Bukan Menjadi Penulis Mendadak
Judul Buku : Senyum Untuk Calon Penulis
Pengarang : Eka Budianta
Penerbit : Alvabet, Jakarta
Cetakan : Pertama, September 2005
Halaman : 274
Sejak kita mengenal bangku sekolah, SD atau mungkin TK, kita diperkenalkan dengan huruf dan tulisan. Dan sejak itu pula kita belajar menulis, sekaligus membaca. Akan tetapi, lama sekali sejak kita mengenal tulisan itu kita belajar merubah diri kita untuk lebih mengenal dunia lewat sandi-sandi, tulisan itu sendiri.
Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad, sempat kita mempelajari hakikat sebuah tulisan: Ilmu adalah buruan, Tulisan sebagai pengikatnya; Ikatlah buruanmu dengan tali yang kukuh! Jadi mungkin kita tidak akan dikenal selama-lamanya jika kita tidak ‘meninggalkan sesuatu’ untuk dipelajari oleh umat sesudahnya. Ilmu amat berperan penting untuk mewujudkan ‘peninggalan’ kita itu. Kebiasaan-kebiasaan sebuah masyarakat akan berhenti tatkala perilaku mereka sudah tidak relevan dengan zaman. Akan tetapi ilmu tersebut akan abadi jika tulisan mampu mempertahankannya, dan dipelajari oleh setiap umat di zaman-zaman berikutnya.
Namun sungguhkan tulisan itu mampu merubah perilaku? Dalam kumpulan tulisannya, Eka Budianta, yang juga kita kenal sebagai seorang penuis fiksi mengatakan bahwa, jika berita saja mungkin tidak (mengubah perilaku). Tetapi, provokasi, ya dan salah satu bentuk provokasi mutakhir adalah tulisan. Tulisan perlu lebih dari sekedar obyektif, perlu menggigit dan menyeret pembaca ke ‘jalan yang benar’. Inilah konsep inti menulis.
Dan bentuk-bentuk tulisan yang dipileh oleh seorang penulis adalah yang paling efektif menurutnya. Penulis fiksi, bukanlah sekedar penjual mimpi belaka. Ia adalah sedang ‘memprovokasi’ pembacanya untu ‘melakukan sesuatu’ sesuai yang ia tangkap dan butuhkan dari hasil membaca fiksi tersebut. Penulis membutuhkan jiwa merdeka untuk mampu mengantarkannya menjadi ‘provokator sejati’.
Di sebuah negeri, ada seorang yang pandai menari. Bila ia menari, semua orang ikut gembira. Ada yang menyanyi, memainkan musik, memukuli apa saja dan ikut menari. Kalau ia menari di pasar, semua ikut menari. Jalanan jadi kacau, lalu-lintas macet. Tetapi ketika ia manri di penjara, semua narapidana ikut menari. Penguasa marah dan memotong tangannya. Ia menari dengan kakinya. Dipotong kakinya, ia menari denga badan dan kepalanya. Dipotong lehernya, ia menari dengan matanya. Dan semakin banyak orag yang ikut menari. Penguasa menjadi kesal, “bagaimana caraya menghentikan tarianmu?”. Penari itu menjawab, “untuk menari, saya tidak memerlukan musik. Untuk menari saya tidak membutuhkan kaki dan tangan. Untuk menari saya hanya memerlukan jiwa yang merdeka”.
Begitu juga seorang penulis sejati. Modal utamanya bukanlah komputer canggih. Bukan tinta emas, bulu angsa. Bukan selembar surat perintah dan syarat-syarat sayembara. Bukan juga susasana tentram, langit yang sunyi dan makanan yang enak-enak, kamar dengan alat pendingin dan pelayan yang siap sedia. Modal utama penulis adalah jiwa yang merdeka. Dia bergerak karena hatinya bebas. Pikirannya luas, karena jiwanya leluasa.
Semenjak kita belajar menulis, semenjak itu pula membaca adalah rangkaian dari kepintaran kita. Indikator kemajuan sebuah peradaban manusia adalah, menulis membaca dan berhitung. Sebab mereka adalah alat kemajuan komunikasi. Dengan komunikasi, seorang anak bias meminta perlindungan dan kasih sayang orang tua, pacar bisa merayu kekasih dan seorang kandidat bisa merayu masa. Tulisan adalah salah satu bentuk paling menarik untuk berkomunikasi dengan sebuah gaya. Ia dapat dibaca ketika orang tua sedang jauh dari anaknya, ketika kekasih jauh dari pacarnya dan ketika masa jauh dari seorang kandidat yang harus dipilihnya.
Maka merupakan suatu seni dan bentuk dari jiwa merdeka, tatkala seorang anak mendapatkan kasih sayang yang diharapkan dari orang tuanya. Dan bentuk romantisme yang kuat tatkala sang pacar membolak-balik surat cinta pertamanya. Lantas bukan pula suatu kesalahan saat seorang kandidat ‘mendadak menjadi penulis yang handal’ untuk memprovokasi masa, dengan berbagai buku yang ia terbitkan dalam waktu yang relatif singkat. Hanya kadang-kadang kita perlu menyadari bahwa ternyata tulisan juga menjadi sebuah ‘kebutuhan’ sesaat. Yaitu pada saat butuh kasih sayang, butuh ‘curhat’ dan butuh memprovokasi masa.**
Oleh Masad Masrur Dipublikasikan di Majalah Gerbang PEMUDA Edisi Vol. 1 No. 1. September 2005
