Catatan PON Ke-17 Kalimantan Timur
Semalam (17/07) Pekan Olahraga Nasional (PON) ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. PON yang menghasilkan pengumpul medali terbanyak, Jawa Timur (139), DKI Jakarta (119) Kalimantan Timur (116) dan seterusnya, selama ini berlangsung cukup meriah. Stadion Utama Palaran yang dibangun megah, yang memang disediakan untuk acara PON ini, menjadi saksi bahwa Kaltim sanggup menjadi tuan rumah yang baik dalam perhelatan nasional ini.
Jujur saja, persiapan PON Kaltim ini sangat membuat ketar-ketir. Gubernur Kaltim dipenjara karena korupsi. Begitu juga Bupati Kutai Kartanegara, dipenjara karena korupsi. Praktis dua pemimpin, yang paling tidak, mempengaruhi kemenangan Kaltim sebagai tuan rumah PON dulu, tidak ada lagi pada saat PON dimulai. Orang bilang, Kaltim kehilangan induk. Dan tentu saja ini sangat mempengaruhi kesiapan Kaltim sebagai tuan rumah. Stadion utama yang dibuat mirip dengan stadion di Jepang, dan beberapa venue olahraga, hampir tidak ada satupun yang diuji coba sebelum PON ini. Wajar, sebab sarana pertandingan ini baru bisa dipakai pada saat hari pelaksanaan saja. Bahkan sekeliling vanue, masih banyak ruang yang berantakan dan atlet dari beberapa provinsi enggan menempati lokasi penginapan yang Â’belum jadiÂ’. Mereka memilih tempat yang dekat dengan lokasi olahraga dengan rela membayar penginapan di sekitar stadion dengan membayar lebih mahal di rumah-rumah penduduk.
Sebelum uacara penutupan yang berlangsung meriah di Palaran, pertandingan final sepakbola dilangsungkan. Jatim melawan Papua, pertandingan final ulangan PON lalu di Palembang. Pemenang pertandingan ini adalah Jatim dengan skor hanya 1-0. Prestasi ini memperkuat prestasi Jatim sebagai juara sepabola PON empat kali berturut turut dengan catatan final PON di Palembang lalu, harus berbagi mendali emas, karena ditetapkan sebagai juara bersama dengan Papua.
PON yang berlangsung empat tahun sekali, sejak pemerintahan Orde Baru, memang selalu digelar di Jakarta. Akbatnya, persebaran sarana olahraga juga terhambat, karena hampir setiap daerah tak memiliki kesempatan untuk mengembangkan sarana olahraga yang baik, yang mampu menjadi tuan rumah PON.
PON Jatim yang digelar tahun 2000 membuka desentralisasi pelaksana PON. Waktu itu tuan rumah membuat stadion megah di Sidoarjo. Stadion ini memenuhi standar internasional, paling tidak standar Asia, dan kini menjadi kandang Deltra Sidoarjo. Deltra Sidoarjo sendiri adalah klub sepakbola kebanggan Jatim setelah Persebaya yang belakangan surut prestasi.
Empat tahun berikutnya di ke-16 PON Sumatera Selatan, tuan rumah juga membuat stadion megah berstandar internasional yang kini menjadi kandang Klub Sriwijaya FC. Sriwijaya FC, siapapun tahu, klub ini barusaja memenangi double winner di liga Indonesia dan Piala Indonesia (Dji Sam Soe). Banyak orang menilai, inilah era desentralisasi sarana dan prestasi olahraga, dari Jakarta (Jawa) ke luar Jawa, yang mungkin, jika dimulai dari dulu, prestasi dan sarana olahraga akan lebih merata di berbagai daerah di Indonesia. Dengan kemenangan ini tentu saja Sriwijaya FC akan mewakili Indonesia di Piala Champion Asia, dan mestinya juga AFC Cup.
Stadion Utama Palaran, yang menjadi ajang PON ke-17 kali ini juga diharapkan mampu melahirkan klub terbaik dengan sarana terbaik yang dimiliki Kalimantan Timur. Klub PKT Bontang, yang menjadi kebanggaan masyarakat Kaltim, mungkin akan menempati stadion ini sebagai kandang. Meski disayangkan oleh masyarakat sekitarnya, karena stadion ini berada diluar bontang, namun untuk memulai menempati stadion kapasitas 30.000 dan berstandar internasional, PKT Bontang kemungkinan besar bisa juara disini.
Menurut laporan Kompas (18/07), Stadion Palaran dibangun dengan biaya Rp. 1,1 Trilyun dari total anggaran seluruh biaya penyelenggaraan PON Rp. 4,5 Trilyun. PON yang berlangsung di empat kota, yaitu Samarinda, Bontang dan Tarakan, dan dua kabupaten yaitu Berau dan Kutai Kartanegara, tercatat sebagai PON dengan biaya terbesar. Paling tidak sampai saat ini. Jadi, amat disayangkan kalau pasca PON, sarana olahraganya terbengkalai tanpa prestasi.
Kini, sesudah PON Kaltim usai, kita tinggal menunggu giliran Riau sebagai tuan rumah PON berikutnya. Dari maket stadion Palembang yang akan dibuat, saya melihat stadion ini mirip stadion de Quip Roterdam. Yaitu stadion milik PSV Eindhoven Roterdam Belanda. Mungkin lebih cantik stadion ini. Bangunan ini akan megah di kompleks Universitas Riau Palembang.
Sekedar catatan, tuan rumah PON 2012 ini berebut antara Jabar, Jateng dan Riau. Kayaknya Riau Â’dimenangkanÂ’ oleh KONI dan Menpora sebagai tuan rumah, sebab kotak suara pemungutan tuan rumah PON ini tidak dihitung di muka kongres KONI, tetapi oleh Ketua KONI dan Menpora, dan langsung diumumkan bahwa Riau adalah tuan rumahnya.
Melihat kemampuan beberapa tuan rumah PON yang telah berlangsung beberapa edisi lalu, saya sedikit berfikir, jika tidak ada sentralisasi PON di Jakarta pada era Orde Baru, mungkin akan lebih banyak lagi stadion yang akan dibuat sehingga kita layak menggelar pertandingan tingkat Internasional seperti halnya Malaysia dan Singapura. Jadi segeralah mengejar ketertinggalan!!
Boyolali 18 Juli 2008.
