The Clash of Fundamentalisms
Buku : The Clash of Fundamentalisms Crusades, Jihads and Modernity
Pengarang : Tariq Ali
Penerbit : Verso UK: 6 Meard Street, London W1F 0EG USA: 180 Varick Street, New York NY 10014-4606
www.versobooks.com
Tariq Ali, penulis buku ini, bermaksud menulis tentang Islam, penemuan mitos-mitos, asal-usulnya, sejarahnya, kulturnya, kekayaannya dan sebagainya. Mengapa Islam belum mengalami Reformasi? Mengapa pula Islam menjadi begitu membatu? Apakah penafsiran-penafsiran al-QurÂ’an sebaiknya menjadi hak prerogatif eksklusif para sarjana religius? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah isu-isu yang dieksplorasi dengan harapan agar mampu mendorong diskusi dan perdebatan lebih jauh di dalam dan di luar dunia Islam.
TARIQ ALI, dalam bab pertamanya, mengisahkan bahwa dirinya tidak pernah betul-betul percaya kepada Allah. “Saya tidak pernah betul-betul percaya kepada Allah” tulis Tariq Ali. “Bahkan untuk seminggu pun, bahkan tidak di antara usia enam dan sepuluh tahun, saat mana ia adalah seorang agnostik. Ketakpercayaan ini adalah naluriah,” lanjutnya. Ali yakin tidak ada apapun yang lain di luar sana kecuali ruang. Menurutnya ada beberapa keuntungan dalam diri seseorang yang tidak beriman: diancam dengan sanksi-sanksi Tuhan tetap membuatnya bergeming. Biarlah Dia melakukan sanksiNya yang terburuk, dan berfikir adalah kepasifan padaNya inilah yang memperkuat keyakinan Tariq Ali pada ketakhadiran-Nya.
Seperti yang ditulisnya, Tariq Ali menganggap orang tuanya juga bukan orang beriman. Agama hanya memainkan peran kecil dalam rumah tangga mereka di Lahore. Meskipun diantara keluarga besarnya ada yang sedikit beriman, mereka tidak berani terang-terangan, dan cenderung malu malu, bahkan tutup mulut. Pada tiap kali bulan Ramadhan, mereka dan penduduk sekitarnya nampak seperti sedang berpuasa, tetapi cafée-cafee tetap marak di Lahore. “Sulit rasanya bekerja keras di siang hari tanpa makan dan minum, Bulan Ramadhan adalah bulan terpanas diantara bulan-bulan lainnya tiap tahun. Anehnya, ketika hari raya Idul Fitri datang, maka seluruh keluarga dan masyarakat ikut merayakannya.”
Suatu hari di musim gugur tahun 1956, ketika Tariq Ali masih 12 tahun, ia mendengarkan pamannya ‘membentak’ orang tuanya untuk memberikan ’kesempatan’ belajar agama kepada Tariq Ali. Dan beberapa bulan kemudian, seorang tutor didatangkan oleh orang tua kepada Tariq Ali untuk memberinya pelajaran al-Quran dan teks-teks suci. Namun, suatu saat Nizam Din sang guru tutor, justru jenuh mengajarkan ayat-ayat al-Quran. Waktu mengajarnya habis untuk mendiskusikan dan menceritakan sejarah pada Tariq Ali: tentang perjuangan nasionalis melawan penjajah Inggris, asal-usul terorisme di Bengal dan Punjab, heroisme teroris Sikh Bhagat Singh yang telah melemparkan bom di Majelis Legislatif Punjab untuk memprotes perundang-undangan yang represif. Nizam Din menceritakannya dengan heroik, ia mengagumi Sikh Bhagat Singh yang sungguh ditakuti Inggris. Selanjutnya Nizam Din menceritakan betapa indahnya kampung halamannya yang dihuni oleh beragam penduduk yang beragam kepercayaan, Hindu, Sikh, Islam, Nasrani dan lain-lain yang mampu hidup berdampingan. Sepanjang tahun Tariq Ali belajar pada Nizam Din tentang politik dan kehidupan plural. Seringkali pula Tariq Ali membandingkan dengan pelajaran yang diperolehnya di sekolah.
Suatu hari, pamannya, yang dulu pernah mengusulkan pada orang tua Tariq Ali agar Tariq Ali belajar al-Quran, datang dan menceritakan ‘Islam’. Namun, keterangan yang disampaikan sang paman, menurut Tariq Ali justru menjemukan; pamannya hanya menyampaikan sejarah heroisme masa lampau, hukum Allah, dan cerita tentang Muhammad yang diangkat menjadi nabi karena tingkat ketinggian ketuhanannya. Kejengkelan sang paman pada Ali meningkat, sebab Ali begitu dongkol mendengar cerita-cerita seperti itu. Bahkan komentar Ali pada pamannya, Islam (yang diceritakan pamannya) bukanlah agama. Dan pamannya mencap Ali sebagai anak yang memang memiliki gen tidak beriman.
Beberapa tahun kemudian, Ali tiba di Inggris untuk belajar. Ia menemui banyak tokoh rasional. Segera, Ali bergabung dengan kelompok Humanis di FresherÂ’s Fair di Kampusnya. Namun Ali segera sadar, ternyata kelompok Humanis hanya Â’menyayiÂ’ untuk orang Muslim dan Katolik. Akhirnya Ali mengubah pandangan tentang Islam ketika Perang Teluk berlangsung (1990). Perang Teluk hadir disertai dengan gelombang propaganda anti-Arab yang kasar. Tingkat ketidakpedulian yang diperlihatkan oleh kebanyakan kalangan terpelajar dan politisi begitu menyedihkan. Ali mulai mengajukan pertanyaan pada diri sendiri yang hingga saat itu, nyaris tidak relevan. Mengapa Islam tidak reformis? Mengapa Kekaisaran Utsmani tak tersentuh oleh pencerahan? Sebuah jawaban yang mengharuskan waktu lama di perpustakaan.
Sejak itu Tariq Ali mulai mengkaji Islam secara serius dan obsesif, dan belakangan ia melangkah ke daerah kajian benturan dengan peradaban Barat. Namun, Tariq Ali kini bukan hanya menulis tentang benturan antar fundamentalis peradaban yang kaya dengan materi-materi dan rujukan yang tidak mudah didapat, tetapi gaya kepengarangannya yang sangat ‘novelis’ membuat tulisannya di buku ini enak dibaca. Ali juga menulis novel-novel historis antara lain ‘Islam Quintet’: Shadows of the Pomegranate Tree, The Book of Saladin, The Stone Woman, dan The Night of Golden Butterfly.
***
Kisah diatas menjelaskan bahwa liku seorang anak muslim yang terlahir dari ‘kerancuan’ peradaban memunculkan ‘pemahaman lain’ dari pemahaman religius masyarakat muslim disekitarnya. Ali melihat Pamannya yang begitu membanggakan doktrin agama justru berada ditengah-tengah keluarganya yang tidak begitu beriman. Yang akhirnya mampu memberi penjelasan kepadanya bahwa ‘ada kekeliruan’ pelaku agama terhadap agamanya, justru ketika ia mulai mengenal kelompok Humanis dan Propaganda Anti-Arab.
Ali mendapati, para mullah, khususnya yang ‘kampungan’, adalah sasaran ejekan yang secara luas dianggap sebagai tidak jujur, munafik dan malas. Secara luas dipercaya bahwa mereka memelihara jenggot dan jalan ini bukan karena mereka terilhami oleh gairah spiritual, tapi untuk memperoleh sebuah keuntungan; selain bertahan di Masjid, mereka tergantung pada sumbangan-sumbangan sukarela, honor mengajar al-Qur’an dan makanan gratis. Pendeknya, Ali mendapati praktik–praktik yang dilakukan oleh sebagian mullah, justru tidak mencerminkan ajaran religius seperti yang ia dapatkan dari tutornya, Nizam Din.
Namun, Ali tetap tidak bisa meninggalkan ‘akar’ agamanya, sejauh apapun ia mengaku (pernah) atheis. Teman-temannya di kelompok Humanis, sebuah kelompok yang meneriakkan “Bebas bersama Tuhan”, justru memberikan pandangan bahwa sasaran kelompok ini adalah Muslim dan Katolik. Sebab kalangan Hindu, Sikh, Yahudi dan Protestan tidak memperhatikan paradigma kelompok Humanis tersebut. Dan yang makin membuat pandangan Ali terhadap Islam, agama asalnya, berubah adalah ketika episode perang minyak (Oil War) dimulai sejak 1967 ketika Israel bertempur melawan Mesir di Sinai. Kehebatan Israel pada Perang Teluk (Perang Minyak I) tahun 1967 melawan Israel yang dibantu Amerika, Persatuan Nasionalisme Arab kalah. Dan kini yang didapati hanyalah ketidakpedulian para terpelajar dan politisi terhadap Arab, khususnya Islam.
Pertanyaan, mengapa Islam tidak melakukan reformasi dan sebagainya muncul kembali di benak Tariq Ali. Ia berusaha mendapatkan jawabannya di perpustakaan selama berbulan-bulan. Kerancuan pemikiran Islam dan kelakuan penganutnya terhadap ajaran agamanya memperkuat pandangannya; Fundamentalisme berawal dari pemahaman pelaku agama terhadap ajaran agamanya.
Pandangan kultur Islam terhadap perempuan misalnya. Ayat QurÂ’an tentang perempuan memberikan penafsiran yang lebih longgar dan tidak menyisakan ruang bagi perempuan: Laki-laki punya wewenang atas perempuan karena Allah telah membuat yang satu lebih unggul dari yang lain (QS 4:43). Begitu juga dengan hadits yang memberikan gambaran; nabi melihat neraka yang dihuni oleh kebanyakan kaum perempuan tatkala sedang ber-IsraÂ’ MiÂ’raj, telah dipercaya oleh sebagian umat diucapkan oleh nabi. Juga begitu besarnya hak suami terhadap istri, sehingga ada hadits, Â’jika diberikan wewenang kepadaku untuk menyembah selain Allah, yang pasti saya akan meminta perempuan untuk tunduk dan menyembah kepada suaminyaÂ’. Dan angapan ini menjadi bagian dari kultur Islam.
Atau Khilafah Utsmaniah di Turki yang tidak reformis, kesenangan terhadap bid’ah (terutama bid’ah yang dilakukan kaum syiah), adalah fenomena pemahaman muslim yang berkembang dan mengakibatkan Islam menjadi begitu membatu. Serta otoritas sarjana muslim yang seolah satu-satunya yang berhak menafsirkan ajaran Islam. Juga memberikan pandangan putus asa sehingga benih-benih fundamentalisme Islam tumbuh dan akhirnya berbenturan dengan akar ’fundamentalisme lain’ dalam “The Clash of Fundamentalisms”.
***
Sejarah Imperialisme Amerika berlangsung amat lama, sejarah inilah yang membentuk Fundamentalisme mereka hingga ‘dibenci dunia’. Sejarah migrasi dan penaklukan telah berlangsung selama ribuan tahun. Kebanyakan dari dunia modern adalah produk imigrasi dan imperialisme. Selama dua setengah abad, swasembada (self-sufficient) Amerika, adalah tempat dimana bekas peradaban Eropa.
Awalnya adalah Fudamentalisme religius, dimana umat Kristen menyeberang akibat tekanan yang terjadi atas paham protestan mereka. Kemudian munculah pengungsi (imigran) politis yang menghidari penyiksaan di Eropa, dan fase berikutnya adalah berebut emas di tanah Â’kosongÂ’. Kombinasi inilah yang potensial untuk menyebut sejarah Imperialisme Amerika terhadap tanah Indian, meskipun sesungguhnya ada kombinasi lain yang betul-betul ingin menjarah kekayaan bumi Amerika dengan pemusnahan penduduk pribumi dan perdagangan manusia (perbudakan) bersenjata atas orang-orang pesisir Afrika.
Pemusnahan inilah yang terjadi, dan dengan bangga diceritakan oleh para sarjana liberal, merekapun mengakui bahwa teknologi pemusnahan masal terhadap penduduk indian adalah bukti keunggulam mereka dalam merebut Â’negeri perawanÂ’. Seperti yang pernah disampaikan oleh Presiden Conan dari Harvard University, 1948, di Herald Tribune Forum:
Pada awalnya, bangsa ini, tidak seperti kebanyakan bangsa yang lain, tidak dibentuk dari sebuah negara yang dibangun berdasarkan penaklukan militer. Sebagai akibatnya dimanapun kita tidak memiliki ide tentang aristokrasi dari para penakluk dan diberi hak untuk berkuasa secara bawaan. Sebaliknya kita telah membangun kebesaran kita dalam suatu periode dimana suatu masyarakat yang senantiasa bergerak menyebari benua yang kaya dan kosong.
Anggapan benua Amerika kosong adalah sangat picik. Pemusnahan terhadap penduduk indian dan pencurian besar atas tanah yang mereka miliki amat nyata, dan tidak satupun justifikasi yang disampaikan oleh fundamentalisme Protestan. Pemetaan ulang Amerika Utara dipenuhi dengan daftar nama-nama penduduk Indian yang dimusnahkan. Bahkan di daerah aman di Wyoming, penduduk Indian Katolik juga dibantai, belum lagi daerah Pennsylvania, Arizona, colorado Cheyennes dan lain-lain.
Sementara, Fundamentalisme Katolik memerankan peran serupa dalam penaklukan Spanyol terhadap Amerika Selatan, walaupun kebijakan-kebijakan mereka lebih berbeda. Mereka tetap saja dibunuh, diperbudak dan dibiarkan mati dalam jumlah besar, tapi mereka juga dibaiat sebuah kampanye konversi massa pada Katolik. Di Mexico, Bolivia, Peru dan Ekuador populasi Indian memang masih mayoritas. Tetapi di Argentina, penduduk India benar-benar dimusnahkan. Di tempat lain diciutkan melalui munculnya elit-elit mestizo, yang didominasi oleh orang-orang keturunan Spanyol. Perang-perang penaklukan kembali di semenanjung Iberia, yang diikuti oleh pengusiran massa dan konversi-konversi yang dipaksa atas Amat Islam dan Yahudi Spanyol dan melatih dan menyiapkan para pejuang fundamentalis yang menaklukkan Amerika Selatan.
Manifestasi paling awal penjajahan Amerika terlihat pada abad ke-19, pertama dalam hubungannya dengan Amerika Latin, belakangan di pasifik dengan penaklukan Filipina dan Jepang. Dan akhir Perang Dunia II, Amerika muncul sebagai pemenang ekonomi atas dua perang dunia itu. Ekonominya sendiri berhasil lebih dari sebelumnya: Sangat kaya dengan bahan-bahan mentah, menikmati keseimbangan yang lebih besar antara industri dan pertanian, keseimbangan geografi dan demografi yang memungkinkannya mempraktikan ekonomi terukur di daratan yang tidak diganggugugat. Peran polisi dunia yang dipikul oleh Amerika Serikat setelah perang Dunia II telah memiliki pengaruh besar secara domestik. Ia menciptakan sebuah senjata ekonomi permanen yang merangsang industri berat dan mendorong riset dalam elektronik, pesawat terbang, kimia dan ruang angkasa. Industri ini menghasilkan barang-barang yang pembeli tunggalnya adalah Amerika. Kemenangan inilah yang terus berlangsung hingga encaman ideologi sosialis kembali mengancam dan Amerika mendapatkan pelajaran berharga dari Vietnam (1975), setalah sebelumnya harus melewati banyak ketegangan dengan Cina, Cuba dan Korea. Kemenangan rakyat Vietnam pada April 1975 menciptakan sebuah gelombang euforia di empat benua lainnya. Di Afrika Selatan, Amerika Tengah dan Semenanjung Iberia muncul perasaan revolusioner atas kemenangan itu.
Pasca Perang dingin dengan ditandai runtuhnya tembok berlin, dan bangkrutnya Uni Sovyet seolah memberikan kemenangan nyata pada Kapitalisme Global. Dengan jatuhnya kominisme, para intelektual negeri Amerika mulai memperdebatkan masa depan yang gilang gemilang. Kemenangan ideologis dan ekonomis telah lengkap, tapi apakah dunia telah benar-benar bebas konflik? Pada musim panas 1993, Samuel P. Huntington mempublikasikan artkelnta “The Clash of Civilisations” di Jurnal Foreign Affair, yang segera menalakan kontroversi global. Sebagaimana Huntington kemudian uraikan, artikel itu menyentak pikiran orang-orang pada setiap peradaban. Tesis Huntington menegaskan bahwa sementara keruntuhan komunisme telah membawa pada sebuah akhir seluruh perselisihan ideologis. Untuk selanjutnya, budaya, dan bukan politik atau ekonomi, adalah yang akan mendominasi budaya dan membagi dunia.
Dia mendaftar ada delapan budaya: Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Slav-Ortodok, Amerika Latin, dan (barangkali) Afrika. (Ia ragu terhadap Afrika, apakah Afrika betul-betul beradab). Masing-masing peradaban ini membentuk sistem-sistem nilai yang berbeda yang disimbolkan oleh agama. Yang oleh Huntington tegaskan adalah; Â’barangkali kekuatan utama yang memotivasi dan memobilisasi pendudukÂ’. Pembagi utamanya adalah Â’Barat melawan selainnyaÂ’, karena hanya Barat yang menghargai individualisme, liberalisme, konstitusionalisme, hak-hak asasi manusia, kesejajaran, kebebasan, aturan hukum, demokrasi dan pasar bebas. Karena itu, Barat (Amerika Serikat) harus bersiap untuk secara militer menghadapi ancaman-ancaman dari persaingan antar-peradaban. Dua peradaban yang sangat mengancam adalah, (barangkali) Islam dan Konfusius (minyak dan eksport Cina), dan jika dua peradaban ini bersatu, mereka akan merupakan sebuah ancaman pada eksistensi peradaban pusat (Barat). Huntington menyimpulkan berdasarkan catatan seorang yang sinis: Â’dunia tidaklah satu, peradaban menyatukan dan membagi manusia... darah dan keyakinan adalah sesuatu yang manusia identifikasi dan perjuangkan serta mati untuknyaÂ’. Dan para fundamentalis (Barat) tidak punya masalah dengan pernyataan Clash of Civilization ini.
***
Banyak yang tercengang ketika menara kembar WTC diledakkan. Sebagian kagum pada sikap nekat pelakuknya, sebagian lagi kaget dan senang karena serangan itu dianggap menghujam simbol dominasi ekonomi Barat, walaupun tentu banyak yang prihatin dan mengutuk kajadian itu. Seperti menemukan momentumnya, banyak kalangan yang selama ini tidak puas, kecewa dan bahkan benci terhadap arogansi Amerika, menyatakan dukungan terbuka kepada para pelaku yang secara faktual maupun legal, hingga saat ini, belum terbukti.
Serangan 11 September ini lalu menjadi ‘alasan sah’ Amerika untuk menghancurkan Afganistan yang dituduh melindungi Osama bin Laden, orang yang dituduh berada di balik serangan tersebut. Afganistan kemudian menjadi medan yang sah sebagai ladang ujicoba ‘kekejaman’ alat perang modern, dan sekalipun Osama, si target utama, tetap tidak tertangkap, operasi dihentikan setelah Amerika meruntuhkan pemerintahan Taliban. Berikutnya, tentu saja, Irak dengan target meruntuhkan pemerintahan Saddam Hussein dan menggantikannya dengan pemerintahan ‘beradab’ agar tidak mengganggu dominasi dan kepentingan Amerika.
Dalam dua kasus ini saja, tetaplah rakyat, hak-hak, dan kekayaan serta kehormatan sipil yang sepenuhnya menjadi korban. Dan setiap serangan Amerika selalu ditandai dengan korban sipil dengan jumlah dan kerusakan luar biasa. Serangan dengan dalih memerangi terorisme dunia ini tidak kemudian menjadikan dunia makin aman, justru sebaliknya, kebencian kepada Amerika semakin meningkat. Dalam kaitannya dengan dua kasus ini, rasa kemanusiaan kita dengan jernih patut bertanya: siapa sebenarnya yang teroris?
Ketegangan antara Barat dan Timur, ini lebih tepat ketimbang menyebut agama tertentu, sebenarnya adalah ketegangan antar fundamentalis agama. Jika Osama bin Laden cs dianggap mewakili fundamentalis Timur, maka CBR (akronim yang diberikan Ali untuk Cheney-Bush-Rumsfeld) adalah representasi fundamentalis Barat. Dalam benturan ini, sebenarnya dominasi dan eksploitasi adalah motif utama yang kerap disembunyikan di balik agama sebagai instrumen yang ampuh yang dieksploitasi untuk mendukung keyakinan-keyakinan pribadi. Walaupun keyakinan itu pada kenyataanya diperoleh dari ‘pemahaman’ mereka atas ajaran agamanya.
Tariq Ali berargumen bahwa ‘fundamentalisme’ yang paling berbahaya saat ini, ‘induk dari semua fundamentalisme’ adalah imperialisme Amerika. Yang tampak jelas adalah bahwa para pemimpin Amerika ingin diadili berdasarkan musuh-musuh mereka, yang mereka pilih sendiri, daripada keadaan dunia yang sebenarnya. Secara psikologis, Amerika telah membangun sebuah musuh baru: terorisme Islam.
Apakah alasan bagi ‘perang melawan teror’? Bagi Barat, hidup ini tidak berarti apapun dibandingkan dengan warga Amerika yang meninggal di New York dan Washington.
Bagaimanapun, walau semua ini terjadi, tujuan utama operasi militer, yang adalah untuk menangkap (hidup atau mati) Osama bin Laden dan para sekutunya, dan penghancuran fisik al-Qaida. FBI dan CIA sendiri justru menyimpulkan bahwa perang di Afghanistan telah gagal mengurangi ancaman terhadap Amerika. Perang itu malah mempersulit usaha-usaha melawan teroris karena penyebaran para penyerang potensial lintas wilayah yang lebih luas.**
Masad Masrur/Redaktur Pelaksana Elcendikia
