Pemuda di Antara Pragmatisme dan Idealisme

Judul Buku:
Pemuda dan Dinamika Kebangsaan: Potret Nasionalisme Kaum Muda di Tengah
Arus Globalisasi dan Reformasi
Penulis :
Idrus Marham
Editor:
M Alfan Alfian M
Cetakan ke-1 Desember 2005
Diterbitkan oleh:
Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI)
dan World Asembly of Youth (WAY)

Sesungguhnya, pemuda saat ini sedang megayuh di dua karang. Pragmatisme dan idealisme. Pilihan ini sungguh tak muda dilakukan, sebab diantaranya menjanjikan kemudahan dan kesenangan.
Pada konteks waktu sekarang, ketika masyarakat melihat pemuda, sering terjadi persepsi yang cukup negatif mengenai pemuda. Pemuda selalu dikaitkan dengan narkoba, seks bebas, tawuran atau hidup yang “serba hura-hura”. Tidak jarang pendapat dari sejumlah mantan pemimpin memberikan pernyataan kesimpulan bahwa generasi muda sekarang sudah tidak nasionalis dan tidak memiliki jiwa patriotis lagi. Penilaian ini terutama dilakukan oleh pemuda dalam periode ’Mempertahankan Kemerdekaan’, yang tampil “memanggul” senjata. Mereka rata-rata adalah pemuda-pemuda yang ketika itu berusia 14-23an tahun. Mereka inilah nanti yang disebut sebagai sebuah angkatan baru, yaitu angkatan 1945.
Dalam proses perjuangan bangsa, yang tampil ke permukaan untuk melakukan perubahan memang mereka yang dikategorikan pemuda. Mereka itu tidak sekedar pemuda dalam pengertian usia, melainkan juga memiliki sifat-sifat dalam arti kualitas tertentu; misalnya mereka pada umumnya cerdas, tetapi juga biasanya memiliki keberanian, kualitas lain yang juga menjadi ukuran bagi pemuda yang mengubah itu ialah adanya kejujuran.
Mereka yang tampil sebagai penggerak dan pemikir dalam periode Pergerakan Rakyat, adalah pemuda-pemuda yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, mereka adalah pelajar-pelajar, mahasiswa-mahasiswa bahkan sarjana-sarjana di pelbagai bidang ilmu. Dengan latar pendidikan yang demikian itu, tentu misalnya jika mereka bersedia untuk “berkolaborasi”, bekerja di instansi-instansi pemerintah kolonial. Tentu saja mereka akan mendapatkan posisi tertentu yang akan memberikan peluang bagi mereka untuk “menikmati” kehidupan yang lebih baik, “lebih enak”. Sebagai contoh, Bung Karno dan Bung Hatta lebih bersedia untuk tampil sebagai pemimpin pergerakan padahal jika mereka berdua bersedia bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah kolonial tentu mereka akan memperoleh peluang untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas kebendaan yang akan membawanya pada situasi penikmatan kehidupan sebagimana yang pada umumnya diharapkan oleh orang pada dirinya.
Apa yang kita saksikan ialah pemuda tampil untuk mengubah nasib bangsanya dari bangsa yang terjajah-tertindas menjadi bangsa merdeka yang menegakkan Negara merdeka. Karena sikapnya itu, mereka semua menerima imbalan, yaitu kenyataan hidup yang menderita. Para pejuang ini menampilkan sebuah keberanian yang khas, yaitu berani menderita.

Realitas Kepemudaan
Sesungguhnya, Â’pemudaÂ’ bukan hanya sekedar lapisan sosial dalam masyarakat yang memainkan peran penting dalam perubahan sosial. Tetapi, jauh dari itu, pemuda merupakan konsep yang menerobos definisi pelapisan sosial tersebut, terutama terkait dengan konsepsi tentang nilai-nilai.
Taufik Abdullah menilai; “Pemuda” atau “generasi muda” adalah konsep-konsep yang sering diberarti oleh nilai-nilai. Hal ini terutama disebabkan karena keduanya bukanlah semata-mata istilah ilmiah tetapi sering lebih merupakan pengertian ideologis dan kultural. “Pemuda harapan bangsa”, “Pemuda pemilik masa depan” atau “Pemuda harus dibina” dan sebagainya, memperlihatkan betapa saratnya nilai yang telah terlekat pada kata “pemuda” tersebut. Catatan Taufik tersebut menarik, dan dalam konteks Indonesia menemukan relevansinya. Sebab berbicara soal sosok pemuda, memang kerap identik dengan, membicarakan nilai-nilai yang dilekatkan padanya. Dan, sosok pemuda, selalu dikaitkan dengan peran sosial (dan politik) yang dilakukannya. Hal ini dapat dipahami, mengingat sosok pemuda telah tercitra sebagai sosok yang melekat dengan hakikat perubahan sosial (politik).
Realitas kepemudaan kita di dalam spektrum yang luas itu merupakan refleksi yang muncul, tatkala memotret realitas kepemudaan kita dewasa ini. Pertama, pemuda kita berada dalam, meminjam Mohammad Hatta, “Mendayung diantara dua karang”. Sesungguhnya fenomena ini bersifat klasik dan sudah muncul sejak dulu: bahwa pemuda memiliki idealisme (cita-cita utama) di satu sisi, namun di sisi lain dihadapkan pada realitas kehidupan yang kerap jauh dengan segenap cita-cita dan harapan yang ada. Posisi pemuda berada di antara “karang idealisme” dan “karang pragmatisme”.
Kedua, pemuda masa kini memiliki tantangan yang lebih kompleks dibanding dengan generasi muda masa lalu. Dinamika kehidupan masa kini, dipengaruhi oleh banyaknya faktor, yang satu pihak menciptakan kemajuan-kemajuan dalam fasilitas kehidupan (akibat perkembangan teknologi), pihak lain cenderung mengarah sebaliknya, mendorong kemunduran. Lingkungan eksternal yang demikian cepat berubah, menuntut respons yang tepat dan cerdas agar tidak terjebak pada kemunduran.
Ketiga, pemuda masa kini memiliki referensi yang lebih beragam, untuk menentukan sikapnya dalam memandang ragam persoalan mutakhir. Referensi itu didapat dari makin berjalannya waktu, dengan beragam kejadian yang melingkupinya, sehingga pemuda bisa menengok ke belakang, proses sejarah kehidupan bangsa. Referensi itu juga didapat dari pola pergaulan mereka yang makin luas, antara lain seiring dengan tingkat pendidikan yang ditempuh. Referensi itu tidak hanya didapat dari para orang tua mereka, namun dari proses pergaulan dan pengalaman pendidikan (pencerdasan) yang dicapainya, melalui proses dialektika dan perkembangan wacana.
Keempat, pemuda dewasa ini berada diposisi pergeseran nilai. Apa yang dipandang tidak pantas di masa lampau, bisa jadi tidak demikian halnya kini. Apa yang dulu dianggap baik, bisa jadi tidak demikian halnya kini. Pergeseran nifai-nilai kehidupan (cara memandang hidup dan memaknai sesuatu) dalam masyarakat, biasanya memikirkan aspek-aspek normatif. Lagi-lagi, pemuda dituntut untuk mampu menyikapi realitas pergeseran nilai tersebut dengan ragam referensi yang dimilikinya, pemuda berupaya meresponnya cara tepat, sehingga tidak terjebak pada lingkaran hipokritas (kemunafikan).
Pemuda dewasa ini diharapkan pada realitas-realitas yang terkait dengan idealisme, kompleksitas tantangan, ragam referensi, dan posisinya ditengah pergeseran nilai. Kemana arah kecenderungan mereka dalam menyikapi dan menentukan pilihan, tak lepas dari bagaimana pemuda mampu memposisikan diri. Disinilah terjadi pergulatan diseputar bagaimana nilai-nilai direinterpretasi dan direaktualisasi secara tepat, tak mengingkari semangat zaman.

Idealisme versus Pragmatisme
Secara obyektif dibalik idealisme atas sosok pemuda, terdapat banyak hal yang masih jauh dari harapan. Ada kalanya pemuda di puja-puja sehagai Â’pahlawanÂ’, tetapi di kala yang lain, pemuda dicela dan dinafikan. Dalam hal ini perlu dipahami, pemuda memang tidak bermakna tunggal, melainkan jamak (plural).
Secara ekstrim ada dua wajah berbeda. Ada sosok-sosok pemuda yang idealis, yang mencoba merealisasikan idealismenya itu ke konteks realitas. Lantas pemuda memainkan perannya yang nyata di tengah-tengah publik luas. Sosok-sosok pemuda seperti ini, tentu tergolong sebagai sosok-sosok yang dinanti-nantikan kehadirannya. Sebaliknya, ada pula sosok-sosok pemuda yang loyo. Yang tergerus oleh penyakit-penyakit zaman, yang menyerah dan terlindas oleh kereta api sejarah. Mereka tidak berperan, sebab telah menjadikan dirinya sebagai bagian dari penyakit sosial. Tidak sedikit pemuda yang terjerat narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), terjerat oleh kriminalitas, dan perbuatan jahat dan fatal lainnya. Tentu saja ini merupakan sebuah sisi gelap dari sosok pemuda.
Sesungguhnya, yang perlu diprihatinkan lebih serius juga adalah, konteks cara pandang dan cara berpikir kalangan muda. Penyakit-penyakit sosial yang kelihatan tersebut akan diperparah oleh kekeliruan cara pandang (paradigma) dan cara berpikir, dalam merespon dan menyikapi sesuatu secara dewasa. Cara pandang, cara berpikir yang salah akan berimbas pada cara bertindak yang salah, dan sebentuk gaya hidup yang salah pula. Gaya hidup yang salah inilah yang memunculkan penyakit sosial, di mana pemuda loyo “tak berguna”. Cara pandang, cara berpikir, dan cara bertindak yang salah itulah pragmatisme. Demikian fatal adanya.
Singkat kata, dua wajah yang berbeda itu adalah idealisme versus pragmatisme. Kondisi eksternal yang ada saat ini, di tengah derasnya globalisasi, ditambah dengan situasi multikrisis yang tak kunjung reda, kita masih berada di terowongan gelap, dan belum tahu kapan pintu keluarnya, tampak sekali lebih banyak mendukung aksi-aksi pragmatisme.
Tawaran-tawaran jalan pintas untuk mengelola hidup secara praktis ditawarkan, walaupun hanya sebatas angan-angan. Tatkala jalan pintas menjadi pilihan utama untuk menuntaskan banyak hal, maka, banyak hal yang lebih krusial, lebih penting dan maknawi ditinggalkan dan diabaikan. Nilai-nilai kewajaran hidup tergeser oleh “ideologi pragmatisme”. Sementara, idealisme makin menjadi hal yang langka, terkepung oleh pesan-pesan pragmatisme, yang sedemikian mengujam dan menukik (demikian ofensif). ***

Oleh Masad Masrur