Sedihnya Nonton Bola di Stadion Senayan
Catatan Piala AFF 2008
Pertandingan pertama Indonesia lawan Myanmar, kita sempat bermain luar biasa dan menang tiga gol tanpa balas. Pertandingan kedua tim kita juga menang 4 gol tanpa balas. Pertandinag ini berlangsung di Senayan, stadion kebanggan kita. Stadion yang hanya berubah nama tatkala megawati menjadi presiden, dari Stadion Utana Senayan Jakarta, menjadi Stadion Gelora Bung Karno.
Seingat saya, nama stadion ini awalnya memang Stadion Gelora Bung Karno, kemudiaan saat Orde Baru berubah menjadi Stadion Utama Senayan dan era Megawati kembali ke nama sebelumnya, yaitu Gelora Bung Karno. Memang, sampai saat ini kita baru bisa merurubah nama saja, tanpa membuat stadion baru seperti Stadion Senayan ini. Stadion ini sangat besar, dan pada zamannya mungkin hanya dikalahkan oleh Stadion Azteca di Meksiko dan Stadion Maracana di Brasil. 120 penonton mampu ditampung dengan nyaman di stadion ini, dan kita bebas berteriak-teriak didalamnya dan tidak lupa sambil membentuk gerakan bergelombang, Mexican Wave di sana.
Tapi kalau melihat saat ini, tentu saja stadion kita kalah dengan stadion-stadion besar yang dibangun, terutama di Eropa. Stadion Nou Camp Barcelona dan Stadion La Bombonera milik Boca Juniors di Argentina sudah menyaingi stadion kita, dengan tentu saja, kualitas dan kenyamanan yang berbeda. Stadion Senayan, begitu anda memasukinya, anda akan menemui aroma tidak sedap, banyak bau kencing di pojokan. Awalnya dulu, saat saya masuk ke stadion ini pertama kali, bangunannya sudah tua dan banyak coretan di sana sini, misalnya coretan dari Jackmania, Bobotoh, Bonek Mania dan lain-lainnya yang tentu saja khas. Tapi, pas kita menjadi tuan rumah Piala Asia tahun lalu, stadion ini dibersihkan, meskipun bangku-bangkunya masih kotor dan terbuat dari kayu yang awet. Saya membayangkan, stadion ini kursinya memang tidak terbuat dari plastik, tapi kayu yang mudah dibakar kalau lagi rusuh. Kursi yang bagus cuma di tribun VIP saja.
Melihat stadion ini, saya memandingkan dengan Stadion termegah di solo, gelora Manahan. Stadion ini terhitung mewah dan modern, paling tidak jika dibandingkan dengan Stadion Sriwedari. Manahan, bangunanya lebih bagus, meski tanpa menggunakan kursi, hanya di VIP saja kursinya. Dan yang paling tidak pernah saya lupakan adalah, nonton Pelita Solo sambil berdiri di stadion ini, berlonjak-lonjak sampai pertandingan habis, dan hujan pula. Tapi kalau di Senayan, lebih aman, masalahnya hanya tiket saja. Di Manahan, dulu saya biasa nonton tanpa tiket dan melompat pagar sambil digebugi petugas. Di Senayan, ini sulit terjadi. Banyak petugas bertampang seram, dan jauh sebelum masuk pagar, tiket sudah dicek. Praktis, nonton di senayan harus bayar.
Mau bayar atau tidak, aku senang menonton PSSI main. Biar menjemukan dan dijamin tidak selalu menang. Ada beberapa pertandingan di Senayan yang beda dibanding jika dilihat di TV. Emosi, tentu saja terlibat lebih dalam dan aromanya ngeri. Ingat, beberapa pertandingan, terutama pertandingan antar klub, sering berakhir rusuh. Kita harus nyelip sana-sini supaya tak kena lemparan botol dan kejaran polisi.
Yang asyik, memang kalau tim kita menang dan bisa bergelombang mexican wave dengan penonton seluruh Stadion. Sebetulnya apa Mexican Wave. Kata orang, sejarahnya di Piala Dunia 1986 di Mexico. Gerakan bergelombang melingkar di seluruh stadion ini bermula disitu. Di salah satu pertandingan di Piala Dunia ini. Kemudian gerakan ini disebut gerakannya orang-orang di Mexico yang nonton di Piala Dunia, dan selanjutnya disebut Mexican.
Oh ya. Saya kira, saya memang mau menulis soal Piala AFF tahun ini. Sedih menyaksikan kita kalah lawan Singapura dan Thailand. Saya melihat, pemain kita kecapekan dan Firman Utina, salah satu gelandang penyerang kita pingsan di lapangan. Faktor fisik ini, konon memang selalu jadi masalah di tim kita. Apalagi jika ditambah dengan mental yang terus merosot jika berhadapan dengan tim kuat, permainannya sama sekali tidak enak dan menggemaskan. Ada apa dengan pemain-pemain kita sebenarnya. Sungguhkah kita selalu kalah dengan tim yang lebih kuat dan tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki mental bertanding. Saya kira kesempatan untuk menang di Piala AFF kali ini masih ada. Paling tidak pada leg kedua kita lawan Thailand di Bangkok. Cuma maslaahnya di leg pertama di Senayan, kita sudah kalah duluan 1-0. Jadi kalau mau sukses, kita harus membuat gol disana, minimal 1-0 dan mengharapkan menang di adu pinalti. Bisakah??
Jakarta, 17 Desember 2008.
