Search blog.co.uk

Posts archive for: August, 2008
  • Catatan Sepakbola Olympiade

    Catatan Sepakbola Olympiade

    Baru saja saya menyaksikan sepakterjang anak-anak Nigeria di semifinal I cabang sepakbola melawan belgia. Lincahnya mereka membungkam Belgia 4-1. Nigeria lolos meyakinkan ke final.
    Tak dimungkiri Nigeria adalah kekuatan menakutkan dari benua Afrika di cabang sepakbola ini. Seingat saya, mengenal Nigeria pertama kali adalah ketika mereka menang di Piala Afrika tahun 1994. Beberapa bulan kemudian tim ini tampil di Piala Dunia 1994 di Amerika; hasilnya mereka lolos ke perempat final dan kalah kurang beruntung melawan Italia di perpanjangan waktu.
    Saat itu ada Rasyidi Yekini sebagai ‘sesepuh’ Nigeria. Ia tampil sebagai Roger Milla-nya Nigeria. Ia memang sudah tua, tapi penampilannya di Piala Dunia 1994 mencatatkan negara ini adalah negeri sepakbola Afrika yang paling pantas membuat kejutan kelak. Bukan hanya kejutannya Kamerun, tapi Nigeria mungkin akan menjadi juara dunia. Nantikan di Piala Dunia 1998, mereka sangat menjanjikan .
    Dua tahun berikutnya, Nigeria betul-betul menjadi juara dunia; mereka merebut mendali emas di Olympiade 1996 di Atlanta. Dan betul apa yang diramalkan banyak pengamat; Nigeria adalah kekuatan baru Afrika yang pernah menjadi juara di Olympiade.
    Saat menulis catatan ini, saya menyaksikan semifinal lain; Brasil lawan Argentina. Ada Messi, Kun Aguero sebagai bintang Argentina. Di Brasil ada Alexander Pato dan Ronaldiho. Cuma Brasil kali ini tak diunggulkan.
    Benar saja, Brasil menadi bulan-bulanan Argentina. Oleh Messi dan Aguero. Messi meliuk-liuk bagai belut dan Argentina menenggelamkan Brasil 3-0. Brasil frustasi, dua kartu merah di akhir babak II memperlihatkan Brasil frustasi.
    Kekalahan Brasil ini tentu saja memperpanjang kutukan buat tim ini; mereka tidak pernah mendapat emas di Olympiade, biarpun telah mencatatkan diri sebagai negara yang lima kali juara dunia. Prestasi Brasil hanya perak di Olympiade 1988. Saat itu Romario dan Bebeto bintangnya, kalah lawan Uni Sovyet.
    Final besok, Argentina akan berusaha revans dengan Nigeria. Revans ini tentu untuk membalas kekalahan mereka di final Atlanta 1996. Catatan final besok (23/08) jam 10.30 pagi juga menghadirkan Argentina sebagai juara bertahan, yaitu emas di Olympiade sebelumnya: Athena 2004. Saat itu, bintang Argentina adalah Carlos Tevez.
    Sedikit meramalkan pertandingan final besok, saya sulit berpihak ke tim Argentina atau Nigeria. Keduanya memiliki sejarah Olympiade yang bagus. Argentina pernah kalah di final 1996 tapi kini Argentina juara bertahan Olympiade. Sementara Nigeria sedang bagkit seperti tahun 1994 dan 1996. Pelatih Samson Sia Sia adalah pemain yang pernah dikalahkan oleh Maradona cs di Piala Dunia 1994, yaitu pertandingan terakhir Maradona sebelum ketahuan doping. Sementara pelatih Argentina, Sergio Batista, adalah pemain yang saya ingat sebagai salah satu anggota tim Argentina 1986 Mexico. Waktu itu ia brewok dan selalu mengamankan Maradona dari jegalan pemain lawan.
    Jika kedua tim bertemu, mungkin Argentina yang akan menang. Tapi ini sulit. Argentina baru bisa mengalahkannya di perpanjangan waktu atau adu pinalti. Catatannya hanyalah; Argentina pernah kalah memalukan di Piala Dunia 1990 oleh tim asal Afrika lainnya yaitu Kamerun. Padahal, saat itu mereka adalah jaua bertahan.
    Hidup Afrika dan sepakbola.

    Jakarta, 19 Agustus 2008.

  • CATATAN Olympiade 2008

    CATATAN Olympiade 2008

    Olympiade 2008 baru saja dimulai. Tepatnya pada waktu pukul 08.08 malam tanggal 8 bulan Agustus tahun 2008. Ditulia angka, maka 08.08.08.08.08. Bagi Cina ini waktu yang bagus dan tepat secara angka dan nasib baik. Dan pada pembukaan Olympiade kali ini, Cina telah membuktikan kepada dunia bahwa ia memiliki peradaban besar, mungkin terbesar saat ini.
    Secara runtut, sejarah Cina tergambar jelas pada situs-situsnya, yaitu peninggalan-peninggalan kekaisaran dinasti di Cina yang hampir selalu meninggalkan bekas. Yang paling fenomenal adalah pasukan Terakota, yaitu deretan prajurit Dinasiti Han yang ditemukan tahun 1974. Sejarah Cina sudah ada sejak 2000 tahun sebelum masehi. Sejarah kalender merekapun jauh sebelum ada kalender Masehi.
    Cina memang selalu membuat perhatian saya. Mereka ini ’beda’ dengan orang dan peradaban lain di dunia ini. Mereka tidak seperti Jepang yang maju dengan amat cepat setelah Restorasi Meiji dan kekalahan Perang Dunia II. Cina penduduknya 1,5 milyar orang, itupun belum yang menyebar di seluruh dunia. Cina juga cepat bangkit setelah 10 tahun lalu pun tak seorangpun mampu meramalkan bahwa mereka mampu meyelenggarakan Olympiade. Sebab saat itu mereka masih tertinggal jauh dari Jepang atau Korea Selatan.
    Tapi kini, siapa yang akan melihat sebelah mata lagi? Cina akan menguasai medali emas di olympiade ini. Hanya Amerika yang menjadi ancaman.
    Pembukaan Olympiade sangat meriah di Stadion Sarang burung (bird net). Penyalaan obor Olympiade sangat menakjubkan setelah sebelumnya banyak tarian filosofis Cina yang dipersembahkan oleh ratusan penari.
    Tapi sayang, pembukaan Olympiade ini segera diikuti pernyataan perang Presiden Georgia, Shakasvili melawan ’pemberontak’ Ossetia Selatan yang diabantu Rusia. Perang pecah di wilayah Ossetia selatan dan baku tembang terus berlangsung antara dua pasukan tersebut.
    Perang ini mempengaruhi Olympiade. Meski, atlet kedua negara menyatakan tetap fair menjaga sportivitas, tetapi sulit orang membayangkan keterpautan antara situasi poltik dan olahraga antar negara tersebut.
    Memang, masih ada beberapa negara yang terlibat ’perang’ baik fisik maupun psikologis. Dunia ini memang belum aman betul. Tercatat masih ada beberapa negara yang terlibat kekerasan, kalau tidak disebut perang antar negara, seperti Israel-Palestina, Pakistan-India, Iran-Amerika dan lain-lain. Jangan lupa, Cina, sebagai tuan rumahpun tidak bersih dari konflik politik dengan Taiwan juga Tibet.
    Sekedar catatan, kita pernah tahu begitu politisnya Olympiade: di Berlin tahun 1936, Hitler begitu jumawa dengan paham fasisnya. Dua Olympiade gagal saat Perang Dunia II berlangsung. Di Munich 1972, atlet Israel di sandera oleh teroris. Di Olympiade Montreal Kanada 1976 diboikot beberapa negara Afrika. Di Olympiade 1980 Moskwa, tim Amerika Serikat (termasuk Indonesia) menolak hadir, akibat protes invasi Soviet ke Afganistan. Los Angeles 1984 tanpa kehadiran Soviet sebagai balasan Amerika yang tak hadir di Moskwa. Baru sesudah ini, Olympiade lebih aman dari nuansa politik, meski tidak bersih benar.
    Akankah Olympiade benar-benar bersih dari dunia politik. Saya kira tidak.

    Boyolali 08 Agustus 2008.

  • Catatan PON Ke-17 Kalimantan Timur

    Catatan PON Ke-17 Kalimantan Timur

    Semalam (17/07) Pekan Olahraga Nasional (PON) ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. PON yang menghasilkan pengumpul medali terbanyak, Jawa Timur (139), DKI Jakarta (119) Kalimantan Timur (116) dan seterusnya, selama ini berlangsung cukup meriah. Stadion Utama Palaran yang dibangun megah, yang memang disediakan untuk acara PON ini, menjadi saksi bahwa Kaltim sanggup menjadi tuan rumah yang baik dalam perhelatan nasional ini.
    Jujur saja, persiapan PON Kaltim ini sangat membuat ketar-ketir. Gubernur Kaltim dipenjara karena korupsi. Begitu juga Bupati Kutai Kartanegara, dipenjara karena korupsi. Praktis dua pemimpin, yang paling tidak, mempengaruhi kemenangan Kaltim sebagai tuan rumah PON dulu, tidak ada lagi pada saat PON dimulai. Orang bilang, Kaltim kehilangan induk. Dan tentu saja ini sangat mempengaruhi kesiapan Kaltim sebagai tuan rumah. Stadion utama yang dibuat mirip dengan stadion di Jepang, dan beberapa venue olahraga, hampir tidak ada satupun yang diuji coba sebelum PON ini. Wajar, sebab sarana pertandingan ini baru bisa dipakai pada saat hari pelaksanaan saja. Bahkan sekeliling vanue, masih banyak ruang yang berantakan dan atlet dari beberapa provinsi enggan menempati lokasi penginapan yang ’belum jadi’. Mereka memilih tempat yang dekat dengan lokasi olahraga dengan rela membayar penginapan di sekitar stadion dengan membayar lebih mahal di rumah-rumah penduduk.
    Sebelum uacara penutupan yang berlangsung meriah di Palaran, pertandingan final sepakbola dilangsungkan. Jatim melawan Papua, pertandingan final ulangan PON lalu di Palembang. Pemenang pertandingan ini adalah Jatim dengan skor hanya 1-0. Prestasi ini memperkuat prestasi Jatim sebagai juara sepabola PON empat kali berturut turut dengan catatan final PON di Palembang lalu, harus berbagi mendali emas, karena ditetapkan sebagai juara bersama dengan Papua.
    PON yang berlangsung empat tahun sekali, sejak pemerintahan Orde Baru, memang selalu digelar di Jakarta. Akbatnya, persebaran sarana olahraga juga terhambat, karena hampir setiap daerah tak memiliki kesempatan untuk mengembangkan sarana olahraga yang baik, yang mampu menjadi tuan rumah PON.
    PON Jatim yang digelar tahun 2000 membuka desentralisasi pelaksana PON. Waktu itu tuan rumah membuat stadion megah di Sidoarjo. Stadion ini memenuhi standar internasional, paling tidak standar Asia, dan kini menjadi kandang Deltra Sidoarjo. Deltra Sidoarjo sendiri adalah klub sepakbola kebanggan Jatim setelah Persebaya yang belakangan surut prestasi.
    Empat tahun berikutnya di ke-16 PON Sumatera Selatan, tuan rumah juga membuat stadion megah berstandar internasional yang kini menjadi kandang Klub Sriwijaya FC. Sriwijaya FC, siapapun tahu, klub ini barusaja memenangi double winner di liga Indonesia dan Piala Indonesia (Dji Sam Soe). Banyak orang menilai, inilah era desentralisasi sarana dan prestasi olahraga, dari Jakarta (Jawa) ke luar Jawa, yang mungkin, jika dimulai dari dulu, prestasi dan sarana olahraga akan lebih merata di berbagai daerah di Indonesia. Dengan kemenangan ini tentu saja Sriwijaya FC akan mewakili Indonesia di Piala Champion Asia, dan mestinya juga AFC Cup.
    Stadion Utama Palaran, yang menjadi ajang PON ke-17 kali ini juga diharapkan mampu melahirkan klub terbaik dengan sarana terbaik yang dimiliki Kalimantan Timur. Klub PKT Bontang, yang menjadi kebanggaan masyarakat Kaltim, mungkin akan menempati stadion ini sebagai kandang. Meski disayangkan oleh masyarakat sekitarnya, karena stadion ini berada diluar bontang, namun untuk memulai menempati stadion kapasitas 30.000 dan berstandar internasional, PKT Bontang kemungkinan besar bisa juara disini.
    Menurut laporan Kompas (18/07), Stadion Palaran dibangun dengan biaya Rp. 1,1 Trilyun dari total anggaran seluruh biaya penyelenggaraan PON Rp. 4,5 Trilyun. PON yang berlangsung di empat kota, yaitu Samarinda, Bontang dan Tarakan, dan dua kabupaten yaitu Berau dan Kutai Kartanegara, tercatat sebagai PON dengan biaya terbesar. Paling tidak sampai saat ini. Jadi, amat disayangkan kalau pasca PON, sarana olahraganya terbengkalai tanpa prestasi.
    Kini, sesudah PON Kaltim usai, kita tinggal menunggu giliran Riau sebagai tuan rumah PON berikutnya. Dari maket stadion Palembang yang akan dibuat, saya melihat stadion ini mirip stadion de Quip Roterdam. Yaitu stadion milik PSV Eindhoven Roterdam Belanda. Mungkin lebih cantik stadion ini. Bangunan ini akan megah di kompleks Universitas Riau Palembang.
    Sekedar catatan, tuan rumah PON 2012 ini berebut antara Jabar, Jateng dan Riau. Kayaknya Riau ’dimenangkan’ oleh KONI dan Menpora sebagai tuan rumah, sebab kotak suara pemungutan tuan rumah PON ini tidak dihitung di muka kongres KONI, tetapi oleh Ketua KONI dan Menpora, dan langsung diumumkan bahwa Riau adalah tuan rumahnya.
    Melihat kemampuan beberapa tuan rumah PON yang telah berlangsung beberapa edisi lalu, saya sedikit berfikir, jika tidak ada sentralisasi PON di Jakarta pada era Orde Baru, mungkin akan lebih banyak lagi stadion yang akan dibuat sehingga kita layak menggelar pertandingan tingkat Internasional seperti halnya Malaysia dan Singapura. Jadi segeralah mengejar ketertinggalan!!

    Boyolali 18 Juli 2008.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.