan tim nasional yang bagus. Tim Amerika melejit cepat. Tim AS bahkan lolos ke perempat final di Piala Dunia 2002 sebelum akhirnya disingkirkan Jerman. Ini prestasi luar biasa untuk tim yang pernah dijuluki ”anak bawang”. Kata Amerika; semua bisa mereka lakukan dengan dana dan teknologi.
Jadi kini Indonesia, negara kita bagaimana? Apakah akan ada bakat diiringi prestasi dan dana cukup untuk mengangkat timnya ke level Asia, dan Dunia.
Kayaknya kita bakal capek menunggu.*

Jakarta, Akhir Juni 2008.